Manuver China di Sekitar Natuna

Angkatan Laut China (REUTERS/Xinhua/Zha Chunming)

Pekan lalu beredar kabar China sudah menyiapkan armada kapal perang baru untuk bergabung dalam barisan armada perang Negeri Tirai Bambu.

Kekuatan Angkatan Laut China bisa dipetakan menjadi tiga bagian:

1) Armada Laut Utara dengan pangkalan di Laut Kuning dan markasnya di Qindao, Provinsi Shandong.

2) Armada Laut Timur pangkalannya di Laut China Timur dengan markas di Ningbao, Provinsi Zhejiang.

3) Armada Laut Selatan pangkalannya di Laut China Selatan dan markasnya di Zhanjiang, Provinsi Guangdong.

Dalam survei dua pekan lalu, rakyat China bahkan percaya armada Angkatan Laut mereka mampu mengalahkan pasukan Amerika di Laut China Selatan. Wilayah di Laut China Selatan, termasuk Kepulauan Natuna, selama ini menjadi sumber perebutan negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Brunei, Taiwan, dan Indonesia.

Dalam survei dilakukan oleh Pusat Perth USAsia, lembaga peneliti Indo-Pasifik, sebanyak 86 persen rakyat Negeri Panda meyakini armada perang mereka mampu menguasai Laut China Selatan.

Dan ketika ditanya jika militer Amerika campur tangan di Laut China Selatan, sebanyak 74 persen responden menyatakan armada perang China tetap mampu mengalahkan Negeri Paman Sam itu.

Apa saja manuver militer China di Laut China Selatan? Berikut ulasannya.

1. Perluas jangkauan kapal patroli

Armada kapal perang China rutin berpatroli di Laut China Selatan. Mereka sekaligus menggelar latihan perang di wilayah yang menjadi sengketa dengan beberapa negara Asia Tenggara itu.

Dalam pelatihan itu mereka mengasah kemampuan bermanuver, pengawalan, respon cepat, dan perlindungan.

Harian China Ocean tahun lalu mengabarkan China telah menempatkan kapal patroli sipil berbobot 5.000 ton di perairan Laut China Selatan. Kapal itu ditempatkan di Sansha, Kepulauan Paracel.

Negeri Tirai Bambu itu secara bertahap akan membangun sistem patroli reguler di Sansha guna melindungi kepentingan maritim mereka.

Patroli oleh pihak China di Laut Cina Selatan umumnya dilakukan oleh kapal-kapal patroli sipil, meskipun angkatan laut China secara rutin melakukan latihan militer di sana.

Salah satu fokus dari patroli tersebut adalah operasi pencarian dan penyelamatan serta “respon cepat, tertib dan efektif untuk keadaan darurat di laut”.

2. Bangun Pangkalan dekat Kepulauan Natuna

Merdeka.com – Langkah China mengklaim secara sepihak Laut China Selatan membuat gerah bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara, mulai dari Vietnam, Filipina, bahkan Indonesia. Guna mendukung klaim tersebut, ternyata China secara diam-diam membangun benteng di lautan yang kini menjadi sengketa sejumlah negara.

Hal itu terungkap dalam sebuah foto satelit yang disebarkan salah satu media di Amerika Serikat, Vox. Dalam foto tersebut, terlihat Angkatan Laut China tengah mengirim peralatan pembangunan terhadap sebuah pulau kecil di tengah laut, dan dengan cepat membuatnya lebih besar dibanding ukuran sebelumnya.

Vox meyakini, foto tersebut diambil dari Gugusan Karang dekat Kepulauan Spratly, di mana lokasi tersebut masih menjadi lokasi sengketa antara China, Filipina dan Vietnam. Gambar ini diambil dari Airbus Defence and Space pada 14 November 2014 lalu, dan dibeberkan ke publik awal maret ini.

Dalam foto pertama memperlihatkan kondisi karang akhir Agustus. Ketika itu, seluruh badan pulau seluruhnya masih terendam air dan hanya terdapat sebuah beton yang dibangun AL China. Namun, pada foto kedua terjadi perubahan besar, di mana di lokasi yang sama lebar pulau menjadi 3.000 yard.

3. Tenggelamkan kapal asing melintas

Pada Mei tahun lalu pejabat Vietnam mengatakan kapal Cina menabrak dan menenggelamkan kapal ikan Vietnam dekat lokasi pengeboran minyak di Laut Cina Selatan.

Menurut penjaga pantai Vietnam, kapal ikan dikelilingi oleh 40 kapal Cina sebelum akhirnya diserang. Sekitar 10 nelayan yang ada di kapal itu sudah diselamatkan, seperti dilansir BBC, Mei 2014.

Hubungan Vietnam dan Cina semakin tegang dalam sengketa terkait Laut Cina Selatan.

Sebelumnya Cina telah memindahkan pengeboran minyak Haiyang Shiyou 981 ke laut yang juga diklaim oleh Hanoi, yaitu dekat Pulau Paracel.

Vietnam sudah melakukan protes atas tindakan itu.

Sejumlah insiden yang melibatkan kapal dua negara di perairan sengketa juga sudah terjadi beberapa kali.

Penolakan Cina untuk memindahkan pengeboran minyak memicu protes anti-Cina di Vietnam awal bulan Mei itu. Insiden itu menewaskan sedikitnya dua orang dan beberapa pabrik dibakar.

4. Kirim kapal induk Liaoning ke dekat Malaysia

Tak hanya darat dan udara, kekuatan laut China juga bak raksasa. Kekuatan tersebut tak lepas dari kepemilikan China atas sebuah kapal induk kelas Kuznetsov yang diberi nama Liaoning. Kapal buatan Uni Soviet ini mampu mengangkut 30-40 jet tempur dan mulai berdinas di AL China sejak 2012 lalu.

Di samping itu, China juga memiliki kapal tempur jenis frigat yang jumlahnya mencapai 47 unit, kapal jenis destroyer 25 unit, dan kapal jenis korvet 23 unit. Sedangkan kapal selam yang dimiliki China berjumlah 10 unit. (Merdeka.com).