Lanud Tarakan Butuh Pesawat Tempur Sergap

Perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia di sekitar Sipadan sampai dengan ini masih menyisakan masalah, tercatat sejak Januari hingga Mei 2015 negara Malaysia telah melanggar kedaulatan wilayah udara Indonesia. Sebanyak sembilan kali baik itu penerbangan militer, sipil maupun mesawat tidak berawak.

Seringnya terjadi pelanggaran udara, TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut menggelar operasi bersama dengan sandi Perisai Sakti 2015. Operasi ini akan melibatkan berbagai jenis pesawat tempur seperti Sukhoi, F16, super tucano, pesawat pengintai b 737 serta helikopter. Sementara dari TNI AL akan mengerahkan kapal perang disepanjang perbatasan.

Dikatakan Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, 10/06/2015, antara Malaysia dengan Indonesia sudah melakukan sedikitnya 20 kali pertemuan untuk membahas sengketa perbatasan di Kalimantan Utara, seperti dikutip dari Dispen TNI AU.

Namun sampai dengan kini belum membuahkan hasil, dengan adanya Operasi Perisai Sakti 2015 diharapkan tindakan pelanggaran wilayah perbatasan dapat dihentikan. TNI AU akan memberikan tindakan tegas mulai dari pengusiran hingga menembahk jatuh apabila peringatan tidak diindahkan.

Sementara itu, Komandan Pangkalan Udara Tarakan, Letkol Penerbang Tiopan Hutapea menyatakan, Lanud Tarakan membutuhkan pesawat tempur dengan spesifikasi tempur sergap seperti Sukhoi dan F 16, sebab Lanud Tarakan belum memiliki skuadron tempur sendiri untuk menambah kekuatan, juga akan disiapkan satu batalyon pasukan khas TNI AU berkemampuan pertahanan udara.

Tiopan Hutapea menegaskan, Lanud Tarakan adalah Lanud terdepan mempertahankan kedaulatan wilayah negara. Selain menjaga kedaulatan, Lanud Tarakan juga berfungsi sebagai Pos Aju pengiriman pasukan dan perbekalan disepanjang pos perbatasan Kalimantan Utara.

Elshinta.com