Hari Ketiga Demonstrasi di Jalanan Myanmar

protes hari kedua myanmar

JakartaGreater – Ratusan pengunjuk rasa anti-kudeta berbaris di kota terbesar Myanmar, Yangon, pada Senin, 8/2/2021, yang merupakan hari ketiga demonstrasi di jalanan.

Demonstrasi itu menentang kudeta yang dilakukan militer Myanmar seminggu yang lalu di mana tentara menahan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.

Sekelompok biksu berjubah warna kunyit berbaris di barisan depan aksi protes bersama para pekerja dan mahasiswa.

Mereka mengibarkan bendera Buddha warna-warni di samping spanduk merah dengan warna Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) — partai Suu Kyi, kata seorang saksi mata.

“Bebaskan Pemimpin Kami, Hormati Suara Kami, Tolak Kudeta Militer,” demikian tulisan pada salah satu spanduk aksi protes itu. Banyak pengunjuk rasa mengenakan pakaian hitam, dikutip Reuters, dirilis Antara, 8/2/2021

Para penentang kudeta Myanmar menyerukan lebih banyak aksi protes dan penghentian pekerjaan pada Senin setelah puluhan ribu orang bergabung dalam demonstrasi pada akhir pekan.

protes di myanmar

Demo protes terhadap kudeta militer di Kota Yangon, Myanmar, Sabtu (6/2/2021), menuntut pembebasan  Aung San Suu Kyi. (Antara/Reuters)

Protes Hari Kedua

Protes yang melanda Myanmar pada Minggu, 7/2/2021 adalah yang terbesar sejak Revolusi Saffron 2007 yang dipimpin oleh para biksu Buddha yang membantu mendorong reformasi demokrasi yang terhambat oleh kudeta oleh militer pada 1 Februari lalu.

Ribuan orang turun di jalan-jalan pada hari kedua di kota terbesar Myanmar pada Minggu, 7/2/2021 untuk memprotes penggulingan kekuasaan sipil dan penahanan oleh junta militer terhadap pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi pekan lalu.

Para pengunjuk rasa di Yangon membawa balon-balon merah “warna yang mewakili Liga Nasional Suu Kyi untuk Partai Demokrasi (NLD)” dan meneriakkan, “Kami tidak ingin kediktatoran militer! Kami ingin demokrasi! ”

Menjelang tengah hari, sekitar 100 orang juga berkumpul di kota pesisir Mawlamine di tenggara dan mahasiswa serta dokter berkumpul di kota Mandalay.

Kudeta militer di Myanmar itu dikecam para pemimpin dunia juga Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres. Mereka mendesak pemimpin militer Myanmar melepaskan kekuasaan yang direbutnya dan membebaskan para politisi.

Militer berargumentasi bahwa pemilihan umum yang dimenangkan Aung San Suu Kyi itu berlangsung tidak jujur. Militer juga mendakwa Suu Kyi melakukan tindakan melanggar hukum dengan mengimpor handy talky secara ilegal.

Dalam pidatonya yang menyinggung soal kudeta di Myanmar, Presiden AS Joe Biden antara lain mengatakan tidak pernah diragukan lagi bahwa dalam sistem pemerintahan demokrasi, militer tak boleh membatalkan hasil pemilihan umum.

Leave a Reply