Aku Anak Indonesia

Ali kumpulkan kayu bakar

Pagi itu, Ali yang masih berusia 6 tahun, menuruni anak tangga rumah bagian depan, untuk mengambil sejumlah ranting kayu bakar. Langkahnya menuruni anak tangga pun belum stabil, maklum usianya masih satu tahun di atas balita.

Setelah mengambil ranting, dia pun bergegas pergi ke dapur, menambah kayu bakar, agar api dari nasi yang dia masak tidak padam. Cahaya matahari menyorot dari celah celah papan rumah tua nan reyot, milik Ali, adik dan ibunya yang buta. Sesekali, Ali membuka tutup panci, untuk memastikan, apakah nasi yang dia tanak sudah matang. Maklum adiknya yang berusia tiga tahun harus makan, karena seharian belum makan.

Ali mengganti baju adiknya

Sambil menunggu nasi matang, Ali mengganti baju Adiknya, dengan baju yang bersih. Padahal di usianya yang 6 tahun, Alilah yang seharusnya dipakaikan baju oleh orang lain.

Ibu Ali yang buta, mengalami banyak kendala. Bahkan Alilah yang menuntun Ibunya pergi ke pasar, membelah rerumputan tinggi yang menutupi rumah mereka.

Jakarta – Kisah tentang Muhammad Ali, bocah 6 tahun yang menjadi tulang punggung bagi 3 anggota keluarga, mengundang simpati TNI AD. Adalah Komandan Distrik Militer (Dandim) 1402 Polewali Mandar Letkol Inf Dodi Triwinarno, yang berinisiatif membantu kehidupan keluarga Ali agar lebih layak.

“Awalnya memang pemberitaan media, begitu di-blow up langsung menyentuh Dandim. Kemudian langsung datang ke rumah anak ini dan langsung dibantu,” ucap Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Wuryanto kepada detikcom, Rabu (8/4/2015).

Wuryanto menjelaskan, Dandim dan prajuritnya datang ke kediaman Ali di Dusun Toerang Batu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang beberapa hari ini ramai jadi perbincangan orang. Mereka lalu berbicara dengan ibunda Ali yang bernama Ammi dan menanyakan tentang kesulitan yang dihadapi.

Ammi yang mengalami kebutaan dan ketulian, mencoba menjelaskan semampunya soal kondisi keluarga yang dihadapi. Termasuk nasib si Ali anaknya yang jadi tulang punggung keluarga. Meski ada kesulitan berkomunikasi, akhirnya perwakilan Kodim memahami yang dibutuhkan.

“Memang agak sulit (berkomunikasi), tetapi intinya dengan bahasa Mandar ternyata mereka nggak punya jamban atau kamar kecil. Kemudian dari situ langsung besoknya dibuatkan jamban, sekaligus rehab rumah,” terang Wuryanto.

Tak kurang dari satu pleton atau sekitar 30 prajurit TNI AD diterjunkan untuk membenahi rumah keluarga Ali. Tak hanya prajurit TNI, para isteri prajurit jajaran Kodim juga membantu dengan mengumpulkan sembako sebisanya.

“Jadi sehari sejak pemberitaan langsung dikerjakan selesai. Ada satu pleton sekitar 25-30 orang yang membantu,” ucap lulusan terbaik Seskoad tahun 2000 itu.

Wuryanto juga menuturkan, selain dari Kodam VII Wirabuana, pada hari yang sama rupanya ada utusan dari staf khusus Presiden yang juga ingin menemui keluarga Ali dan turut memberikan bantuan.

“Ada Stafsus Presiden dari Jakarta melihat ke sana. Beliau ke Kodim yang sedang selesaikan rehab rumah tahap akhir, lalu memberikan bantuan kepada anak ini difasilitasi Kodim,” imbuhnya.

“Jadi kalau bantuan kayak gitu memang kewajiban kita semua, apalagi kita TNI. Dandim dalam hal ini pejabat teritorial, salah satu tugas utamanya adalah membantu kesulitan masyarakat dan itu tercantum dalam kewajiban kita sebagai anggota TNI,” tutup Wuryanto. (Jakarta – Kisah tentang Muhammad Ali, bocah 6 tahun yang menjadi tulang punggung bagi 3 anggota keluarga, mengundang simpati TNI AD. Adalah Komandan Distrik Militer (Dandim) 1402 Polewali Mandar Letkol Inf Dodi Triwinarno, yang berinisiatif membantu kehidupan keluarga Ali agar lebih layak.

“Awalnya memang pemberitaan media, begitu di-blow up langsung menyentuh Dandim. Kemudian langsung datang ke rumah anak ini dan langsung dibantu,” ucap Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Wuryanto kepada detikcom, Rabu (8/4/2015).

Wuryanto menjelaskan, Dandim dan prajuritnya datang ke kediaman Ali di Dusun Toerang Batu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang beberapa hari ini ramai jadi perbincangan orang. Mereka lalu berbicara dengan ibunda Ali yang bernama Ammi dan menanyakan tentang kesulitan yang dihadapi.

Ammi yang mengalami kebutaan dan ketulian, mencoba menjelaskan semampunya soal kondisi keluarga yang dihadapi. Termasuk nasib si Ali anaknya yang jadi tulang punggung keluarga. Meski ada kesulitan berkomunikasi, akhirnya perwakilan Kodim memahami yang dibutuhkan.

“Memang agak sulit (berkomunikasi), tetapi intinya dengan bahasa Mandar ternyata mereka nggak punya jamban atau kamar kecil. Kemudian dari situ langsung besoknya dibuatkan jamban, sekaligus rehab rumah,” terang Wuryanto.

Tak kurang dari satu pleton atau sekitar 30 prajurit TNI AD diterjunkan untuk membenahi rumah keluarga Ali. Tak hanya prajurit TNI, para isteri prajurit jajaran Kodim juga membantu dengan mengumpulkan sembako sebisanya.

“Jadi sehari sejak pemberitaan langsung dikerjakan selesai. Ada satu pleton sekitar 25-30 orang yang membantu,” ucap lulusan terbaik Seskoad tahun 2000 itu.

Wuryanto juga menuturkan, selain dari Kodam VII Wirabuana, pada hari yang sama rupanya ada utusan dari staf khusus Presiden yang juga ingin menemui keluarga Ali dan turut memberikan bantuan.

“Ada Stafsus Presiden dari Jakarta melihat ke sana. Beliau ke Kodim yang sedang selesaikan rehab rumah tahap akhir, lalu memberikan bantuan kepada anak ini difasilitasi Kodim,” imbuhnya.

Ali mencari nafkah untuk adik dan ibunya yang buta

“Jadi kalau bantuan kayak gitu memang kewajiban kita semua, apalagi kita TNI. Dandim dalam hal ini pejabat teritorial, salah satu tugas utamanya adalah membantu kesulitan masyarakat dan itu tercantum dalam kewajiban kita sebagai anggota TNI,” tutup Wuryanto. (Detik.com).