Eurofighter Typhoon dan PT DI

JakartaGreater / JKGR memang pernah menulis judul artikel yang agak lebay, yakni : “Welcome Eurofighter Typhoon TNI AU”, setelah mendapatkan dokumen pemaparan PT DI yang mengusulkan Eurofighter sebagai basis pengembangan pesawat tempur buatan Indonesia.

Spiritnya pada waktu itu adalah, ya kalau PT DI menginginkan partnernya adalah Airbus Group, maka perlu diberi dorongan semangat untuk mereka.

Photo: Jalo

Tadi malam, ketika baca-baca JKGR dan browsing detik.com, saya cukup terkejut dengan adanya mock up / contoh pesawat jet tempur Eurofighter di PT DI Bandung. Saya pikir, wah klop dengan dokumen yang terdahulu.

Bagaimana mungkin mock up Eurofighter Bisa “nangkring” di PT DI, kalau kedua perusahaan itu tidak punya kedekatan. Hadirnya mock up Eurofighter di PT DI, menunjukkan bahwa PT DI memang memiliki kedekatan mendalam dengan perusahaan Airbus Group ini.

Pemerintah sendiri mengatakan akan meggelar tender sebagai pengganti F-5 Tiger dan hingga saat ini, baru Airbus Group / Eurofighter yang bisa mendeskripsikan dengan rapih track record mereka di Indonesia, pengembangannya ke depan dan hubungan antara pengadaan pesawat ini dengan pembangunan IFX.

Saya tidak ingin menggiring bahwa, Indonesia/PTDI harus mengambil Eurofighter sebagai pengganti F-5. Secara pribadi saya lebih menyukai Sukhoi SU-35. Persoalannya, apakah Sukhoi, Gripen atau Rafale bisa mengintegrasikan seluruh kebutuhan, Indonesia, antara penggantian F-5 Tiger dan pembangunan IFX demi kemandirian.

Tidak mungkin negeri kita hanya membeli dan membeli saja dan itu pun sudah dilarang oleh Undang-undang.

Kita lihat kisah Korea Selatan dengan proyek KFX nya. KAI bersama Lockheed Martin akhirnya terpilih untuk membangun proyek Korean Fighter Experiment (KFX). Jika melihat track recordnya, Lockheed Marthin yang menjadi partner KAI dalam membangun jet latih Korea Selatan, T-50 Golden Eagle. Pencapaian itu disampaikan Lockheed Martin saat, presentasi proyek KFX.

Dalam pemaparannya di Jakarta, konsorsium pesawat Eropa ini juga memaparkan bagaimana sejarah panjang keterlibatan mereka dengan PT DI, untuk mendukung pembangunan N-219 dan CN-235.

Pepatah bijak mengatakan, jangan menyimpan telor dalam satu keranjang. Kalau jatuh, habis semua.

Hingga saat ini, kita tidak pernah mendengar Lockheed Martin, siap menjamin keberlangsungan proyek IFX. PT DI pun tidak punya kerja sama mendalam dengan Lockheed Martin. Bisa saja, Lockheed Martin, bersedia berbagi teknologi dengan Indonesia, tapi hal itu belum tentu disetujui oleh Pemerintah AS. Indonesia, bukan sekutu terdalam AS. Untuk rudal jarak menengah air to air, Amraaam saja, AS belum mengijinkan penjualannya ke Indonesia. Meski Indonesia mendapatkan 24 tambahan f-16, rudalnya tetap saja jarak pendek, sidewinder. Keterlaluan juga Amerika Serikat.

Biarlah AS dan Lockeed Martin, menjadi urusan Korea Selatan dalam kaitannya dengan KFX/IFX. Sementara Indonesia membuka jalur yang lain (emergency exit) dengan Airbus Group atau lainnya, untuk mengamankan proyek IFX. Indonesia sudah lama tidak memiliki hal yang gilang gemilang, untuk mem-booster semangat anak bangsa melakukan pencapaian lainnya.

Berikut tulisan detik.com, untuk mengetahui apa yang mau dilakukan Eurofighter, jika terpilih sebagai pengganti F-5 Tiger.

TNI AU berencana mengganti armada pesawat tempur F-5 yang telah memasuki usia senja. Pergantian 1 skuadron atau setara minimal 16 jet tempur tersebut menjadi daya pikat bagi produsen jet tempur dunia, termasuk produsen jet tempur asal Eropa yakni Eurofighter. Perusahaan yang terafiliasi dengan Airbus Group ini menawarkan pesawat tempur double engine, Thypoon.

Bukan perkara mudah bagi Eurofighter untuk bisa memasok pesawat ke Indonesia karena harus bersaing dengan beberapa pabrik pesawat besar dunia. “Saat ini TNI berencana mengganti pesawat F-5. Itu untuk 1 skuadron setara minimal 16 pesawat,” kata Export Director Eurofighter GmbH Joe Parker di Hanggar PTDI, Bandung, Rabu (15/4/2015).

