Ini Hasil Penelitian Gabungan WHO-China di Wuhan

Wuhan, JakartaGreater   –  Para pakar China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyelesaikan pekerjaan mereka di Wuhan, China, yang merupakan bagian dari penelitian ilmiah global tentang asal-usulcoronavirusbaru, menurut konferensi pers gabungan WHO-China.

Di antara hasil penelitian gabungan tersebut, coronavirus yang memiliki urutan gen sangat mirip dengan coronavirus baru teramati pada kelelawar dan tenggiling.  Namun, kemiripian tersebut masih belum cukup untuk membuat hewan tersebut menjadi inang dari leluhur langsung coronavirusbaru.

Kelelawar, tenggiling, musang, kucing, dan spesies lain, semuanya berpotensi menjadi inang alami, menurut para pakar yang menghadiri konferensi pers di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China tengah, pada Selasa, 9-2-2021, dirilis Xinhua, Rabu, 10-2-2021

Virus ini ditemukan dalam tes lingkungan di pasar makanan laut Huanan setelah pasar tersebut ditutup, khususnya di bagian kios produk akuatiknya. Coronavirusdi pasar tersebut mungkin masuk melalui berbagai saluran, misalnya orang yang terinfeksi, produk rantai dingin yang terkontaminasi, dan produk hewan, tetapi ini masih belum pasti.

Tidak ada hasil positif ditemukan dalam pengujian skala besar terhadap produk hewan di pasar tersebut. Tidak ada coronavirusbaru ditemukan pada sampel kelelawar di Provinsi Hubei atau pun pada banyak hewan ternak, unggas, dan hewan liar di seluruh China.

Pada Desember 2019, coronavirusbaru menyebar di tengah manusia pada skala tertentu di Wuhan, dengan sebagian besar kasus terjadi pada paruh kedua bulan tersebut. Sebuah penelitian pada kasus-kasus awal menunjukkan bahwa saat kasus coronavirusbaru terjadi di pasar Huanan, kasus yang sama juga ditemukan di wilayah lain di Wuhan pada waktu yang bersamaan.

Para pakar mengidentifikasi empat hipotesis untuk sumber penularan coronavirusbaru terhadap populasi manusia, yang mencakup limpahan zoonosis langsung, makanan rantai ingin, spesies inang perantara, dan insiden laboratorium.

Penelitian gabungan ini menyatakan bahwa insiden laboratorium “sangat tidak mungkin” menjadi penyebab COVID-19. Penelitian menambahkan penularan melalui spesies inang perantara merupakan jalur “yang paling mungkin.” Penularan langsung atau jalur masuk melalui makanan rantai dingin juga mungkin terjadi.

Wabah coronavirusbaru tiba-tiba merebak di Wuhan pada akhir 2019. China mengambil tindakan cepat, secara aktif merilis informasi epidemi, serta menerapkan langkah pencegahan dan pengendalian yang paling komprehensif dan ketat, sehingga membuahkan hasil-hasil penting.

Berdasarkan kesepakatan antara China dan WHO pada Juli 2020, sebuah tim pakar internasional WHO tiba di Wuhan pada 14 Januari. Mereka membentuk badan gabungan dengan para pakar China untuk penelitian global di negara itu tentang asal-usul coronavirusbaru.

Tim tersebut meneliti banyak data terkait epidemi dan mengunjungi sembilan fasilitas, termasuk Rumah Sakit Jinyintan Wuhan, pasar makanan laut Huanan, dan Institut Virologi Wuhan, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China.

Tim tersebut melakukan pertukaran ekstensif dengan tenaga medis setempat, peneliti lab, ilmuwan, dan manajer pasar. Mereka juga mewawancarai para pekerja sosial, petugas masyarakat, warga, pasien yang telah sembuh, serta keluarga dari tenaga medis yang meninggal dunia akibat epidemi.

*Foto: Konferensi pers penelitian gabungan WHO-China di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah, 9-2-2021. (@ Xinhua/Cheng Min).

Sharing

Tinggalkan komentar