Drone Serbaguna Orion, dari Peran Tempur hingga Pengintaian Ekstrem

JakartaGreater  – Kendaraan udara tak berawak Orion (UAV) yang dikembangkan oleh Kronshtadt dapat melakukan pengintaian dalam cuaca ekstrem seperti di Kutub Utara dan Antartika, ujar CEO pengembang drone Sergei Bogatikov kepada TASS, 11/10/2021 dalam sebuah wawancara.

“UAV Orion adalah salah satu drone paling andal secara global di kelasnya.

Drone Orion mampu berfungsi dalam kisaran suhu minus 50 hingga plus 50 (derajat Celcius) dan terbang dalam kondisi lapisan es (icing) jangka pendek, karena anti -sistem es yang dikembangkan oleh Kronshtadt.

Sistem ini memiliki cadangan 3 kali lipat dari semua sistem utama. Semua poin ini digabungkan memungkinkan untuk menggunakan sistem dalam kondisi iklim yang paling keras, dari gurun kering dan panas dan hutan lembab hingga Arktik dan Antartika,” kata Sergei Bogatikov

Salah satu tugas utama UAV Orion adalah memantau dan mengendalikan navigasi di wilayah Rute Laut Utara, tambah Bogatikov.

uav oreon
Drone Orion. (@Nickel nitride – commons.wikimedia)

Kronstadt memulai pengembangan UAV Orion pada tahun 2011 sebagai bagian dari program Inokhodets yang didanai oleh Kementerian Pertahanan Rusia.

Pada 2013-2015, perusahaan mengungkapkan tata letak pertama Orion. Pada Mei 2016, RIA Novosti melaporkan bahwa uji terbang drone dimulai.

Menurut Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, Orion diuji untuk misi serangan pada 2019 di Suriah. Pada tahun 2020, Kementerian Pertahanan Federasi Rusia menerima satu batch drone Orion untuk operasi uji coba.

Kementerian Pertahanan Rusia dan Kronshtadt juga telah menandatangani kesepakatan untuk pengadaan 5 batch Orion yang ditingkatkan, Inokhodets-RU (juga dikenal sebagai Sirius) dengan beberapa drone per batch, yang akan dikirimkan pada tahun 2023.

UAV Orion mengambil bagian dalam latihan skala besar Rusia-Belarusia Zapad pada September 2021.

*Foto cover: UAV Orion-E

Leave a Comment