Konferensi Asia Afrika ke – 60 di Bandung

Sebanyak 24 kepala negara dipastikan hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika yang akan dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat pada 22-23 April 2015 mendatang. Saat ini, Indonesia masih menantikan konfirmasi kedatangan kepala negara lain dari undangan yang sudah disebar.

“Ada 85 negara, yang merupakan kepala negara per tiga hari yang lalu yang sudah konfirmasi 24 kepala negara,” ujar Staf Kantor Kepresidenan Yanuar Nugroho dalam jumpa pers di Gedung Bina Graha, Jumat (19/3/2015).

Namun, saat ditanyakan lebih lanjut soal kepala negara yang memastikan hadir itu, Yanuar mengaku tak memiliki datanya. Dia pun tidak tahu apakah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dipastikan hadir dalam KTT Asia-Afrika. Yanuar hanya mengungkapkan sudah ada 109 undangan yang disebar ke negara-negara Asia dan Afrika.

Menurut Yanuar, setiap saat jumlah kepala negara atau kepala pemerintahan yang hadir akan terus berkembang. Pihak yang bertanggung jawab soal undangan negara ini, kata dia, adalah Direktorat Jenderal Asia-Pasifik.

Seperti diketahui, KTT Asia Afrika kali ini mengangkat tema penguatan kerja sama negara-negara di kawasan selatan. Setidaknya ada empat acara utama yang akan dilakukan yakni Senior Official Meeting (SOM) pada19 April, pertemuan tingkat menteri 20 April, KTT Asia-Afrika 22-23 April, dan peringatatan KAA pada 24 April.

Acara akan dilakukan di dua tempat yaitu Jakarta dan Bandung. KTT Aasia-Afrika akan menghasilkan tiga dokumen yaitu Bandung Message, Declaration on Reinvigorating the New Asian-African Strategic Partnership, dan Declaration of Palestine. Sementara pada puncak acara peringatan KAA ke-60, seluruh kepala negara akan melakukan napak tilas perjalanan KAA pertama kali. (KOMPAS.com)

Semangat Konferensi Asia – Afrika Semangat Melawan Penjajah

Tahun 2015 ini, Konferensi Asia – Afrika ( KAA ) menginjak usia yang ke-60 tahun. Pertemuan besar KAA ini dipelopori oleh 5 negara yakni Indonesia , India, Sri Lanka, Pakistan dan Burma (Myanmar) pada tanggal 18 – 24 April 1955 di Kota Bandung .

Pada saat itu KAA dihadiri oleh 29 Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dari negara – negara Benua Asia dan Benua Afrika yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.

Dalam forum tersebut 29 negara yang hadir membahas berbagai masalah, seperti meningkatkan kerjasama Internasional di bidang ekososbud (ekonomi, sosial, budaya), hak asasi manusia, rasialisme ( perbedaan warna kulit ), perdamaian dunia serta kedaulatan suatu negara yang dirumuskan dalam sebuah resolusi yang diberi nama

Dahulu sebelum terjadinya Konferensi Asia – Afrika negara – negara yang mempelopori pertemuan ini adalah negara – negara yang dahulu merasakan rasa sakit yang begitu pedih baik secara fisik maupun non fisik dari penjajahan termasuk Indonesia.

Maka setelah Indonesia merdeka dalam sebuah pondasi berbangsa dan bernegaranya yang termaktub dalam Preambule Undang – Undang Dasar 1945 mengatakan “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.

Pada usia ke-60 tahun KAA ternyata perjuangan – perjuangan melawan penjajah belumlah usai melainkan lebih berat. Karena penjajahan hari ini berubah gaya menjadi lebih modern, lebih humanis namun ruh penjajahan masih sama dengan penjajahan zaman dulu.

Penjajahan zaman dulu dengan melakukan invasi menggunakan kekuatan senjata kepada negara yang akan dijajah. Penjajahan hari ini melalui ekonomi, mental dan pemikiran yang mengakibatkan kita akhirnya harus kembali dijajah tanpa harus invasi angkat senjata seperti zaman dulu.

