China Siap Salip Proyek Kereta Cepat Jepang

Menteri Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi Republik Rakyat China Xu Shaoshi menggelar konferensi pers bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil dan Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di Kantor Presiden, Jakarta (10/8). (CNN Indonesia/Resty Armenia)
Menteri Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi Republik Rakyat China Xu Shaoshi menggelar konferensi pers bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil dan Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di Kantor Presiden, Jakarta (10/8). (CNN Indonesia/Resty Armenia)

Jakarta – Pemerintah China tampak serius menyodorkan proposal kerjasama pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Demi mengalahkan proposal milik Jepang, Menteri Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi China Xu Shaoshi menjamin nilai pembangunan infrastruktur kereta yang dikerjakan perusahaan asal negaranya jauh lebih murah sehingga balik modal lebih cepat.

“Saya sudah bertemu dengan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri BUMN, Menko Perekonomian, besok saya akan bertemu Wapres dan pejabat lainnya,” kata Shaoshi usai menyerahkan proposal rancang bangun proyek kereta cepat kepada Jokowi di kantornya, Jakarta, Senin (10/8).

Menurut Shaoshi, Pemerintah China dan Indonesia telah membuat nota kesepahaman pengerjaan proyek kereta api cepat yang diteken Jokowi dan Presiden China Xi Jinping pada Maret 2015 lalu. Dalam nota kesepahaman tersebut, Pemerintah beserta perusahaan China diminta untuk membuat studi kelayakan proyek tersebut.

“Hari ini diserahkan hasil studi kelayakan tersebut kepada Presiden Jokowi,” ujar Shaoshi.

Ia membocorkan isi studi kelayakan tersebut antara lain berisi rencana pembangunan jalur kereta cepat yang lebih panjang, dengan stasiun penghubung lebih banyak, dan kecepatan lebih tinggi. Desain jalur kereta cepat yang dibuat China menurutnya memiliki rentang 150 kilometer (km) dengan rasio jembatan terhadap terowongan sebesar 62 persen.

“Kereta kami mampu melaju 350 km per jam dan nantinya akan melewati delapan stasiun mulai dari Halim akan diekstensi ke Manggarai dan Gambir,” jelasnya.

Meskipun enggan menyebutkan berapa nilai proyek kereta besutannya, Shaoshi menjamin nilai proyek kereca cepat China akan lebih terjangkau dibandingkan Jepang.

“Kami memberikan harga yang financial plan lebih kompetitif, cost efective proyek kami dalam proposal lebih baik. Kami bisa menjamin proyek ini bisa rampung dalam tiga tahun. Jika groundbreaking dilakukan akhir Agustus ini, kami mulai bekerja di September dan proyek ini bisa selesai 2018,” katanya.

Siapkan Konsorsium

Jika Pemerintah Indonesia menyetujui rancang bangun infrastruktur kereta cepat buatannya, Shaoshi mengaku akan menginstruksikan badan usaha milik negara (BUMN) China di sektor transportasi dan konstruksi untuk membentuk konsorsium dengan BUMN Indonesia.

“Makanya kedua pihak nanti bisa menikmati keuntungan bersama sekaligus menanggung risiko bersama. Kedua pihak melakukan kerja sama komperhensif yang meliputi rancangan, konstruksi, pengelolaan, sampai maintainance-nya bersama,” katanya.

Dengan perhitungan yang dibuatnya, Shaoshi mengklaim dalam waktu lima tahun dioperasikan, proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung sudah memberikan keuntungan bagi perusahaan yang menjadi operatornya.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil yang mendampingi Jokowi dalam menerima delegasi China menyatakan pemerintah akan mempelajari hasil studi yang dibuat pemerintah China maupun Jepang.

“Pemerintah telah menerima hasil studi itu dan akan mempelajari serta memutuskannya dalam waktu secepatnya,” kata Sofyan.

CNN Indonesia

Sharing

Tinggalkan komentar