Serangan Udara AS Sasar Bangunan Milisi di Suriah

Washington – Amerika Serikat melakukan serangan udara di Suriah terhadap bangunan yang disebut AS sebagai tempat milisi yang didukung Iran, ujar 2 pejabat kepada Reuters, pada Kamis, 25-2-2021.

Serangan udara itu tampaknya merupakan pembalasan terhadap serangan roket ke beberapa posisi AS di Irak.

Meskipun serangan itu mungkin tindakan pembalasan pertama oleh Amerika Serikat setelah serangan pekan lalu, ruang lingkupnya tampaknya terbatas, dan berpotensi menurunkan risiko peningkatan ketegangan.

Selain itu, keputusan untuk melakukan serangan hanya di Suriah dan bukan di Irak akan memberi pemerintah Irak ruang bernapas saat harus melakukan penyelidikan sendiri atas serangan pada 15 Februari 2021 yang melukai sejumlah warga AS.

Para pejabat AS yang menjadi narasumber tanpa disebutkan namanya, mengatakan serangan itu disetujui oleh Presiden Joe Biden. Namun, Pentagon belum menanggapi permintaan komentar. Serangan terhadap militer AS telah terjadi beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan roket terhadap posisi AS di Irak terjadi ketika Washington dan Teheran mencari cara untuk kembali ke kesepakatan nuklir 2015, yang ditinggalkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Dalam serangan 15 Februari 2021, sejumlah roket menghantam pangkalan militer AS yang bertempat di Bandara Internasional Erbil di wilayah yang dikelola Kurdi. Serangan itu menewaskan satu pekerja kontrak non-Amerika dan melukai sejumlah kontraktor Amerika dan anggota militer AS.

Beberapa hari kemudian, serangan lain menghantam pangkalan yang menampung pasukan AS di utara Baghdad yang melukai sedikitnya seorang kontraktor.

*Foto: Pesawat F-15E Strike Eagle terbang di At-Tanf Garrison, Syria, 14, April, 2020 dalam rangka air superiority di zona dekonfliksi 55 km di Suriah selatan untuk mendukung Operasi Operation Inherent Resolve. (@U.S. Army – Staff Sgt. William Howard)

Tinggalkan komentar