Gedung Garuda Pak Harto Rata dengan Tanah

Guru sejarah saya waktu SMA orang Inggris. Saya senang mendengar pelajarannya, karena mengangkat angle angle yang berbeda. Dia bilang, bangsa Indonesia bisa dikatakan barbar dan buas. Saya kaget juga dengan uraiannya. Dia bilang, dulu keraajaan Majapahit dan Sriwijaya besar, namun kini tidak terlihat jejaknya. Menurutnya, ketika peperangan terjadi, selain membunuh lawan, kerajaan dan bangunannya juga diratakan dengan tanah. Berbeda dengan Eropa, dimana ketika satu raja disingkirkan, Kerajaan dan Castlenya tidak ikut dihancurkan.

Bila dikaitkan dengan Gedung Garuda Pak Harto yang rata dengan tanah, bisakah bangsa kita dikategorikan barbar ?. Atau bangsa yang penuh kebaikan dan kemuliaan ? Catatan Redaksi JKGR.


Gedung Garuda Pancasila yang merupakan peningggalan Presiden Soeharto itu kini hilang rata dengan tanah. Hasil pantauan dari satelit menunjukkan pada tahun 2006 hingga 2013, keberadaan gedung yang biasa disebut Graha Garuda Tiara Indonesia (GGTI) masih berdiri kokoh.

Akan tetapi saat ini, gedung yang pernah menjadi lambang kedigdayaan Indonesia itu sudah dihancurkan rata dengan tanah. Gedung yang terletak di Jalan Narogong KM 23, No 176, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, benar-benar menyerupai burung garuda raksasa pun tinggal kenangan.

Saat ini gedung yang pernah menjadi lambang kedigdayaan Indonesia itu sudah dihancurkan rata dengan tanah.

GGTI juga memiliki 456 kamar dan dilengkapi aula yang mampu menampung lebih dari 3.000 orang, lengkap dengan sarana olah raga, Helipad dan beberapa kamar khusus di bagian ekornya.

Gedung yang dibangun pada Agustus 1995 ini awalnya digunakan untuk penginapan atlet sekaligus menumbuhkan semangat garuda bagi para atlet dalam bertanding. Sejak beroperasi pada tahun 1996, kamar-kamar gedung ini sudah pernah ditempati oleh para tamu dan ekspatriat yang berkantor di sekitar Jabotabek. Mereka adalah para eksekutif dari indusrti-industri yang ada di sekitar kawasan tersebut.

Gedung Garuda ini dibangun dengan kucuran dana sekitar Rp 75 miliar. Waktu itu rupiah masih kokoh di angka Rp 2.194/dollar. Waktu itu, Amerika Serikat (AS) maupun Eropa meyakini bahwa Indonesia kelak akan menjadi salah satu naga Asia.

Namun sayangnya, seiring bergesernya waktu bangunan megah tersebut semakin terpuruk dan ditinggal peminatnya. Keberadaannya semakin menyedihkan dan benar-benar menderita. Ilalang mulai menutupi, tembok-temboknya dijadikan coret-coretan dan tempelan pamflet tak beraturan.

Kini, gedung garuda itu sudah benar-benar tiada karena telah diratakan dengan tanah. Tragis memang, gedung megah yang bisa menjadi kebanggan bangsa Indonesia tersebut tidak malah mendapat perawatan yang layak namun justru dihancurkan rata dengan tanah. (Brilio.net).

Pengirim: Jobel