Jejak Sejarah Taliban, Berawal dari Pejuang yang Didukung AS

Kelompok milisi atau pejuang Taliban kini mendeklarasikan diri sudah menguasai Afganistan. Pemerintahan yang dipimpin Presiden Ashraf Ghani juga sudah meninggalkan negara tersebut.

Taliban pernah memimpin Afganistan pada 1996-2001 dengan memberlakukan syariat Islam secara ketat. Selain itu, pada masa itu Taliban juga dikenal melarang perempuan bekerja bersama laki-laki serta memberlakukan hukum rajam.

Siapa Taliban?

Dikutip dari berbagai sumber, nama Taliban biasa diartikan sebagai “pelajar” atau mahasiswa. Perjuangan Taliban berawal dari kelompok pejuang atau Mujahidin yang didukung Amerika Serikat. Mereka merupakan para gerilyawan Islam fundamentalis yang pada tahun 1970-an dan 1980-an memerangi Uni Soviet di Afghanistan.

Pada tahun 1990 kelompok Taliban kemudian mulai merebut sejumlah wilayah di Afghanistan. Hingga pada tahun 1996 Taliban mampu menguasai Kabul. Sejak menguasai Afghanistan kelompok tersebut mulai melakukan berbagai tindakan brutal dengan membantai lawan-lawannya.

Tak hanya itu Taliban juga bersekutu dengan kelompok-kelompok teroris, menindas hak-hak perempuan, menerapkan hukuman kejam. Taliban juga menghancurkan sejumlah situs kuno di Afganistan.

Puncaknya, pada tahun 2001, setelah serangan 11 September di Amerika Serikat, negara-negara barat melakukan invasi untuk menggulingkan rezim Taliban. Namun dengan kekuatannya, Taliban bertahan dan bahkan mampu mengendalikan daerah pedalaman. Perjuangan mereka bahkan juga mendapat dukungan dari penduduk setempat.

Melansir ABC news, pada periode 1996-200, Taliban memberlakukan berbagai hukum Islam esktrem. Para perempuan dilarangan keluar rumah tanpa muhrimnya. Mereka diharuskan mengenakan burqa yang menutup wajah hingga ujung kaki. Selain itu para perempuan juga dilarang bekerja dan anak perempuan dilarang mengenyam pendidikan.

Selain itu, Taliban juga melarang musik dan televisi karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran islam. Sementara hukuman bagi para pencuri adalah potong tangan dan hukum cambuk dan rajam sampai mati di depan umum bagi orang yang melakukan perzinahan. Bahkan, Taliban dikabarkan menghancurkan patung Budha Bamiyan berusia 1.500 tahun.

Janji Baru Taliban

Namun Taliban saat ini berjanji akan meninggalkan kebijakan kerasnya, beralih dari konservatisme menjadi Taliban yang lebih moderat dan menghormati hak-hak perempuan.

Dalam wawancaranya dengan Associated Press (AP), juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, memastikan sikap kelompoknya terkait masa depan Afghanistan. Dia mengatakan Taliban tidak ingin mengulang kebijakan yang sama seperti 20 tahun lalu.

Dalam pemerintahan baru Taliban, perempuan akan diizinkan bekerja, sekolah, dan terlibat dalam politik tapi harus memakai jilbab. Waktu akan membuktikannya.

*Foto: Taliban di Afghanistan 2021. (@Voice of America News).

Leave a Comment