Scenario Preemptive strike at Worst level (1) – Garuda Asia VI

F 111 – Aardvark milik Australia

Hubungan antar dua negara, Indonesia dan Australia termasuk hubungan yang boleh dibilang cukup unik. Kedua negara ini merupakan tetangga yang sangat berdekatan.

Pasang surut hubungan kedua negara ini bagai tokoh Cartoon Tom & Jerry, meski sering bermusuhan namun terkadang saling membutuhkan. Hubungan masyarakat kedua negara sebenarnya cukup baik bahkan ada beberapa warga kedua negara menemukan pasangan hidupnya di Indonesia atau sebaliknya. Namun karena faktor Diplomatik, Politik terlebih di bawah Pemerintahan yang pongah dan rakus akan sumber kekayaan alam maka hubungan kedua negara ini bisa rusak dan pada akhirnya rakyat pula yang menderita.

Bomber TU 16 Badger – Rudal AS-1 Kennel

Dengan alasan kepentingan politik sebenarnya para perencana militer Australia pernah beberapa kali mau membombardir Indonesia. Namun dikarenakan politik bebas aktif maka Indonesia juga memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama. Hal ini pernah dialami oleh kekuatan AURI saat menjalankan Operasi TRIKORA tahun 1962 dengan bantuan Uni Sovyet yang memberikan dukungan pengadaan bomber Tupolev TU 16 Badger.

Operasi Trikora merupakan perintah langsung dari Presiden Soekarno, dalam pidatonya dengan lantang meminta kepada seluruh tentara dan rakyat Indonesia menggagalkan upaya pendirian negara Irian Barat bentukan Belanda. Semua pesawat ini direncanakan untuk menyerang Karel Doorman, kapal induk angkatan laut Belanda yang tengah berlayar dekat Irian Barat saat itu menggunakan rudal anti kapal AS-1 Kennel. Badger ini pula yang sering membuat Inggris yang bermarkas di Singapura dan Malaysia merinding ketakutan.

Australia pun pernah dibungkam ketika sebuah TU-16 milik AURI berhasil menjatuhkan makanan kaleng di Alice Springs yang berada di jantung benua kecil itu. Padahal pada tahun 1963 Australia memiliki sistem radar yang mampu mendeteksi gerakan hingga di balik cakrawala (Over The Horizon) serta rudal anti pesawat Bloodhound.


Buku “Australia and the Bomb” Karangan Christine M. Leah

Pada tahun 1960-an disaat paham komunisme tumbuh semakin kuat di China dan dikhawatirkan merembet dan menguasai Indonesia (Efek Domino) maka para analis dan perencana militer Australia menyusun rencana pemboman ke Indonesia. Pada April 1964 Sir Valston Hancock memberikan informasi kepada Menteri David Fairbairn bahwa dengan radius operasi 2700 kilometer bomber F 111 yang diterbangkan dari Darwin dapat melakukan serangan pemboman ke seluruh kota besar dan target militer di Irian Barat dan Jawa dengan 2500 kilogram bomb. Sementara serangan F 111 yang dilakukan melalui Learmonth lebih dekat 720 km ke jawa.

Dalam buku Australia and The Bomb disebutkan bahwa apabila China dan Indonesia dikuasai komunis maka diprediksi bakal memiliki senjata dan bom nuklir. Seiring dengan ditariknya kekuatan Inggris di wilayah Asia maka Australia berpaling ke Amerika dan meminta untuk diberi senjata dan bom nuklir dan direncanakan akan dilakukan pemboman menggunakan F111.

Berikut secuil kutipannya….In November 1964. The Australian Financial Review speculated that Indonesia was likely to acquire nuclear weapons….Australia must have a nuclear deterrent against both China and Indonesia. Maka dibentuklah penggiringan opini untuk melaksanakan operasi rahasia yang tentunya melibatkan CIA dengan tujuan menjatuhkan pemerintahan yang syah berkuasa saat itu. Opini dimaksud dapat kita tangkap dari kutipan berikut….The Indonesia military even claimed it had completed research into an ICBM capability and it could be produced if the necessary fund were made available. In November 1965, The State Departement reported that President Soekarno has decided that Indonesia should explode an atom bomb at an early date and eventually produce its own atomic weapons. Tentu saja hal ini membuat Amerika pusing migrain karena kepemilikan nuklir pasti akan membuat situasi keamanan kawasan tidak stabil.

Artikel rencana Pemboman F111 Australia dengan target Jakarta

Dalam situs http://www.telegraph.co.uk juga pernah memuat berita “Australia was set to bomb Jakarta in Timor conflict.” Pada masa pengaruh komunisme di Timor Timur semakin menguat maka perang Perang Proxy dilancarkan oleh Amerika dan Australia dengan menjadikan Indonesia sebagai tumbal. Pasca tumbangnya pemerintahan Soeharto, goyahnya pemerintahan Habibie dan melemahnya daya pukul TNI saat itu maka pihak Australia menusuk Indonesia dari belakang dengan mendukung kemerdekaan Timor Leste dengan harapan mendapat bagian konsesi minyak. Dengan dalih militer Indonesia melakukan pelanggaran HAM maka aksi tindakan pemboman Jakarta oleh militer Australia diharapkan akan dianggap syah oleh dunia Internasional. Dengan kata lain posisi Indonesia bagai Habis Manis Sepah Dibuang.

Proyeksi Serangan F35 berbasis kapal LHD Canberra Class

Tulisan Adam Lockyer sebagaimana dikutip dalam “The logic of interoperability, Australia’s acquisition of the F-35 Joint Strike Fighter” …..In the early 1960s Indonesia was in the throes of an internal struggle against Communism, and there was a fear that Indonesia might be on course to become the Cuba of South-East Asia. If Indonesia turned Communist, then the possibility of Australia acquiring nuclear weapons was strong. The F-111 was to be the main delivery system. Carlo Kopp explained, “The F-111C, with the range to hit Jakarta flying from RAAF Learmonth in Western Australia, would have been the unstoppable nuclear delivery platform.”

Rencana Penggantian F 111 Australia

Memperhatikan sejarah pasang surut hubungan Indonesia dan Australia maka adalah kewajiban bukan saja pemerintah namun juga rakyat Indonesia untuk segera memiliki Alutsista yang memiliki daya Deterrent yang mumpuni. Australia sudah mengumumkan sebagai ganti F 111 yang sudah dipensiunkan digantikan dengan pesanan pesawat F 35 sebanyak 72 pesawat (mungkin hingga 100). Pesanan F35 ini terdiri dari berbagai type dan kemungkinan juga type F35C yang diproyeksikan untuk mengisi 4 Kapal Induk Serbu Canberra Class. Pesawat tempur lainnya yang dimiliki Australia diantaranya adalah 100 F/A-18 Hornet termasuk 24 F/A-18 Super Hornet dan 12 EA-18G Growler.

Melihat potensi ancaman mendatang maka Indonesia setidaknya minimal memiliki 2 skadron SU 27/30, 4 Skadron SU 35, 2 Skadron Strike Bomber SU 34, 1 Skadron SU 33 dan 1 Skadron Siluman SU T-50 PAK FA. Tulisan ini hanyalah pengungkapan secuil sejarah hubungan Indonesia – Australia dan skenario terburuk yang harus segera disadari dan diantisipasi segenap lapisan bangsa Indonesia.

Diposkan : Ayoeng_Biro Jambi