ABB: Indonesia bisa menjadi pusat energi terbarukan

Johan de Villiers, Managing Director ABB South East Asia (berdiri) dalam diskusi mengenai peluang dan tantangan energi di Asia Timur, termasuk Indonesia, di Jakarta (21/04/15). (ANTARA News/HO)

Jakarta (ANTARA News) – Perusahaan teknologi energi dan otomatisasi, ABB, optimistis bahwa Indonesia bisa menjadi salah satu pusat energi terbarukan di kawasan Asia.

Perlu dukungan semua pihak untuk mengoptimalkan pendayagunaan sumber energi terbarukan di Indonesia, sehingga upaya pemerintah mewujudkan konversi energi dan budidaya seperti tertuang Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, bisa dicapai, kata ABB dalam siaran persnya, Rabu.

Di Indonesia, ABB telah kerja sama dengan PLN dalam pendayagunaan sumber energi terbarukan untuk memasok listrik bagi masyarakat di Pegunungan Bintang, Oksibil, 3.000 kaki di atas permukaan laut, di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

PLN telah membangun salah satu pembangkit listrik tenaga surya tertinggi di dunia, off-grid dengan 1.280 modul surya yang mampu menghasilkan 300 kW tenaga listrik.

Kontribusi ABB dalam proyek ini, kata ABB, adalah dalam hal penyediaan sistem penyimpanan energi (ESS). Dengan ESS, kelebihan listrik yang dihasilkan setiap harinya akan disimpan dan selanjutnya didistribusikan pada malam hari atau bila diperlukan.

“Selama lebih dari satu abad, ABB telah merintis solusi energi yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup, serta meminimalkan dampak lingkungan,” ujar Johan de Villiers, Managing Director ABB South East Asia.

Peran energi terbarukan menjadi sangat penting menimbang kebutuhan energi global yang diproyeksikan akan meningkat sebelas kali lipat pada tahun 2030.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, kebutuhan terhadap energi juga kian melonjak. Ketergantungan pada minyak dan gas akan berdampak pada masalah kelangkaan energi dan juga masalah lingkungan.

“Pada bulan Desember 2015, para pemimpin dunia akan bertemu di Paris guna membangun kesepakatan tentang langkah-langkah global dalam membatasi emisi karbon. Dengan demikian, 2015 akan tercatat sebagai tahun penting dalam mengatasi perubahan iklim. Di ABB, kami telah menunjukkan bahwa penerapan teknologi baru dapat mengurangi kerugian energi sebanyak setengah dalam rantai nilai listrik,” Johan mengklaim.

Menurut IEA, generasi listrik dari sumber terbarukan diatur untuk menjadi dua kali lipat pada 2030. Sebagian besar kenaikan tersebut akan berasal dari tenaga air dan tenaga angin darat, diikuti oleh angin lepas pantai dan tenaga surya.

Energi terbarukan ditetapkan untuk menyusul gas alam sebagai sumber terbesar kedua listrik (setelah batubara) dalam enam tahun kedepan.

Generasi angin global tumbuh sangat cepat dan diproyeksikan naik sebelas kali lipat pada tahun 2030, dengan peningkatan terbesar terjadi di Eropa. Di Eropa, 20 ladang angin telah disetujui untuk Laut Utara pada 2009, dan tujuh untuk Baltik.

Secara keseluruhan, hal ini berarti sekitar 12.000 MW listrik dari pembangkit angin akan hadir pada tahun 2015.

ABB menyediakan teknologi listrik dan otomatisasi untuk industri energi terbarukan. Ini digunakan untuk menghasilkan listrik dari sumber terbarukan, untuk mengontrol pembangkit listrik, dan untuk mendistribusikan ke jaringan listrik (grid).

Daya terbarukan didistribusikan ke jaringan listrik (grid) sedemikian rupa agar stabilitas jaringan dapat dijaga atau ditingkatkan, bahkan ketika kondisi cuaca berubah-ubah menyebabkan pembangkit listrik tidak teratur.

Untuk membantu menghasilkan panas atau menghasilkan biofuel, beragam segmen di industri energi terbarukan memanfaatkan teknologi ini. Namun, pembangkit listrik dan transmisi tetap menjadi aset yang utama. (ANTARA News)

Dana energi baru 2016 diusulkan Rp10 triliun

Jakarta, Kementerian ESDM akan memprioritaskan pembangunan energi baru dan terbarukan dengan mengusulkan dana dalam RAPBN 2016 sebesar Rp10 triliun.

Menteri ESDM Sudirman Said dalam jumpa pers di Jakarta Jumat mengatakan, APBN 2016 tidak lagi mengacu baik jumlah maupun proporsi dengan anggaran sebelumnya.

“APBN 2016 ini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Kami tidak lagi gunakan APBN lalu sebagai acuan baik jumlah maupun proporsi,” ujarnya.

Menurut dia, pada 2016 Kementerian ESDM akan mengusulkan anggaran RAPBN sebesar Rp25 triliun.

“Dari Rp25 triliun tersebut, Rp10 triliun atau 40 persen di antaranya untuk energi baru. Jadi, energi baru mendapat alokasi anggaran terbesar,” katanya.

Prioritas lainnya adalah produksi gas dan batubara untuk domestik melalui pengenaan kewajiban pasok domestik (domestic market obligation/DMO) yang signifikan.

Apalagi, lanjutnya, pemerintah memiliki program pembangunan pembangkit berkapasitas 35 ribu MW selama 2015-2019 yang membutuhkan batubara dan gas dalam jumlah besar.

