Hamas Ingatkan Israel: Tembakan Dibayar Tembakan, Kota Dibayar Kota

JakartaGreater   –   Pejuang Hamas Palestina yang berbasis di Gaza mulai menembakkan roket ke Israel pada hari Senin, 10-5-2021, beberapa menit setelah melewati batas waktu tuntutan mereka agar pasukan Israel disingkirkan dari sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa.

Namun, militer Israel menanggapinya dengan gelombang serangan Rudal yang ditujukan ke Gaza, dan mengancam akan melakukan invasi langsung.

Strategi Hamas melawan Israel berkisar pada prinsip pembalasan atas setiap serangan Israel di Jalur Gaza yang terkepung, ujar seorang perwakilan senior kelompok itu.

“Front Perlawanan telah berhasil menerapkan persamaan dalam putaran konfrontasi saat ini dengan tema ‘penembakan untuk penembakan, kota untuk kota dan Rudal untuk Rudal,” ujar juru bicara Hamas Fawzi Barhoum, berbicara kepada Kantor Berita Tasnim Iran, dikutip Sputniknews.com, 15-5-2021.

Juru bicara Hamas menambahkan bahwa persamaan itu telah “membuktikan bahwa Tel Aviv akan ditembak seandainya Gaza dibom, dan bahwa penghancuran rumah (di Gaza) akan ditanggapi dengan cara yang sama.”

Dia juga menyatakan bahwa Israel telah mengalami pukulan yang “belum pernah terjadi sebelumnya” dalam keparahannya pada hari Senin 10-5-2021 dengan peluncuran 150 roket Hamas dalam waktu 3 menit.

Barhoum menekankan bahwa Hamas tidak akan terintimidasi oleh ancaman Israel untuk melancarkan invasi darat, dan mengubah konflik menjadi perang yang panjang. “Kami siap melanjutkan pertempuran tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan,” ujarnya memperingatkan.

Fawzi Barhoum menambahkan bahwa pemerintah Israel tidak akan dapat mencapai tujuannya, dan akan dipaksa untuk beralih ke negara lain untuk membantu menengahi gencatan senjata dengan Hamas, seperti yang terjadi pada tahun 2012 dan 2014.

“Kami memiliki kontak dengan Mesir, Qatar dan Perserikatan Bangsa-Bangsa; tetapi kami memberi tahu mereka dengan jelas bahwa kami berhak untuk melindungi tanah air kami, dan bahwa setiap penengah harus memaksa Zionis untuk menghentikan agresi mereka terhadap Yerusalem serta bagian lain dari tanah kami,” katanya.

Barhoum menegaskan bahwa “kejutan” yang tidak menyenangkan akan menunggu Israel jika perang berlanjut, dan menunjuk pada serangan Hamas secara mendalam, “dan terhadap pusat-pusat dan titik-titik sensitif rezim ini.”

Dia memperingatkan bahwa “jika musuh melancarkan serangan darat di Jalur Gaza, itu akan menjadi peluang nyata bagi perlawanan untuk membunuh tentara musuh. Penjajah harus tahu bahwa persamaan telah berubah hari ini, dan bahwa mereka yang menyerang setiap anak Palestina dari Rafah hingga Yerusalem akan dimintai pertanggungjawaban oleh perlawanan.”

Komentar Barhoum menyusul pernyataan ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh awal pekan ini yang menunjukkan bahwa kelompok militan telah “berhasil menciptakan persamaan yang menghubungkan front Yerusalem dan Gaza.”

Setelah melancarkan serangan balasan di Gaza, juru bicara Pasukan Pertahanan Israel Jonathan Conricus mengatakan bahwa militer tidak mengantisipasi serangan Hamas, dan “mengira kami telah mengkomunikasikan dengan jelas apa konsekuensinya.”

Krisis Keamanan Terbesar Sejak 2014

Israel menghadapi krisis keamanan terbesar dan terluas selama bertahun-tahun atas serangkaian keputusan kebijakan pemerintahan Netanyahu yang telah membuat marah warga Palestina-Israel dan mereka yang tinggal di Tepi Barat dan Gaza.

Bentrokan kecil antara pasukan keamanan Israel dan Palestina di Yerusalem dimulai pada 12 April 2021, setelah polisi memasang penghalang untuk mencegah orang berkumpul di dekat Gerbang Damaskus, salah satu pintu masuk utama ke Kota Tua Yerusalem, menjelang liburan Ramadhan.

Ketegangan meningkat lebih lanjut pada 6 Mei 2021 ketika para demonstran mulai memprotes atas keputusan Mahkamah Agung Israel yang diharapkan untuk mengusir keluarga Palestina dari rumah mereka di lingkungan Yerusalem Timur. Kekerasan tersebut mendorong pengadilan untuk menunda putusan tersebut selama 30 hari.

Polisi Israel yang menyerbu kompleks Al-Aqsa – salah satu situs paling suci Islam, pada hari Senin untuk mengusir pengunjuk rasa yang mengantisipasi penggerebekan oleh ultranasionalis Israel akhirnya memicu kerusuhan oleh orang Arab-Israel di seluruh negeri.

Kekerasan, yang termasuk perselisihan antar etnis, serangan pembakaran, penembakan dan bentrokan antara pengunjuk rasa dan polisi, telah menyebabkan ratusan luka di kedua sisi, dengan 7 warga sipil di Israel (2 di antaranya warga Palestina-Israel) dan satu tentara Israel tewas. 16 orang Palestina tewas dalam protes di Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Tembakan roket dan Rudal bolak-balik oleh militan Gaza dan militer Israel telah menewaskan sedikitnya 126 warga sipil dan 20 militan di daerah kantong tersebut. Lebih dari 1.000  roket Hamas, dan ratusan Rudal Israel, kini telah ditembakkan. Serangan udara Israel tanggal 15 Mei menghancurkan gedung perkantoran yang digunakan oleh Associated Press di Gaza.

*Foto: Drone Brigade Al-Qassam Hamas. (@ Hamas).