Ketika Sailendra Harus Menghadapi Raksasa Wei dan Yuan

image

Wei merupakan kerajaan sangat besar dan siap mengerakkan militer dan armada perangnya. Armada Wei ada tiga: armada timur, barat dan tengah.

Kerajaan Wei cuma ditandingin oleh armada kerajaan Yuan yang mempunyai 5 armada militer yang paling kuat di jagad raya.

Negeri jauh di selatan ada kerajaan namanya Sailendra mempunyai sumber daya manusia yang hebat dan alam yang kaya. Sailendra mempunyai proksi di elite kerajaan dan armada perangnya. KKN
meluas di kalangan adipati dan pengurus kerajaan. Biarpun sumber daya alam berlimpah, namun hanya dikuasai oleh elit kerajaan (adipati, menteri dan kalangan istana).

Dekat sailendra ada kerajaan namanya Chitu, oleh rakyat Sailendra saudara muda itu dianggap licik dan berhati jahat (di kalangan rakyat sailendra lo bukan elitenya). Selain berbatasan dengan Chitu ada kerajaan mungil namanya Shu. Biarpun kecil, para adipati Shu sangat pintar mengelola kerajaan kecil dalam ekonomi dan militer.

Nah, kerajaan Shu menjalin aliansi dengan kerajaan Yuan, mendekatkan diri dengan Wei, maupun Sailendra dan kerajaan Tokugawa. Diplomasi Kerajaan Shu lentur dan lihai.

Dulu kerajaan Tokugawa hebat di bidang ekonomi dan memiliki armada militer yang kuat. Karena kalah perang dengan Yuan, militernya dilucuti dan cuma ekonomi dibiarkan kuat.

Untuk menandingin aliansi Yuan dan Tokugawa dalam bidang geopolitik, ekonomi dan militer, maka Wei membangun aliansi dengan kerajaan Tsandom di utara. Aliansi ini cukup kuat.

Wei diam-siam menguatkan armada militer dengan semangat tung fang pu pai(penguasa asia timur raya) dengan mempraktekkan strategi perang proksi di goyuryo barat, yang merupakan kerajaan boneka Wei. Nah lawan menandingi di goyuryu timur dengan ekonomi lumayan makmur. Perang berkecamuk saling dukung antara goyuryo di timur didukung yuan, dan goyuryo barat didukung Wei, membuat rakyat kedua pihak menderita baik ekonomi, militer dan sosial politik.

Bagi Wei sandungan pertama untuk menguasai asia timur dan selatan adalah kerajaan Wu. Dulu Wu merupakan sempalan dari kerajaan Wei dan elite Wu merupakan pemberontak bagi kerajaan Wei yang harus ditaklukan dengan kekuatan militer dan politik (tanpa perang).

Wu diam diam menjalin aliansi dengan kerajaan Tokugawa dan Yuan untuk menandingin armada perang kerajaan Wei. Diam diam kerajaan standom melakukan invasi militer terhadap gugus armada Yuan. Kerajaan Yuan menyiapkan 2 armada perangnya menghadapi standom. Perang antara kedua pihak yuan dan standom, membuat standom menjadi lemah, Yuan kehilangan dua armada,kekuatan armada perang yuan tinggal 3 armada perang.

Kerajaan Wei diam diam mengirim 1 armada ke selatan. Sebagai basenya dipilih pangkalan dekat baodao. Wei menjalankan politik menekan dengan geopolitik dan armada perangnya, diantara negara negara yang ada dekat kerajaannya: champasa, pala, baodao, chitu, pintu, sailendra, maius, chakri, shu, konbaun.

Dari semua tekanan itu negara champasa, pala, chakri, konbaun dan terakhir bao dao menjadi sekutu dari Wei.

Yang menjadi sandungan bagi Wei di selatan, tinggal kerajaan chitu, pintu maius dan sailendra yang tidak mengakui politik kerajaan Wei. Negara kecil Shu bermain dua kaki dalam politik (mengakui wei tapi menjalin hubungan yuan, dan bekerja secara ekonomi dengan sailendra).

Melihat geopolitik yang sedang panas, diam diam Maius menjalin aliansi dengan yuan. Armada yuan dikirim ke maius sebagai basis untuk menyerang atau melindungin Maius.

Wei segera menyerang Wu dengan 1 armada perang. Wu bertahan namun karena keterbatasan armada, Wu akhirnya ditaklukkan dengan perang lumayan singkat.

Melihat gerak gerik Wei, negara Yuan segera mengirimkan armada perangnya di base kerajaan tokugawa. Artinya dari semua armada cuma tinggal satu yang melindungi kerajaan Yuan. Yuan segera melakukan perang strategi, dengan mengatakan bahwa wei menyerang maius. Yuan dan Tokugawa menyerang satu sisi dari kerajaan wei (tinggal 1 armada perangnya).

Yuan menjamin aliansi dengan khurasan, kerajaan yang berbatasan dengan kerajaan Wei di sebelah barat. Wei mempunyai kaum pemberontak di barat khurasan, namanya pemberontakan khurasan barat. Wei memakai khurasan barat untuk menyerang khurasan pusat bila terjadi perang antara wei dan khurasan.

Melihat armada di selatan, Wei segera menyerang negara pintu dan chitu. Karena kekuatan militer chitu dan pintu lemah, armada Wei menaklukan dengan mudah. Salah satu invasi Wei adalah untuk menhajar Maius. Nah keindahan sumber daya alam Sailendra juga mengoda Wei. Negara Wei mengirim utusan perang ke sailendra untuk aliansi, sambil Wei menyiapkan armada perang. Kerajaan sailendra menolak. Karena sailendra sangat luas dan banyak penduduknya, perang dengan armada wei berkelanjutan.

Di saat wei dan sailendra lagi bertempur, Maius dibantu yuan segera menyerang berapa provinsi dan kabupaten di sebelah timur sailendra tanpa perlindungan armada sailendra. Beberapa propinsi lepas menjadi jajahan armada maius dan yuan.

Di saat wei lagi sibuk di selatan, yuan dan tokugawa menyerang dari timur, dan khurasan menyerang dari barat. Kesiapan armada wei akhirnya bertarung 3 front di selatan dengan sailendra, di timur dengan yuan dan tokoguwa, khurasan di barat. Wei juga dibantu khurasan barat (proksi) untuk menyerang khurasan pusat, membuat rakyat dan militer dari pihak yang betikai menderita.

Akibat dari perang itu, negara yuan, wei, sailendra, khurasan, tokugawa, standom memudar kekuatan geopilitik maupun ekonominya.

Bagi elite sailendra di situ diliat apakah memperbolehkan wei menguasai laut selatan dan aliansi, atau menjalin aliansi dengan maius dan yuan, menusuk dari belakang membuat kehilangan berapa propinsi, apakah memakai jurus strategi Shu mengakui kedua pihak?.

Yuan; 5 armada perang status super power.
Wei; 3 armada sangat hebat hampir sekuat super power atau menyamai super power (4armada).
Standom, khurasan;2 armada sangat kuat.
Sailendra, tokugawa, baodao, maius; 1 armada kuat.
Kobaun, chakri, champasa, pala,wu, shu, goyuryu barat dan timur, chitu, pintu military tidak begitu kuat.

Cerita ini berdasarkan fiktif cerita jaman dulu tanpa opini dan bahasa untuk mengiring.

Salam damai selalu dan cerita ini aemoga menjadi bahan untuk membaca (jangan ambil dihati ya).

dari Bukek Siansu

Tinggalkan komentar