Kapolri Minta Rekomendasi Komnas HAM Soal Laskar FPI Dilaksanakan

JakartaGreater – Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo meminta kepada Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto untuk segera menyelesaikan kasus penembakan Laskar Front Pembela Islam (FPI) di Tol Jakarta-Cikampek KM 50, dengan menjalankan rekomendasi dan temuan Komnas HAM.

“Kemudian (untuk kasus) KM 50, tadi beliau (Kapolri) sudah menekankan untuk segera dilakukan apa yang menjadi rekomendasi Komnas HAM,” ujar Komjen Pol Agus Andrianto pada Rabu, 24-2-20-21 di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, dirilis Antara.

Selain itu, Komjen Pol Agus Andrianto menuturkan dia juga diminta untuk mewujudkan transformasi Polri di bidang penegakan hukum untuk mewujudkan hukum yang berkeadilan menuju Polri Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan).

“Mohon doa restu dan diberikan kekuatan untuk membantu Bapak Kapolri dalam mewujudkan penegakan hukum yang berkeadilan,” ujar Jenderal bintang tiga ini.

Beberapa pesan Kapolri kepadanya juga meliputi pengawalan ekonomi nasional, masalah Satgas Pangan, kasus mafia tanah, subsidi pupuk dan sejumlah hal lainnya.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo resmi melantik Komjen Pol Agus Andrianto sebagai Kabareskrim Polri dalam upacara serah terima jabatan yang dilaksanakan pada Rabu, 24-2-2021 di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta.

Selain Kabareskrim, Kapolri juga melantik Kabaharkam Polri, Kalemdiklat Polri dan Kabaintelkam Polri dalam Sertijab tersebut.

Pelantikan dan serah terima jabatan ini dilakukan berdasarkan Surat Telegram Rahasia (STR) bernomor ST/318/II/KEP./2021 tertanggal 18 Februari 2021 yang ditandatangani oleh As SDM Kapolri Irjen Pol Sutrisno Yudi Hermawan tanggal 18 Februari 2021 atas nama Kapolri.

Rekomendasi Komnas HAM

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri memilah dan menganalisis sejumlah barang bukti (BB) penembakan enam Laskar Front Pembela Islam (FPI).

Barang bukti itu diterima penyidik Bareskrim dari Komnas HAM, pada Selasa, 16 Februari 2021.

“Barang bukti dipilah-pilah, dianalisis,” ujar Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol. Andi Rian Djajadi saat dihubungi Antara di Jakarta, Rabu, 17 Februari 2021.

Brigjen Pol Andi Rian menyebutkan barang bukti itu sangat banyak. Ada tiga jenis barang bukti, yaitu barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP), barang bukti yang sudah diperiksa di Laboratorium Forensik (Labfor) Polri dan barang bukti digital.

Ketua Tim Penyelidikan Komnas HAM Choirul Anam (kiri) bersama Dirtipidum Bareskrim Brigjen Pol. Andi Rian R. Djajadi (kanan), saat serah terima barang bukti kasus tewasnya anggota Front Pembela Islam (FPI) saat bentrok dengan polisi di Tol Jakarta-Cikampek KM 50, di Kantor Komnas HAM Jakarta, Selasa , 16-2-2021. (@ANTARA FOTO/Reno Esnir).

“(Dipilah) tujuannya untuk mendukung penyidikan yang sedang kami lakukan untuk membuat terang (kasus),” kata jenderal bintang satu itu.

Setelah memilah barang bukti, penyidik akan mempelajari barang bukti tersebut.

Sejumlah barang bukti hasil investigasi Komnas HAM itu sangat dibutuhkan penyidik Bareskrim Polri untuk menindaklanjuti hasil investigasi dan rekomendasi Komnas HAM.

Sebelumnya, Komnas HAM telah menyerahkan sebanyak 16 barang bukti kasus Laskar FPI ke Bareskrim Polri pada hari Selasa, 16/2/2021.

Enam belas barang bukti itu, antara lain peluru, proyektil, serpihan mobil, beberapa rekaman suara, dan video Jasa Marga.

Berikutnya, foto mobil yang diterima dari Front Pembela Islam (FPI), beberapa rekaman suara, kronologi peristiwa, jejak linimasa di media sosial, dan 32 lembar foto kondisi jenazah ketika diterima pihak keluarga.

Anggota Komnas HAM sekaligus Ketua Tim Penyelidikan Peristiwa Karawang Choirul Anam mengatakan pihaknya menemukan terdapat enam anggota Laskar FPI yang tewas dalam dua konteks peristiwa berbeda.

Disimpulkan bahwa dua anggota FPI meninggal dunia dalam peristiwa saling serempet antara mobil yang mereka pergunakan dengan polisi, hingga terjadi kontak tembak di antara Jalan Internasional Karawang sampai KM 49 Tol Jakarta-Cikampek dan berakhir di KM 50. Empat orang lainnya masih hidup dan dibawa polisi.

Dari peristiwa itu Komnas HAM menyimpulkan tewasnya empat dari enam anggota laskar FPI, merupakan pelanggaran HAM. Hal itu karena keempatnya tewas setelah berada dalam penguasaan aparat kepolisian. Atas kesimpulan itu, Komnas HAM merekomendasikan agar tewasnya empat anggota laskar FPI diproses hukum melalui mekanisme pengadilan pidana, dirilis Antara, Rabu, 17/2/2021.

Selanjutnya, Komnas HAM juga meminta pendalaman dan penegakan hukum terhadap orang-orang yang terdapat di dalam dua mobil, yakni Avanza warna hitam dan Avanza warna perak.

Selain itu, Komnas HAM meminta pengusutan lebih lanjut soal pemilikan senjata api yang diduga digunakan oleh Laskar Front Pembela Islam (FPI).

*Foto: Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto. (Antara/ Anita Permata Dewi).

Sharing

Tinggalkan komentar