PGRI: Kenaikan Harga Bahan Pokok Ganggu Pendidikan

Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo mengatakan, kenaikan harga beberapa bahan pangan telah berdampak buruk pada siswa dari keluarga miskin dan guru, khususnya yang bukan pegawai negeri sipil (PNS).

“Siswa dari keluarga miskin sudah mulai kesulitan memperoleh biaya transportasi dan biaya hidup. Beberapa siswa bahkan sudah mulai bekerja membantu orangtua dalam menopang kehidupan rumah tangga,” kata Sulistiyo melalui siaran pers diterima di Jakarta, Selasa (16/6/2015), seperti dikutip Antara.

Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) itu mengatakan, hal itu berdampak serius pada sebagian siswa untuk menikmati pendidikan. Bahkan, sudah ada anak yang sedang mempertimbangkan untuk berhenti sekolah sementara karena harus membantu orangtua.

“Alhamdulillah, guru-guru bergotong royong membantu mereka, sehingga sampai kini masih tetap bersekolah,” tuturnya.

Kenaikan harga kebutuhan pokok juga sangat dirasakan pengaruhnya bagi guru non-PNS, yaitu guru honorer maupun guru di sekolah swasta kecil. Menurut Sulistiyo, penghasilan mereka yang minim membuat mereka tidak berdaya dengan kenaikan harga.

“Harga-harga tidak naik saja, mereka sudah kesulitan sehingga harus mencari tambahan pekerjaan secara serabutan. Apalagi dengan penghasilan yang tidak naik, harga-harga naik semua. Hal itu sangat mengganggu kinerja mereka,” katanya.

Sulistiyo mengatakan, para guru honorer dan tidak tetap di sekolah swasta kecil, banyak yang menerima penghasilan hanya sekitar Rp 250.000 perbulan.

Bahkan, tahun ini banyak honor yang akan berkurang nilainya karena Kementerian Pendidikan menurunkan anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) yang biasa digunakan untuk mendukung pemberian penghargaan kepada guru.

“Sekarang maksimal hanya 15 persen saja. Padahal tahun lalu minimal 20 persen. Kementerian Pendidikan perlu memperoleh pemahaman yang baik tentang kondisi riil sekolah,” ujarnya.

Bila itu dibiarkan, Sulistiyo khawatir mutu pendidikan yang tidak beranjak naik akan semakin terperosok, terseok dan terjerembab. Karena itu, ia meminta pemerintah segera menstabilkan harga bahan pangan yang terjangkau oleh masyarakat bawah dan miskin.

Pemerintah disebutnya harus serius melakukan upaya-upaya kongkrit untuk mengatasi kenaikan harga.

“Di beberapa negara, harga-harga bisa stabil, tidak terpengaruh kenaikan gaji, tahun baru, menyongsong bulan Ramadhan, termasuk hari raya Idul Fitri,” katanya.

Kompas.com