Tentu dengan momentum memperingati KAA ke-60 tahun ini tidak hanya diisi oleh kegiatan – kegiatan yang bersifat ceremonial belaka hanya untuk mencari simpati dari rakyat Indonesia maupun Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara yang hadir nanti.

Peretemuan KAA tahun ini diharapkan dapat memperkokoh konsolidasi antar negara di Benua Asia dan Benua Afrika untuk melawan penjajahan gaya baru. Sehingga menjadi negara – negara yang merdeka secara hakiki serta mengaplikasikan secara menyeluruh resolusi DASASILA BANDUNG guna terciptanya perdamaian dan kesejahteraan di dunia. (FOKUSJabar.com)

Harapan Kemerdekaan Palestina pada Peringatan KAA

Bandung – Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) Ke-60 pada April 2015 akan menghasilkan tiga dokumen penting untuk perdamaian dunia atau “Bandung Message”, yang salah satunya adalah dukungan untuk Palestina atau “Declaration on Palestina”.

“Dukungan bagi kemerdekaan Palestina di Peringatan KAA Ke-60 nanti menjadi semacam harapan dan inspirasi bagi negara lain yang belum mendukung kemerdekaan Palestina,” kata Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran Bandung, Dudy Heryadi (21/3/2015).

Ia mengatakan dukungan tersebut bisa juga dikatakan menjadi “angin segar” bagi Palestina karena syarat pendirian sebuah negara itu selain harus ada wilayah, penduduk, pemerintahan juga harus ada pengakuan dari negara lain.

“Dan menurut saya, dukungan tersebut dampaknya akan sangat besar karena ini akan menjadi semacam dorongan bagi negara lain untuk ikut mengakui dan mendukung kemerdekaan Palestina. Ini bisa dikatakan sebagai stimulus kuat bagi negara lain untuk mendukung Palestina,” katanya.

Jika semakin banyak negara yang mendukung kemerdekaan Palestina, kata Dudy, maka harapan bagi negara di Timur Tengah, yang terletak di antara Laut Tengah dan Sungai Yordan ini untuk merdeka semakin besar.

“Apabila mereka sudah merdeka, otomatis akan banyak hal yang bisa dilakukan oleh Palestina seperti negara tersebut bisa mendaftarkan diri menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata dia.

Peran Indonesia untuk dukungan kemerdekaan negara Palestina, menurut dia, sangat besar dan hal tersebut sesuai dengan alinea pertama pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

“Kita (Indonesia) punya hubungan yang baik dengan Palestina, baik di tingkat pemerintahan ataupun tataran sosial kemasyarakatan. Contohnya organisasi Bulan Sabit Merah sudah membuat rumah sakit di sana, selain ada Dubes Palestina di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi saat melakukan rapat koordinasi menjelang Peringatan KAA di Kota Bandung, pekan lalu, mengatakan pada Peringatan Konferensi Asia Afrika Ke-60 akan dihasilkan tiga dokumen penting perdamaian dunia.

“Ketiga dokumen itu yang akan menjadi hasil KTT atau konferensi tingkat tinggi Asia Afrika dan komamerasi ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika pada tahun 2015,” katanya.

Dokumen penting yang disebut dengan “Bandung Message”, yakni Declaration of Reinviorating The New Asian-African Strategic Partnership (The NAASP), dan Declaration on Palestine.

The NAASP” yaitu penguatan solidaritas, persahabatan dan kerja sama; review perkembangan kerjasama NAASP 10 tahun terakhir; mendorong kerja sama konkret utamanya di delapan fokus area NAASP yaitu; menangkal terorisme, menangani kejahatan lintas negara, keamanan pangan, keamanan energi, industri kecil dan menengah, pariwisata, jaringan universitas Asia-Afrika, dan kesetaraan gender.

Terkait pesan yang ingin disampaikan pada Peringatan KAA Ke-60, kata dia, Indonesia ingin menyampaikan pesan kepada negara-negara yang akan hadir dalam peringatan tersebut mengenai upaya untuk memperkuat kerja sama negara Asia-Afrika untuk memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan kesejahteraan dunia.

