Asoy Geboy Ngebut di Jalanan Ibukota

BEKAS ……. ??

Di tahun 2007 lalu Ane sempat menabung untuk membeli motor baru pada saat itu.

Entah apa feeling saya mengatakan, mengapa harus beli baru, coba deh motor bekas. Mungkin lebih murah.

Finally setelah tanya sana-sini, ajak teman ahli mesin, diputuslah beli motor bekas. Ya, tahun 2003 merk H type K.

Setetelah melewati masa pakai, tibalah di tahun 2011 di suatu keramaian motor langsung ngadat dan gak bisa apa-2 setelah dibongkar, nyata hasilnya. Mesin “amburadul” tidak bisa dipakai lagi.

Sang Ahli mengatakan, Bila mesin ganti baru semua blok hanya butuh Rp 800 sudah termasuk ongkos. Pikiran saya melayang ingin membeli motor baru, namun apa daya uang saat itu tak ada, mau nyicil, tentu terikat bulanan yang harus dibayar plus bunga.
Finally, keputusan untuk tetap beli Mesin Blok baru segera saya ambil.

Sang Ahli juga berpesan agar selalu merawat, jangan sampai kehabisan oli meski jarang overhaul. Ada sedikit pesan setelah penyerahan uang dan barang yang saya bawa,

+ Mas, Tuh motor “lahir baru” setidaknya bisa ngimbangi H type S terbaru.
– Hehehe…Mana mungkin Mas , wong ragangan / kerangka-nya type tua.

Alhamdulillah di medio 2015 ini motor hampir sangat jarang rewel, kecuali ganti ban luar dalam (asal bukan dunlop milik rossi hehehe) atau sekok/peredam kejut.

Dan pernah Ane Coba ditrek lurus di jalanan sepi ada orang pakai motor yang pesis disebutkan di atas, ane coba hampiri dan mengatakn maksud tujuan ngajak balapan.

Orang baru itu cukup mengerti,
-Gak papa kan Mas coba buktiin nih mesin kuat sampai apa
+Ok
Setelah game start dimulai hingga mendekati finish yang ditentukan motor Ane sanggup mengimbangi Motor Si Abang, meski hasilnya menang tipis dimenangkan sang Abang.

+Dia hanya bilang, Mas kok bisa imbangin tarikannnya motorku ini padahal sudah maksimal.
Minimal kan sampeyan ketinggal jauh ( duhhh meremehkan tingkat dewa dia)
-Ah Mas biasa saja mungkin sampeyan nggak fit palingan (jawabku).

Dari uraian sedikit cerita saya bisa disimpulkan bahwa
Dengan bekas, banyak menganfung arti, bisa layak pakai, bekas tahun, bekas orang lain dipakai 1 kali ndan lain -lain, namun tidak menurunkan jauh kualitasnya dibanding dengan membeli sebuah barang baru.

Pertempuran motor di atas bisa diartikan bahwa sesungguhnya yang menang adalah saya. Mengapa demikian ?, ya karena fitur motor sudah kalah jauh, tahun juga, apalagi peredam kejut juga beda, akselerasipun juga, namuan saya bisa mengimbanginya.

Beda lagi kalau ngajak balapan dengan motor Rossi 46, kecuali kalau motor dia diparkirkan, lalu saya salip duluan (hehe).

Saya terhindar dari kewajiban bayar “utang” bila mengambil motor baru. Di sisi lain dana bisa dialokasikan dengan yang lain lebih urgent.

Feel membawa motor baru dan motor lama jelas beda. Saya terbebas rasa was-was.

Beda dengan motor baru selalu hati-hati dan was was pula (pastinya).

Dengan perasaan nothing to lose biasanya orang tersebut lebih mudah tercapai impiannya. Bila dibanding dengan orang punya target “Harus Menang”, harus bisa ini dan itu.

Dengan dana yang super “cupet” saya sama dengan orang punya motor baru yaitu sama-sama mencapai tujuan lebih cepat, lebih effisien.

Dari gambaran ilustrasi di atas mungkin hampir sama persis dengan keputusan pemerintah “saat itu ” untuk membeli F-16 Retrofit

Masih ingatkah kita pembelian F-16 versi lama type blok 15 kala itu ?. Hampir seluruh unit adalah baru. Para pilot kita ketika mencobanya untuk latihan 1-2 aman, namun tetap saja ada kegagalan yang berbuntut meninggalnya Pilot TNI kita penerbang Dwi sasongko tahun 1997 10 Maret (sumber http://news.okezone.com/read/2015/04/16/337/1135034/ternyata-f-16-milik-tni-au-juga-pernah-kecelakaan).

Jadi baru dan bekas tidak menjamin akan ada musibah ( semoga Tidak untuk Indonesia ke depannya).

Tidak perlu diperdebatkan apalagi mencemooh untuk pengadaan F-16 ini, yang perlu dikaji adalah, kita cukupkan sampai di sini bila mengambil barang second / bekas.

Dengan sisanya F-16 yang mulai berdatangan, akan menjadikan pelajaran kasus terbakarnya F-16 batch 1 untuk dibenahi apanya yang kurang pada type pesawat berikutnya.

Dari segi positifnya adalah, selain dapat banyak unit, penyebaran deploy-nya cukup merata, sehingga tidak ada di suatu lokasi “ompong” penggebuk meski cuma kekuatan KW 3.

Dan kita tidak perlu menyalahkan serat merta pengadaan ini , point penting adalah, cek dan cek ulang secara berkala uji laik terbang alutsita ini.

Ya wajarlah bila barang Kw kita pilih misalnya ada yang rusak namun masih diuntungkan unit yang lain tidak rusakkan, terlebih lagi murah pastinya, dan tidak semuanya kualitas jelekkan ketika kita milih barang obral-lan misalnya.

Semua negara pun pasti mempunyai permasalahan yang sama, entah pesawat tempurnya terbakar, rusak tidak bisa operasi atau suku cadangnya susah.

Dengan penjelasan serta sedikit ilustrasi cerita saya ini mari kita jangan pernah mengecilkan arti suatu produk dengan berlabel BEKAS. Pastilah suatu saat kita masih membutuhkan apa artinya bekas tersebut.

Silakan dikomentari / dikoreksi

BFB/ Biro Surabaya