“Prioritas lainnya adalah mendorong investor melakukan kegiatan eksplorasi dan mengajak masyarakat melakukan gerakan konservasi energi,” katanya.

Dari alokasi energi baru Rp10 triliun itu, lanjutnya, konservasi energi akan mendapat porsi Rp1 triliun.

Terkait itu, Sudirman juga mengatakan, pihaknya akan mengusulkan pembentukan Ditjen Konservasi Energi kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.

Ditjen baru tersebut merupakan pecahan Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi.

Dengan struktur baru, maka Kementerian ESDM mempunyai delapan eselon satu yakni Ditjen Energi Baru, Ditjen Konservasi Energi, Ditjen Ketenagalistrikan, Ditjen Migas, Ditjen Minerba, Badan Geologi, Badan Litbang, dan Badan Diklat.

Menurut dia, konservasi merupakan hal penting.

“Kalau mayarakat mengurangi pemakaian lampu selama enam jam per hari, maka sudah menghemat pemakaian listrik sebesar 10 persen. Itu bisa diartikan menghemat BBM hingga 150 ribu barel per hari dengan asumsi pemakaian 1,5 juta barel per hari,” ujarnya.

Sudirman mengatakan, selain konservasi, dana Rp10 triliun sebagian besar akan dialokasikan untuk melistriki wilayah terpencil dan perbatasan dengan energi setempat seperti surya dan air.

“Jadi, prioritas pembangunan energi baru disesuaikan dengan kondisi setempat,” katanya.

Lalu, memberi stimulus ke BUMN untuk investasi energi baru seperti halnya pembangunan jaringan gas kota. (ANTARA News)

Sudirman Said: investasi energi hijau sangat potensial

 

Jakarta – Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan investasi hijau di bidang energi masih sangat potensial karena merupakan salah satu prioritas pemerintah dalam pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi.

“Kalau dilihat dari realisasi investasi, maka di antara investasi hijau, sekitar 30 persennya berhubungan energi baik listrik, geotermal dan lainnya,” kata Sudirman dalam jumpa pers tentang penyelenggaraan Tropical Landscape Summit di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, Indonesia sudah seharusnya menengok potensi EBTKE lantaran dari jumlah penduduknya yang mencapai 3,5 persen penduduk dunia, hanya memiliki cadangan energi fosil yang minim.

Cadangan minyak dan gas bumi Indonesia hanya sekitar 0,2 persen dari total cadangan migas dunia. Ada pun cadangan batubara Tanah Air hanya mencapai 4 hingga 5 persen cadangan dunia.

“Jadi kalau mengandalkan fosil sajan, sudah jumlahnya sedikit, akan habis pula. Makanya tidak ada pilihan lain selain tengok energi baru terbarukan,” ujarnya.

Sudirman menambahkan, Indonesia memiliki potensi sumber daya energi terbarukan yang besar.

Data Kementerian ESDM menyebutkan potensi energi hidro yang teridentifikasi sebesar 75 gigawatt (GW), potensi surya sebesar 112 GW, bahan bakar nabati (biofuel) mencapai 32 GW, angin 0,95 GW, biomassa 32 GW, panas bumi 28,8 GW, dan laut 60 GW.

“Bagi pelaku bisnis tentu ini akan sangat menarik. Kemarin di World Economic Forum on East Asia, minat investor untuk masuk di green energy sangat besar, tinggal berapa insentif yang mau diberikan,” katanya.

Kementerian ESDM, diakui Sudirman, akan melakukan terobosan untuk mendorong pengembangan EBTKE. Salah satu terobosan yang tengah diupayakan adalah mengajukan anggaran yang signifikan untuk EBTKE.

“Anggaran saat ini untuk EBTKE hanya Rp1,03 triliun. Kami belum siapkan angkanya tapi diharapkan bisa naik berlipat-lipat. Tapi saya yakin akan didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Keuangan,” katanya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyelenggarakan Tropical Landscapes Summit – A Global Investment Opportunity pada 27-28 April 2015 di Hotel Shangrila Jakarta.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama BKPM, Kantor Staf Kepresidenan dan United Nations Office for REDD+ Coordination (UNORCID). Pertemuan internasional itu menghadirkan para pembicara dan pengambil keputusan dari dalam dan luar negeri, 12 menteri ekonomi, deputi gubernur Bank Indonesia, Komisioner OJK, Kadin Indonesia, 40 CEO di berbagai bidang industri dari dalam dan luar negeri, gubernur dan walikota serta 20 lembaga swadaya masyarakat.

Kepala BKPM Franky Sibarani, dalam kesempatan yang sama, mengemukakan pemerintah menargetkan investasi hijau tumbuh rata-rata 20 persen setiap tahun.

Selama lima tahun terakhir (2010-2014), total realisasi investasi hijau mencapai 30,3 persen dari total nilai investasi atau sebesar Rp 486 triliun dibanding total nilai investasi Rp1.600 triliun. Dari realisasi tersebut, sebanyak 26,8 miliar dolar AS merupakan penanaman modal asing (PMA) dan Rp139,1 triliun merupakan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Dengan target sedemikian, diperkirakan pada 2019 investasi hijau PMA mencapai 56 miliar dolar AS dan PMDN sebesar Rp448 triliun.

“Acara ini sangat strategis bagi Indonesia untuk menjadi role model bagi pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Karena untuk mempercepat pembangunan infrastruktur hijau atau yang ramah lingkungan membutuhkan biaya yang cukup besar, dan acara ini diharapkan menjadi peluang untuk menarik investor,” kata Franky. (ANTARA News)