Pemimpin Oposisi Pertanyakan Kebijakan Narendra Modi soal Taliban

JakartaGreater  –  Pada hari Selasa 3-8-2021, Kementerian Luar Negeri India mengumumkan dimulainya dialog formal dengan Taliban ketika duta besarnya untuk Doha, bertemu dengan kepala kantor politik gerakan Taliban tersebut.

Setelah New Delhi memulai pembicaraan resmi dengan Taliban, para pemimpin oposisi India telah menuntut agar pemerintah memberikan kejelasan tentang kebijakan terhadap organisasi  yang dinilai teror, dirilis Sputniknews.com, pada Rabu 1-9-2021 .

Omar Abdullah, mantan kepala negara bagian Jammu dan Kashmir, mengatakan bahwa pemerintah harus menjelaskan kepada negara itu apakah Taliban dipandang sebagai teroris atau tidak.

“Taliban adalah organisasi teror atau bukan. Tolong jelaskan kepada kami bagaimana Anda melihat mereka”, kata Abdullah setelah memimpin pertemuan para pemimpin partai di Srinagar.

“Jika mereka adalah kelompok teror, mengapa Anda berbicara dengan mereka? Jika tidak, apakah Anda akan bergerak ke Perserikatan Bangsa-Bangsa dan membuat mereka dihapuskan sebagai organisasi teror? Tentukan keputusan Anda,” tambahnya.

Asaduddin Owaisi, anggota parlemen senior dan ketua All India Majlis-e-Ittehadul Muslimeen (AIMIM), juga bertanya kepada pemerintah apakah pembicaraan resmi India dengan Taliban akan mengarah pada pengakuan kelompok teroris.

Taliban masih dianggap sebagai organisasi teror sesuai Resolusi 1267 DK PBB untuk menyediakan perlindungan bagi teroris Al-Qaeda Osama Bin Laden.

Para pemimpin oposisi mulai menyerang pemerintah setelah India membuka pembicaraan diplomatik resmi dengan Taliban pada Selasa. Utusan India untuk Qatar, Deepak Mittal, bertemu dengan diplomat kunci Taliban Sher Mohammad Abbas Stanikzai di Kedutaan Besar India di Doha pada hari AS menyelesaikan penarikan pasukannya dari Afghanistan.

File: Petempur Taliban, 2021. (@VOA – commons.wikimedia)

Leave a Comment