Pesawat R-80 akan terbang tahun 2019?

Industri dirgantara Indonesia kembali bergairah ketika Presiden ke-3 Republik Indonesia (RI), BJ Habibie, memperkenalkan pesawat besutannya di ajang National Innovation Forum (NIF) 2015 di Graha Widya Bakti Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, pekan lalu.

Pesawat ini diberi nama Regio Prop 80 (R-80), yang merupakan suksesor dari pesawat N250 buatan IPTN (saat ini PT Dirgantara Indonesia). R-80 sendiri dikembangkan oleh PT Ragio Aviasi Industri (RAI), perusahaan pembuat pesawat terbang komersil milik Habibie dan anak sulungnya, Ilham.

Habibie mengklaim, pesawat ini paling tepat untuk dioperasikan di negara kepulauan seperti Indonesia, khususnya untuk pesawat-pesawat yang dioperasikan di bandara dengan landasan pacu pendek. Terlebih, pesawat itu mengadopsi teknologi yang lebih canggih dan efisien dari N250.

R80 memiliki kapasitas yang lebih banyak dari N250, yakni 80-90 kursi. Sementara N250 hanya mempunyai kapasitas 50-60 kursi. Jika tidak ada aral melintang, pada 2019 pesawat ini sudah siap diproduksi dan didaftarkan sertifikat layak terbang.

Dikutip dari media Liputan6.com, PT Dirgantara Indonesia mengaku line produksinya padat hingga tahun 2019. Mereka sendiri akan melihat lagi kerjasama dengan PT. RAI. PT. DI sedang disibukan project dengan Kemhan, beberapa klien nasional dan internasional dan juga program pengembangan pesawat Transport Nasional bersama Pustekbang LAPAN.

“Secara program kita kalau dilihat 2015-2019 itu sudah full, sudah terstruktur. Jadi kita lagi melihat program ini. Saat ini kita masih sebatas diskusi, kita harus melihat juga bagaimana kapasitas PT DI, bantuan apa yang bisa diberikan PT DI, bagaimana positioning-nya. Ini belum ada keputusan masih dalam ranah diskusi,” ungkap Kepala Pengembangan Bisnis PT. DI, Ade Yuyu Wahyuna.

Lalu apakah R-80 siap terbang tahun 2019?

Pertama, saya mendengar dari beberapa karyawan dan peneliti pesawat terbang. Mereka mengaku,  secara nasional SDM mereka belum mampu untuk mengembangkan pesawat sekelas R-80. Untuk itu, mereka malah lebih fokus berkutat di pesawat N-219 dulu sambil menyiapkan SDM baru.

Saat pengembangan N-250, IPTN (sekarang PT. DI) memiliki karyawan sebanyak 15.000-an, berbeda dengan sekarang yang hanya ribuan pegawai. PT. RAI, melalui Ilham Habibie mengaku desain R-80 berbeda dengan N-250. Tapi masyarakat awam sendiri tahu, R-80 mirip sekali dengan N-250, cuman ada perbedaan di winglet dan rudder. Silahkan di ukur, :-D

Agung Nugroho, Direktur Utama RAI, menyebutkan saat ini jumlah karyawan di perusahaannya berjumlah 84 orang. “Dari PT DI kira-kira 50 orang dan 34 dari kita,” ujarnya. Yakin dengan jumlah segini bisa merealisasikan terbang perdana pada 2019.

Sumber : Detik

Untuk pengembangan pesawat R-80, PT Regio Aviasi Industri membutuhkan dana sebesar US$700 juta atau sekitar Rp. 9,1 trilliun. Agung Nugroho mengaku kesulitan mendapatkan dana tersebut dari pihak perbankan.

“Pendanaan yang dibutuhkan US$700 juta. Selama ini kami sudah sounding kepada perbankan Indonesia, tetapi sistem perbankan kita belum memungkinkan memberikan pendanaan pada tahap ini ,” ujar Agung Nugroho, Dirut PT RAI  pada hari Selasa silam (07/04/15).

