Sumatera Terang Benderang Tahun 2025

Kompleks nuklir Fukushima Dai-ichi di Okumamachi, Jepang, 2011.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berkapasitas 5 ribu Megawatt (MW) di Bangka Belitung bisa beroperasi 2025. Kapasitas itu masih di bawah potensinya yang bisa mencapai 10 ribu MW.

“Asumsi bisa melistriki Sumatera, bisa jadi lumbung energi,” Kata Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto saat diskusi mingguan dihelat merdeka.com, Radio Republik Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Institut Komunikasi Nasional (IKN) bertajuk “Energi Kita: PLTN yang aman dan efisien untuk atasi krisis listrik”, Jakarta, Minggu (12/4).

Menurut Djarot, provinsi itu cocok untuk menjadi lokasi PLTN. Sebab, daerah tersebut bebas gempa bumi dan tsunami.

“Syarat pembangunan PLTN satu bebas kita kemungkinan kecil gempa sunami, jangan sampai bangun di Padang, Aceh,” pungkas dia.

Kendati demikian, kata Djarot, pihaknya masih menunggu keputusan dari Kementerian ESDM.

“Kalau teknis 5 ribu MW itu 2025, itu kami bisa bangun kalau white paper-nya dikeluarkan Kementerian ESDM. Karena kami tak punya kewenangan,” kata dia.

Tergantung keputusan Presiden

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bakal terus mendorong pemerintah untuk berani membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Masalahnya, keputusan untuk go nuklir atau tidak, itu ada di presiden. Sebelumnya sudah pernah disampaikan. Tapi belum ada jawaban. Nanti kalau ketemu lagi akan saya tanyakan,” ujar Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto saat diskusi mingguan dihelat merdeka.com, Radio Republik Indonesia, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), dan Institut Komunikasi Nasional (IKN) bertajuk “Energi Kita: PLTN yang aman dan efisien untuk atasi krisis listrik”, Jakarta, Minggu (12/4).

Sejatinya, menurut Djarot, masyarakat Indonesia sudah setuju dengan adanya pembangunan PLTN. Berdasarkan survei Batan, sebanyak 72 persen dari 5 ribu responden di Indonesia menyatakan bisa menerima PLTN.

“Kami adakan jajak pendapat oktober 2014 soal pemanfaatan energi nuklir ini. Hasilnya 73 persen masyarakat dukung. Demand dari listrik ke depan akan sulit dipenuhi. Tapi sekali lagi, asal presiden oke, PLTN pasti jalan,” pungkas dia.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengatakan Indonesia tak kekurangan ahli tenaga nuklir. Bahkan, sekitar 15 tenaga ahli Indonesia sudah ikut mengoperasikan sejumlah reaktor nuklir dunia.

Atas dasar itulah, menurut Nasir, Indonesia sudah siap untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

“Kemampuan sumber daya manusia luar biasa, ini yang dibutuhkan sudah tersedia,” ujarnya. (Merdeka.com).