Eurofighter harus bersaing dengan produsen pesawat tempur dunia seperti Gripen buatan Saab AB asal Swedia, F16 buatan Lockheed Martin asal Amerika Serikat (AS), Dassault Rafale buatan Dassault Aviation dari Prancis, hingga Sukhoi SU 35 buatan Rusia.

Untuk bersaing, Eurofighter menawarkan program transfer teknologi serta kerjasama produksi dan perakitan dengan Indonesia. Selain itu, jet Rafale juga akan dirakit dan diproduksi pada fasilitas pesawat milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jawa Barat.

“Kita sediakan harga terjangkau dan menghemat anggaran untuk perawatan, tawaran lain kita membawa teknologi dan mengembangkan SDM ke Indonesia. Terus memberikan legacy bagi industri dirgantara Indonesia untuk generasi ke depan,” ujarnya.

Jika TNI dan Eurofighter menemukan kata sepakat maka program produksi dan pengembangan bersama mulai dilakukan. Tahap awal untuk jet pertama sampai jet ketiga bakal dirakit di Spanyol.

Selanjutnya jet keempat dan seterusnya direncanakan untuk diproduksi dan dikembangkan di Bandung. “Probably yang kesatu dan ketiga dibangun di Eropa.

Kita akan bangun yang keempat di sini. Mirip program pesawat CN295,” sebutnya.

Di tempat yang sama, SPV Sales Aircraft dan Helicopter Military PTDI Imam Mukhofa menjelaskan pihaknya belum menandatangani kerjasama dengan produsen jet tempur asal Eropa tersebut. Saat ini, Eurofighter baru sebatas menjajaki kemungkinan kerjasama bila jet tempur mereka dipakai oleh TNI AU. Selain Eurofighter, produsen jet Dassault Rafale dari Prancis berkomitmen bekerjasama dengan PTDI. Kedua produsen jet tempur tersebut, sama-sama ingin membuka fasilitas produksi dan perakitan di Bandung.

“Baru ada 2 yang ketemu tapi belum ada komitmen apa-apa,” ujarnya.

Bila Eurofighter dan TNI sepakat memakai jet Thyphoon, maka perusahaan afiliasi Airbus Group tersebut bakal menggandeng PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Proses produksi dan perakitan akan memanfaatkan fasilitas milik PTDI di Bandung, Jawa Barat.

Komitmen Eurofighter menggandeng PTDI terlihat serius. Hal ini ditunjukkan dengan contoh pesawat atau mock up, jet tempur buatan Eropa tersebut, yang dipajang pada fasilitas hanggar milik PTDI di Bandung.

DetikFinance bersama rombongan awak media diberi kesempatan menengok bagian pesawat, mulai dari persenjataan hingga kokpit. “Selamat melihat pesawat produksi Eurofighter,” sambut Head of Future Capability Eurofighter, Laure Hilditch, kepada awak media di Hanggar PTDI, Bandung, Rabu (15/4/2015).

Ditemani beberapa petinggi Eurofighter, rombongan dijelaskan bagian-bagian pesawat tempur Thypoon. Salah satu yang dijelaskan ialah mengenai adanya 13 jenis misil hingga bom, yang dipasang pada burung besi tersebut.

“Setidaknya ada 13 jenis senjata berbeda yang terpasang. Di sayap kiri ada 4, sayap kanan ada 4. Terus di bawah badan pesawat ada 5,” sebut salah satu penerbang Thypoon, Paul Smith. Beberapa rombongan terlihat mengabadikan foto dengan latar belakang jet Typhoon.

Tidak hanya itu, beberapa rombongan sempat merasakan duduk di kursi pilot yang ada di jet Typhoon. Pesawat sekelas Typhoon yang generasi 4.5 adalah Rafale buatan Prancis, JF-17 buatan Tiongkok, hingga F-18 buatan Amerika Serikat.

Pesawat tempur Typhoon sendiri dirancang untuk pertempuran udara jarak dekat dan jarak jauh, atau di luar jangkauan pandangan. Dilengkapi dengan berbagai jenis rudal dan bom, Typhoon bisa melaju dengan kecepatan mach 2. Dengan kecepatan seperti ini, Jakarta-Bandung bisa ditempuh dalam waktu 4 menit.

Pesaawat ini didukung oleh 2 mesin tipe EJ200. Pesawat ini mengkombinasikan airframe nan lincah yang terbuat dari material siluman atau stealth. (Detik.com).

Pusingkan :D , ingin Sukhoi SU-35, tapi tawaran Airbus Group untuk membantu IFX, menjanjikan. Kalau sudah begini, harus dipetakan, siapa musuh potensial dalam 10-25 tahun ke depan. Meraih teknologi jet tempur, akan membawa Indonesia ke era kejayaan. Namun menyiapkan penangkal terhadap musuh potensial (terkait embargo) juga tidak kalah penting.