 

Ilham Habibie (Liputan6.com/Herman Zakaria)

Tahun lalu, pada 18 Maret 2013, Ilham Habibie pernah mengatakan gini kepada salah satu media.

Anda terkesan sangat ambisius untuk bisa memproduksi pesawat? Punyakah anda uang?

Ambisius? saya yakin masih banyak orang di Indonesia ini yang mempunyai semangat. Dirgantara dan saya salah satunya.

Uang? saat ini dalam tahap awal diperlukan US$ 400 juta dolar. Tapi itu bukan dana dari pribadi saja sendiri, ada beberapa modal dari beberapa kalangan tetapi juga pribadi bukan dana perusahaan.

Dan nanti suatu saat, ketika perusahaan atau R80 ini berkembang dan memerlukan dana besar, kita bisa melepas saham ke publik.

Banyak orang salah paham juga, bahwa perusahaan yang kami dirikan yakni PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang merupakan perusahaan gabungan dari perusahaan miliknya yakni PT Ilthabie Rekatama dengan PT Eagle Cap adalah perusahaan miik Erry Firmansyah yang merupakan mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mendirikan pabrik pesawat menyaingi PT Dirgantara Indonesia (DI).

Tidak, yang benar R80 akan produksi menggunakan pabrik PT DI, dan nantinya PT DI juga akan menjadi salah satu pemegang saham di PT RAI.

Sumber : Detik.com

Dan beberapa waktu lalu Pak Habibie minta bantuan kepada Presiden Jokowi untuk membuat pesawat ini.

“Yang kami butuhkan adalah dukungan pemerintah untuk financing bagian Indonesia. Bagian swasta dan luar negeri, mereka akan ikut kalau dari pemerintah ikut menyumbang dalam arti mengatakan ‘silakan’ karena industri pesawat terbang seperti Boeing dan Airbus dapat bantuan yang sama,” ujar Habibie

Untuk tambahan, ini ada salah satu ucapan dari mantan pegawai perusahaan BUMNis tersebut yang pernah terlibat dalam program N-250. Ini masalah Break Even Point (BEP) yg dimana PT. RAI mengaku akan memproduksi 400 pesawat.

“400 pswt buat break even,.? Berapa tahun yaa,.? 

Berdasarkan pengalaman previous full production scale,..
Time line “tercepat” yg pernah dicapai buat 1 unit keluar (rolled out) finishing pswt medium itu di iptn 6 bulan .. (asumsi karyawan wkt itu 16.000)
dan kendala utama barang2 komponent import.

(Sekedar info dari karyawan ybs yg terlibat langsung di BHT – Texas)

Bandingkan dgn infrastructure yg kumplit,..
– bell helicopter pernah di thn1965 (sdg perang vietnam) bisa rolled out seminggu 2 unit bell 205 (sebulan 8 smp 10 unit)

Medium airplane sekelas ATR atau R80,..atau ERJ
(Menurut kawan yg kerja di CHC – Brazil)
Embraer bisa selesaikan tercepat 1 bulan 1 unit pswt..

Naah,.. bayangkan pt. DI dengan R80 dan N219 yg pengadaan sub komponennya harus dari overseas, saya kira kendalanya,…ya lagu lama
– biaya impor dan custom
– tengat waktu PO dan RFQ plus part on traffic
– forwarding sequence “hub” (SIN or CGK)
dll”

Mana yang bener? semoga program ini menjadi program kebanggan bukan program persis srimulat (menurut seorang teman yg dulu sempat aktif di JKGR), “Membuat Bengkok Logika Lurus”.

Maaf bukan kami tidak nasionalis, saya tidak mau duit Negara digunakan untuk mengikuti keinginan seseorang yang tidak jelas arahnya. Mari kita diskusikan.

 

(Jalo)