Tekanan pada Rupiah Belum Juga Surut

JAKARTA, Tekanan terhadap nilai tukar rupiah untuk bertahan di bawah level psikologis Rp 13.000 per dollar AS hingga kini belum juga surut. Selain di pasar modal, arus keluarnya dana investor asing juga terlihat di pasar sekunder surat berharga.

A Setyawan Aktivitas perdagangan obligasi di Global Markets Bank Permata, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sepanjang Maret ini terjadi penjualan Surat Utang Negara di pasar sekunder oleh investor asing senilai Rp 7 triliun.

Hingga Senin (30/3) petang kemarin, tekanan pada Surat Utang Negara (SUN) terlihat dengan kenaikan imbal hasil SUN 10 tahun sebanyak 9,6 basis poin (bps) atau sekitar 7,43 persen. Imbal hasil itu jika dilihat pada bulan Maret ini telah naik 36,9 bps, sementara jika dilihat sejak awal tahun ini masih positif, turun 36,5 bps.

Di pasar sekunder, jumlah transaksi SUN tercatat Rp 7,4 triliun, sedangkan surat utang korporasi hanya Rp 383 miliar. “Kepemilikan investor asing di SUN hingga 26 Maret 2015 senilai Rp 500,6 triliun atau sekitar 38,3 persen dari total outstanding SUN kita,” kata ekonom Mandiri Institute, Destry Damayanti, di Jakarta, Selasa (31/3).

Angka itu menyajikan fakta bahwa sepanjang Maret ini terjadi penjualan SUN di pasar sekunder oleh investor asing senilai Rp 7 triliun. Meskipun demikian, jika dilihat sejak awal tahun ini, terlihat investor asing masih memasukkan dananya di pasar SUN hingga Rp 39,3 triliun.

Dana investor asing terus keluar dari pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam tiga pekan terakhir. Kondisi ini diperkirakan ikut menekan posisi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga turun dibandingkan dengan pertumbuhan bursa saham di kawasan regional.

Merujuk data BEI, investor asing terakhir mencatat pembelian bersih pada pekan pertama Maret senilai Rp 993 miliar. Hal itu melanjutkan tren sejak awal tahun ini. Pada akhir Februari 2015, tercatat pembelian bersih investor asing Rp 10,61 triliun.

Namun, memasuki pekan kedua, investor asing cenderung mengurangi portofolio saham mereka di BEI. Pada pekan kedua, investor asing mencatat penjualan bersih senilai Rp 2,47 triliun. Keluarnya dana investor asing itu berlanjut pada dua pekan terakhir meskipun jumlahnya cenderung turun.

Pada pekan ketiga dan keempat bulan Maret ini, dana investor asing yang keluar dari BEI senilai Rp 1,99 triliun dan Rp 1,26 triliun.

Di pasar spot antarbank pagi ini, kurs rupiah kembali terkulai meski tipis. Rupiah diperdagangkan melemah 9 poin (0,07 persen) ke level Rp 13.084 per dollar AS pada pukul 09.45. Hari Senin kemarin, rupiah ditutup melemah 9 poin ke level Rp 13.075 per dollar AS.

“Belum surutnya permintaan dollar AS mendorong pelemahan rupiah. Investor asing yang terus keluar dari pasar saham domestik kian mengganggu pergerakan rupiah,” kata Kepala Riset & Analisis BNI Nurul Eti Nurbaeti.

Hari ini, dollar AS diperkirakan masih berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi menguat. Tingginya minat beli dollar AS juga menyebabkan BI terus menyuplai dollar AS untuk menahan pelemahan rupiah.

Pelaku pasar pun bakal memperhatikan pelaksanaan lelang SUN yang dilakukan Pemerintah RI dengan target indikatif Rp 10 triliun. Seri yang dilelang meliputi SPN03150701 (3Mo), SPN12160401 (1Yr), FR0070 (9Yr), dan FR0068 (19 Yr). Fokus juga tertuju pada ekspektasi tingkat inflasi yang akan dirilis pada Rabu (1/4) besok.

Menurut Nurul Eti, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diputuskan pemerintah pada akhir pekan lalu cenderung meningkatkan laju inflasi. BI memproyeksikan inflasi bulan Maret ini akan mencapai 0,27-0,3 persen secara bulanan. Sementara Bank Indonesia menganggap kenaikan inflasi masih dalam taraf normal.

Dalam rilisnya perihal pengumuman suku bunga acuan (BI Rate) terbaru bulan lalu, BI menyatakan bahwa pemulihan ekonomi global masih terus berlangsung, terutama ditopang oleh perekonomian AS yang semakin solid.

Pemulihan ekonomi AS didukung oleh konsumsi yang meningkat seiring dengan turunnya harga minyak dan membaiknya kondisi ketenagakerjaan. Konsumsi AS yang membaik tersebut diikuti oleh indikator produksi yang semakin meningkat.

Perekonomian AS yang solid itu semakin menguatkan arah normalisasi kebijakan moneternya meskipun waktu implementasinya masih diliputi ketidakpastian. Hal ini mendorong penguatan dollar AS terhadap hampir semua mata uang dunia serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Sementara itu, langkah quantitative easing dari Bank Sentral Eropa semakin memperlemah mata uang Euro, di samping dapat mengimbangi sebagian dari pengaruh kebijakan The Fed terhadap pergerakan arus modal global ke emerging markets.

Di sisi lain, perekonomian Tiongkok diperkirakan terus melambat seiring dengan penurunan investasi. Sejalan dengan itu, harga komoditas global, termasuk harga minyak, diperkirakan masih berada pada level yang rendah meskipun terdapat peningkatan dibandingkan dengan level terendahnya pada Januari 2015. (kompas.com)