Kapan Lagi PT DI Rakit Pesawat Tempur ?

Eurofighter Typhoon

Jakarta – Produsen jet tempur asal Eropa, Eurofighter, menawarkan produknya ke Indonesia. Eurofighter ingin menjual jet Typhoon untuk menggantikan pesawat tempur F-5 milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara yang telah uzur. Satu skudaron terdiri dari sekitar 16 jet tempur.

Eurofighter juga telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu untuk membahas lebih lanjut rencana kerjasama pengadaan jet tempur Typhoon.

“Empat dubes dari produsen pesawat tersebut (Jerman, Spanyol, Inggris dan Italia) mengirimkan surat ke Menteri Pertahanan Ryamizard tentang sebuah formula yang telah ditandatangani oleh Menteri Pertahanan keempat negara tersebut. Pemerintah mendukung sepenuhnya,”, tutur Head of Industrial Offset Eurofighter, Martin Elbourne kala berbincang di Hotel Grand Hyatt, Kamis (6/8/2015).

Saat bertemu Menhan RI, Eurofighter juga menyerahkan Letter of Support (LoS). LoS ini ditandatangani oleh 4 duta besar anggota konsorsium Eurofighter yakni Spanyol, Jerman, Inggris, hingga Italia.

Elbourne mengatakan, surat tersebut intinya berisi program alih teknologi yang dilakukan Eurofighter untuk industri penerbangan di Indonesia. Syaratnya TNI AU harus bersedia menggunakan pesawat tempur produk Eropa tersebut sebagai pengganti pesawat tempur F-5.

“Kita menawarkan training, dan transfer teknologi yang sudah diajukan industri. Kita menawarkan itu semua. Kita harapkan itu bisa memberikan kenyamanan bagi pemerintah Indonesia. Bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga untuk 4 negara itu,” katanya.

Elbourne mengatakan, hingga kini belum ada keputusan final dari Pemerintah Indonesia terkait produsen yang bakal memasok jet tempur pengganti F-5. Selain Eurofighter, produsen jet tempur lainnya juga berlomba-lomba untuk menyediakan pesawat tempur ke TNI.

Pesaing Eurofighter di antaranya adalah Sukhoi asal Rusia dengan SU 35, Lockheed Martin asal Amerika Serikat dengan F16, Dassault Rafale buatan Perancis, hingga Saab AB asal Swedia dengan Gripe.

“Yang pemerintah lakukan adalah akan mengganti pesawat F5, ada beberapa kandidat, salah satunya Eurofighter. Kita memberikan informasi, kita mendemonstrasikan komitmen di Indonesia. Kita akan melatih pilot, yang kedua adalah transfer teknologi, ada yang kita tawarkan adalah untuk mentransfer juga perakitan akhir di Bandung, di PT DI (Dirgantara Indonesia),” tuturnya.

Eurofighter Typhoon

Kapan Lagi PT DI Rakit Pesawat Tempur ?
Dalam tawarannya kepada Indonesia, Produsen Eurofighter Typhoon akan memberikan program alih teknologi alias transfer of technology dengan syarat Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersedia memakai pesawat tempur produksi mereka.

Dalam program alih teknologi, jet tempur buatan 4 negara Eropa itu akan dirakit pada fasilitas PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung, Jawa Barat.

“Ini adalah tawaran menarik dan bisa membuat industri pesawat di Indonesia naik ke level yang lebih tinggi,” tutur ?Head of Industrial Offset Eurofighter, Martin Elbourne di Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Selain tawaran transfer teknologi, Eurofighter menyebut keunggulan produk jet tempur buatannya. Typhoon memiliki daya jelajah yang lebih tinggi daripada jet tempur sejenis di kelasnya.

“Dari sisi operasionalnya, Eurofighter bisa menjangkau jarak yang lebih tinggi, lebih cepat, dan membawa? lebih banyak senjata dari jet tempur lainnya. Dia bisa beegerak lebih tinggi, cepat, bermanuver lebih cepat karena punya dua mesin. Itu kuncinya,” sebutnya.

Tanpa menyebut nilainya, Elbourne juga mengatakan, pesawat yang dibuatnya ini juga lebih hemat bahan bakar dibanding kompetitornya seperti pesawat F-16, SU-35, hingga Rafalea.

“Kita lebih hemat bahan bakar, dan lebih efisien,” ungkapnya.

Terkait dengan harga, Elbourne masih merahasiakannya. Tapi dia memastikan, harga dari Eurofighter Typhoon akan kompetitif dibanding pesawat kompetitornya. Dia juga menawarkan garansi selama 30 tahun tanpa biaya perawatan.

“Kalau anda budget, yang pertama menawarkan 10 pesawat, yang lainnya tawarkan 6 pesawat. Pasti pilih yang 10 pesawat. Tapi kalau yang 10 pesawat itu dalam 5 atau 10 tahun harus ada yang diganti komponennya bagaimana? Kita menawarkan whole cycle cost (biaya siklus seluruhnya), dalam 30 tahun,” katanya.

Finance.detik.com