Rupiah Terpuruk Sentuh Rekor Terendah Sejak 1998

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Selasa (11/8/2015), makin terpuruk. Pada awal perdagangan di pasar spot pagi ini, seperti ditunjukkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, mata uang Garuda kembali melemah ke posisi Rp 13.561 per dollar AS, dibanding penutupan kemarin pada 13.550,5.

Posisi tersebut merupakan level terendah sejak krisis tahun 1998 silam. Tercatat pada tanggal 17 Juni 1998, rupiah pernah berada di puncak rekor terlemah pada Rp 16.650 per dollar AS.

Hari ini rupiah sebenarnya mendapatkan peluang untuk menguat seiring dengan melemahnya dollar AS. Penurunan indeks dollar AS diharapkan dapat meredakan tekanan atas mata uang Garuda ini.

Setelah anjlok tajam, harga minyak naik 3,7 persen hingga dini hari tadi setelah berita bahwa Tiongkok meningkatkan volume impor minyaknya. Akan tetapi hal itu dipercaya tidak mengubah pandangan yang semakin pesimistis terhadap harga minyak ke depan.

Di sisi lain, pernyataan Stanley Fischer Deputi Gubernur the Fed mengenai rendahnya angka inflasi AS yang dapat menunda kenaikan Fed rate juga memengaruhi pasar. Indeks dollar AS pun kembali tertekan dengan naiknya harga minyak. “Rupiah berpeluang menguat hari ini,” sebut Riset Samuel Sekuritas Indonesia pagi ini.

Rupiah bergerak mendatar tetapi masih dengan kecenderungan pelemahannya kemarin. Dollar AS juga menguat di pasar Asia tetapi dengan tekanan yang lebih rendah. Harga minyak yang mulai naik berpeluang membantu mengurangi sentimen negatif di negara berkembang.

Pagi ini kredit Tiongkok yang naik juga bisa menambah sentimen positif di pasar Asia. Namun dari domestik, selain perlambatan serta rendahnya realisasi anggaran sentimen negatif mulai dipicu oleh kenaikan harga daging sapi. Dampak ke inflasi mungkin tidak besar tetapi blunder kebijakan bisa menambah prespektif buruk terhadap pemerintah.

Kompas.com