“Negara kita siap menjadi pendorong negara-negara Asia Afrika dalam memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia. Dan ini sejalan dengan pesan yang diusung dalam peringatan KAA yakni Friendship and Cooperation sebagaimana pada Peringatan KAA tahun 1992 silam,” kata dia.

Pada Peringatan KAA Ke-60, Indonesia juga mencoba untuk membuka peluang kerja sama baru yang sifatnya triangular seperti kemungkinan kerja sama dengan United Nation Development Program (UNDP), dan kerja sama dengan beberapa negara lainnya.

Agaknya, KAA akan mengedepankan kerja sama yang baru, konkret dan “doable” (segera dapat diaplikasikan/dilaksanakan), yakni solidaritas politik: demokrasi, HAM, reformasi PBB, perdamaian dan sinergi organisasi regional.

Untuk kerja sama ekonomi berbasis maritim, berkelanjutan, konektivitas dan business mobility; sementara hubungan sosial budaya yaitu “people to people contacts”, pemberdayaan perempuan, media, mitigasi bencana, migrasi dan pemuda.

Hal yang juga penting adalah deklarasi untuk Palestina, yaitu dukungan secara konsisten terhadap pendirian negara Palestina dan hak-hak dasar warga negara Palestina. Dalam kesempatan itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan dukungan penuh negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika untuk kemerdekaan Palestina adalah sebuah keharusan dan keniscayaan.

“Kalau di Peringatan KAA Ke-60 nanti di Bandung semua kepala negara terus menyuarakan dorongan kemerdekaan untuk Palestina, maka kemerdekaan Palestina adalah keharusan dan keniscayaan, bukan kewajaran,” kata Ahmad Heryawan.

Setelah beraudiensi dengan Pejuang Palestina dan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) di Gedung Negara Pakuan Bandung, pria yang akrab disapa Aher ini mengatakan dalam situasi kekinian tidak rasional, tidak manusiawi, jika masih ada bangsa yang tertindas.

“Di dunia yang super modern, super rasional, tapi di hadapan kita masih ada bangsa yang tertindas,” kata dia.

Menurut dia, di antara semua negara peserta KAA hanya Palestina yang belum merdeka. “Tentu KAA ini punya makna, karena di antara negara-negara yang hadir di KAA pada tahun 1955, semua merdeka semua, kecuali Palestina,” kata Aher.

Oleh karena itu, lanjut dia, wajib hukumnya bagi negara-negara yang sudah merdeka untuk mendukung dan mendorong kemerdekaan Palestina secara penuh. “Ini adalah sebuah keprihatinan internasional yang harus kita tunjukkan kepada bangsa Palestina yang belum merdeka,” kata dia.

Menurut Aher, Palestina adalah negara yang dilindungi dan hal ini dibuktikan dengan sejumlah serangan yang dilancarkan “penjajah” tidak mampu memporak-porandakan Gaza yang merupakan sebuah wilayah kecil.

“Malah sebaliknya yang menyerang malah kesalahan, kecapaian, dan keluar banyak biaya. Ini kan sebuah fakta,” katanya.(wartaekonomi)

DASASILA BANDUNG

Kesepuluh prinsip yang dinyatakan dalam Konferensi Asia Afrika itu dikenal dengan nama Dasasila Bandung atau Bandung Declaration, yg dikutip di wikipedia.org

1. menghormati hak-hak dasar manusia, tujuan, serta asas yang termuat dalam Piagam PBB;
2. menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa;
3. mengakui persamaan ras dan persamaan semua bangsa, baik bangsa besar maupun bangsa kecil;
4. tidak melakukan intervensi atau ikut campur tangan dalam persoalan dalam negeri negara lain;
5. menghormati hak-hak tiap bangsa untuk mempertahankan diri, baik secara sendirian maupun secara kolektif sesuai dengan Piagam PBB;
6. tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dantidak melakukan tekanan terhadap negara lain;
7. tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi ataupun penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial atas kemerdekaan politik suatu negara;
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
9. memajukan kepentingan bersama dan kerja sama internasional;
10. menghormati hukum dan kewajiban internasional lainnya

UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA
TAHUN 1945
PEMBUKAAN

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang membahagiakan dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesai menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.