Trik Ryamizard Redam Tiongkok Soal Laut China Selatan

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Shangrila Dialogue, Singapura

Jakarta – Wilayah Laut China Selatan masih menjadi perebutan sehingga mempertegang hubungan Tiongkok dengan negara-negara yang berbatasan. Adalah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang mencoba memberikan solusi dan mendapat respon baik dari Tiongkok.

Pekan lalu, Ryamizard hadir dalam Shangri-La Dialogue di Singapura. Forum tersebut merupakan acara bagi menhan-menhan dan pejabat pertahanan di Asia Pasifik. Pada kesempatan itu Ryamizard bernegoisasi dengan Menhan Tiongkok dan Menhan / Pejabat dari negara-negara yang bersengketa mengenai Laut China Selatan.

“Di sekitar Laut China Selatan sudah saya sampaikan mari patroli bersama. Bukan patroli keamanan, tapi patroli perdamaian. Dan mereka terima. Saya bilateral dengan China, cuma saya sendiri yang diterima, yang lain nggak. Saya juga sampaikan soal patroli perdamaian, dia (Menhan China) setuju,” ungkap Ryamizard saat berbincang santai di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, (3/6/2015).

Menhan Tiongkok, diceritakan Ryamizard, pada Shangri-La Dialogue mendapat banyak protes dari sejumlah negara. Bahkan sang Menhan Tiongkok sampai marah dan keluar dari ruangan forum. Hanya Ryamizard yang berhasil meluluhkan hatinya.

“Tidak ada yang berani dekat-dekat Menhan China. Di dialog itu China banyak yang memojokkan, sampai marah dan keluar. Konsep China bagus, tapi saya sampaikan ke beliau, belum tentu semua bisa terima,” kata Ryamizard.

Menhan Ryamizard Ryacudu dan Menhan Singapura Dr Ng Eng Hen, berbincang di sela Shangrila Dialogue

“Kalau sudah patroli bersama, nggak ada ribut-ribut. Jadi nggak ada intip-intip, China kesal juga lah kalau diintipin terus. Kalau udah patroli sama-sama, kan barengan. Menhan China setuju, sangat setuju,” sambungnya.

Pejabat pertahanan dari negara-negara lain sempat tidak percaya dengan kemujuran Ryamizard yang diperbolehkan bertemu 4 mata dengan Menhan Tiongkok. Akhirnya, mantan KSAD tersebut ditunjuk menjadi penghubung dan koordinator.

“Saya sampaikan wakil PM dan Menhan di ASEAN. Saya bilang China mau ketemu, mereka tanya beneran mau? Ya nyatanya emang mau. Mereka bilang ya udah terserah pak Ryamizard saja gimana, kita ikut,” tuturnya santai.

Chinese Admiral Sun Jianguo dalam Shangrila Dialogue 2015

Ryamizard memang selalu menyampaikan konsep perdamaian saat melakukan kunjungan-kunjungan bilateral. Mengenai permasalahan maritim, Laut China dianggapnya bisa berpotensi menimbulkan perang di kawasan Asia Pasifik. Ia ingin mencegahnya.

“Di Selat Malaka kan patroli bajak laut, saya nggak mau di Somalia dibawa ke sini. Di sini nggak boleh. Yang punya batasan negara Indonesia, Singapura dan lainnya. Makanya kita latihan bersama, hadapi bersama. Itu harus diamankan. Kalau (masalah) Laut China Selatan dibiarkan terus, bisa terjadi perang,” ucap Jenderal (Purn) Bintang 4 tersebut.

Mengenai kapan akan mulai dilaksanakannya patroli damai di Laut China Selatan, Ryamizard masih akan membahasnya lebih lanjut terkait teknis atau operasionalnya. Ia akan bertandang ke Tiongkok dalam 1 atau 2 bulan ini.

“Yang lain-lain (soal teknis) nanti kita selesaikan di China. 1-2 bulan ini kita akan ke sana. Mereka (Menhan dan pejabat pertahanan China) kan mau lapor lagi ke bosnya. Tahun ini saya ke sana bahas,” tukas Ryamizard.

Dengan contoh ini, Menhan menilai Indonesia berpeluang menjadi pihak penengah jika ada konflik antar negara sahabat. Ia juga berharap agar kawasan lain bisa mencontoh kawasan ASEAN yang kini telah berusia 48 tahun.

“Kita berpeluang sebagai penengah, tapi harus selalu netral. Dari dulu kita netral, dirikan KAA diterima. Paling tidak di kawasan kita tidak terjadi apa-apa. Kalau ada patroli perdamaian nggak akan ada perang. Di ASEAN sendiri pada waktu 48 tahun lalu, kita sepakat kalau ada suatu permasalahan tidak boleh ribut menggunakan senjata, harus dialog. Jadi di kawasan kita tidak boleh ada perang karena sudah janji,” terang mantan Pangkostrad itu.

“Kebersamaan ASEAN sudah 48 ini, dan bagus tidak ada konflik. Ini waktu yang cukup lama, ini bisa jadi contoh untuk kawasan lain. Yang patroli perdamaian contoh juga, misalnya di Eropa jadi buat format baru. Andaikan seperti itu di seluruh dunia tak akan ada perang,” imbuh Ryamizard penuh harapan.

Putera Sumatera ini memang sedang giat-giatnya menyampaikan perdamaian baik untuk prajurit TNI maupun kepada kancah internasional. Pasalnya selama ini Ryamizard mengaku mendapat stigma dirinya hanya dikenal sebagai prajurit perang yang keras.

“Biar orang bilang Ryamizard nggak cuma soal perang aja. Kan ada yang bilang Ryamizard tahunya perang doang. Ya iyalah, tentara nggak bisa perang banci itu,” tutupnya sambil bercanda.

Detik.com