Laut China Selatan : USA vs Tiongkok

image001

Banyak artikel mengenai LCS kemarin di JakartaGreater, dan pikiranpun segera melayang jauh. Segera 1 pertanyaan mengemuka:

‘Akankah dua kekuatan adidaya dunia ini benar-benar akan berbaris dan berperang di medan laga ?’

Banyak argumen mengutarakan bahwa kemungkinan peperangan antara USA vs Tiongkok tidak akan terjadi karena hanya sebuah sinetron belaka. Tapi menurut analisa orang awam seperti saya ini, berdasarkan fakta dilapangan….emmm bersiaplah!

USA
Motif untuk maju berperang, diantaranya :

  1. Memiliki hutang sangat besar ke Tiongkok (est-USD 1,5T / Rp20.000T) dan kemungkinan untuk membayar sangat kecil, dampaknya pun akan membuat negara kolaps bila ditunaikan sehingga lebih baik pergi berperang yang justru akan berbuah manis berlipat-lipat tanpa perlu membayar hutang…hitung2 selama ini dapat pendanaan segar secara gratis dari Tiongkok.
  2. Memutar dan meningkatkan perekonomiannya dari hulu ke hilir (baik itu penciptaan lapangan pekerjaan baru, tumbuhnya industri-industri kecil maupun besar yang kesemuaannya akan berputar guna menopang segala kebutuhan negara, apalagi di masa perang) terutama pendapatan dari sektor industri militernya (Industri militer adalah ‘Enormous Scale of Industry’).
  3. Kewajiban sekutu membeli produksi militernya sebagai standar inti.
  4. Mendapatkan pangsa pasar baru yang luarbiasa potensinya.
  5. Otomatis mendapatkan konsesi khusus untuk menguasai SDM dan SDA di negara sekutu maupun di wilayah yang diperebutkan yang sangat luarbiasa nilainya sebagai hak ‘Jasa Keamanan’ yang sebenarnya fatamorgana. Kenapa jasa keamanannya fatamorgana? Karena selama ini para sekutulah yang maju ke medan laga untuk berjibaku di medan sesungguhnya sebagai pion bin bemper sementara USA hanya mensupply ala kadarnya dari garis belakang atau turun bila seperlunya.
  6. Eksistensi sebagai ‘Polisi Dunia’ dapat terus disematkan (Berperan sebagai ‘Good Guy’).
  7. Menarik simpati sekaligus menguasai banyak negara2 diseputaran wilayah sengketa.
  8. Puncak ‘Hierarchy Chart’ – aktualisasi diri tercapai dengan mendominasi banyak sekutu baru sebagai tambahan dan perluasan wilayah koloni kekuasaan.
  9. Harga diri tetap tegak dihadapan Tiongkok maupun dunia karena ‘tidak merasa memiliki hutang’.

China
Motif untuk maju berperang, diantaranya :

  1. Laut China Selatan yang sangat kaya sumber daya alamnya baik itu berupa energi maupun hayati dan lain-lainnya dalam jumlah yang sangat berlimpah. Estimasi berpotensi menghasilkan minimal Rp20.000T per tahun!!!
  2. Perluasan wilayah kedaulatan dengan kisaran 3,500,000 Km2 (selisih sedikit dengan luas lautan milik NKRI). Selain itu perairan ini juga teridentifikasi memiliki lebih dari 200 gugusan pulau dan karang yang sebagian besar berada di Kepulauan Spratly.
  3. Kebutuhan akan teras muka yang lebih terbuka menghadap Samudera Pasifik (lihat peta).
  4. Keuntungan bonus dari LCS, Tiongkok dapat dengan mudah membuka akses Jalur Sutra Maritim dari Asia Tenggara hingga benua Afrika. Tentu disertai pula dengan misi ekspansi hegemoni di dunia. Efek domino dari Jalur Sutera Maritim ini tanpa diragukan lagi akan menjadikan Tiongkok superior diberbagai dimensi.
  5. Mengambil alih supremasi kekuasaan dunia dari USA sekaligus ‘mengemplang’-nya karena menunggak hutang yang akan tetap ditagih kemudian.
  6. Menghormati hak para leluhur dengan merebut kembali wilayah warisan kekuasaan nenek moyangnya.

USA akan menempuh opsi untuk berperang demi menyelamatkan negaranya dari kekacauan akibat lilitan hutang yang akan segera jatuh tempo yang pasti akan ditagih oleh Tiongkok, sedangkan dengan menciptakan peperangan baru maka justru akan mendapatkan keuntungan yang fantastis. Sementara Tiongkok sudah melihat gelagat USA akan mengelak dari kesepakatan awal dan tidak ada niat baik untuk memenuhi janji tersebut.

Melihat intrik kepentingan politik yang kerap terjadi, tidak menutup kemungkinan bahwa diawal telah terjadi kesepakatan antara USA dengan Tiongkok pada saat itu, yakni :

‘Bila USA menutup mata terhadap ekspansi Tiongkok di Laut China Selatan maka Tiongkok berkewajiban membantu USA dalam pendanaan guna menopang perekonomiannya yang sedang terpuruk’.

Karena USA sedang dilanda kegoyahan perekonomian yang merambat kesegala sektor dan membutuhkan dana dengan cepat maka sudah pasti diterima kesepakatan tersebut. Mengenai pembayaran kembali dana obligasi tersebut, hal itu urusan belakangan. Yang terpenting selamat dulu!!! Tiongkok tertipu atau….entahlah mungkin salah satu strategi perang Sun Tsu.

Itikad awal Tiongkok mungkin untuk ‘membeli’ USA, menyanderanya dan dapat pula keuntungan dari pembelian obligasi tersebut….plus potensi LCS itu sendiri (Wah…panen kita), tapi bukan USA bila tidak mempergunakan standar ganda. Oleh karena itu, Tiongkok yang sakit hati akan maju terus sesuai agenda semula dalam pengambilalihan Laut China Selatan (toh dalam setahun dengan mudah modal juga bisa balik dari hasil potensi LCS) serta akan terus melakukan persiapan dengan sangat matang menuju peperangan frontal yang sudah terlanjur jauh untuk mundur kembali dikarenakan akan menghadapi banyak pion-pion menuju USA.

Kesimpulan :

Dunia sudah kembali mempergunakan hukum rimba, sangat mustahil menempatkan 2 singa jantan dalam 1 kandang dan tidak mungkin 2 negara serakah ingin membagi dunia ini untuk berdua, satu harus tunduk atau dilenyapkan yang terkuat berkuasa hanya boleh ada seorang raja. Dan seperti kita lihat dihadapan mata kita hari ini, persiapan dan penggalangan aliansi kekuatan sedang dipertontonkan.

Dimanakah posisi NKRI berada? Semoga kita tetap konsisten dalam berpendirian – Non Blok! Untuk tidak menjadi pion meskipun dengan segala iming-iming gulali demi kepentingan bangsa lain. Tetap terus membangun dan menjaga ketat kedaulatan negara kita adalah sebuah kewajiban hingga pada saat yang tepat kita masuk untuk berjaya.

Pantau api yang terbakar sepanjang sungai’ – Sun Tsu.

Kita doakan selalu agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan jalan yang terbaik.

Coretan yang disuratkan secara umum tanpa menghilangkan yang tersiratkan untuk diambil hikmahnya sambil menemani sahabat semua minum kopi dan cemilan : Raymond. Salam hangat.

Sharing

Tinggalkan komentar