Dogfight di Era Perang Modern, Masih Mungkin Terjadi?

JakartaGreater – Teknologi terus mendorong kemampuan peluru kendali (rudal) untuk berkembang, sehingga pola pertempuran udara juga mengikuti perkembangan rudal tersebut. Kini pertempuran udara, tidak perlu lagi bagi pilot untuk melihat pesawat musuh lalu mengejarnya seperti era perang dunia kedua.

Rudal dari pesawat tempur bisa dilepaskan puluhan hingga seratus kilometer dari sasaran. Komputerisasi yang ada di rudal akan mengambil alih tugas pilot untuk menyelesaikan tugasnya.

Belum lagi saat ini, negera negara dengan teknologi maju sedang mengembangkan drone yang bisa meluncurkan rudal udara ke udara ataupun Loyal wingman. Otomatisasi komputer terus bergerak untuk mengambil alih sebanyak mungkin pekerjaan pilot tempur.

Jika sudah demikian apakah kemampuan dogfight pesawat tempur tidak dibutuhkan lagi?.

Tidak secepat itu. Betul, saat ini rudal menjadi faktor kunci.

Namun dalam peperangan yang masif, akan ada skenario pesawat tempur sudah kehabisan rudal namun masih meninggalkan 2 atau 3 pesawat musuh yang mengejarnya. Skenario lainya adalah, rudal yang ditembakkan oleh pilot tidak mengenai sasaran. Tidak ada lagi rudal yang tersisa.

Lalu apa yang dilakukan pilot?.

Dalam situasi seperti ini, pilihan pilot adalah maju secepat mungkin dan mendekat ke pesawat musuh untuk melakukan dogfight dengan pertempuran yang mengandalakan kanon (meriam) yang ada di pesawat tempurnya.

Pada situasi ini, kecepatan dan kemampuan manuver pesawat tempur menjadi penting untuk memenangkan dogfight tersebut.

Atas prinsip tersebut tidak heran pesawat tempur siluman sekelas F-22 saja masih mengusung meriam M61A2 Vulcan yang dipasang secara internal di atas asupan udara kanan. Sistem amunisi pesawat F-22 menampung 480 butir amunisi 20mm dan mengisi senjata dengan kecepatan 100 butir per detik.

Sebagai catatan, pesawat tempur tidak berawak alias drone tempur, untuk saat ini bisa dikatakan masih lambat dan tidak bisa bermanuver secanggih pesawat tempur yang dikendarai pilot.

Tulisan ini adalah sebuah analisa yang tentu bisa diperdebatkan.

*Foto: Pesawat tempur F-15EX.(@Boeing)