AGENDA PENURUNAN HARGA MINYAK DUNIA:

ARAH ANGIN BERUBAH KIAN KENCANG

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Ketika harga minyak dunia turun, harga BBM di Indonesia malah naik. Dan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, malah diundang kembali menjadi anggota OPEC. Untuk memahaminya, mari kita telusuri beberapa peristiwa dunia  yang terjadi sebelumnya satu-persatu.

PENGANTAR:

SITUASI TERKINI

Presiden Amerika Barrack Obama berikut tim think-tank-nya yang brilian tidak pernah menduga bahwa situasinya akan menjadi seperti ini, ketika harga minyak dunia terpuruk pada suatu titik dimana efek yang ditimbulkannya bisa mengakibatkan industri minyak serpih Amerika seluruhnya gulung tikar.

PERISTIWA PERTAMA:

MENYEPAKATI SEBUAH AGENDA “BRILIAN”

Pada tanggal 11 September 2014, Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry, mengunjungi Raja Arab Saudi Raja Abdullah dengan mengemban misi yaitu membujuk Arab Saudi untuk membanjiri pasar minyak dunia dengan produksi minyaknya, sehingga terjadi over-supply, mengakibatkan harga minyak dunia turun, tetapi pada level yang masih bisa ditoleransi oleh Amerika. Agenda ini dimaksudkan untuk menghantam negara-negara yang pendapatan negaranya tergantung pada ekspor minyak. Agenda tersebut terutama ditujukan untuk menghantam Rusia terkait dengan krisis Ukraina.

Strategi ini pernah dilakukan Amerika pada era Perang Dingin. Pada tahun 1986, atas permintaan Amerika, Arab Saudi membanjiri pasar minyak dunia dengan produksi minyaknya hingga harga minyak mentah dunia menyentuh titik terendah yaitu pada harga US$ 10 per barel. Harga yang mengakibatkan industri minyak Uni Soviet kolaps, dan menghantam ekonomi Uni Soviet yang pendapatan negaranya tergantung pada ekspor minyak. Perang Dingin akhirnya dimenangkan oleh Amerika dengan senjata minyak. Hingga pada tahun 1991, Uni Soviet akhirnya bubar.

Meskipun tidak diumumkan, pada tanggal 11 September 2014 tersebut, John Kerry dan Raja Abdullah sepakat  bahwa Arab Saudi akan menggunakan otot minyak mereka untuk membawa Vladimir Putin dan Rusia berlutut kepada Amerika. Tidak diragukan lagi, pada saat itu tampaknya agenda tersebut sebagai sebuah rencana yang sangat brilian.

Pada hari berikutnya tanggal 12 September 2014, untuk memuluskan agenda yang telah disusunnya, Amerika beserta Uni Eropa mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia, merambah sektor energi, keuangan dan perbankan, serta senjata.

Dan seperti yang sudah direncanakan Amerika, harga minyak dunia mulai turun. Pada bulan Oktober 2014, harga minyak dunia berada pada level US$ 92, harga yang mengancam anggaran negara Rusia, karena anggaran negara Rusia baru bisa seimbang jika harga minyak dunia di level US$ 96. Seketika nilai tukar mata uang Rubel dengan cepat melemah  dan perusahaan-perusahaan besar Rusia berebut Dollar. Sepertinya, jatuhnya harga minyak dunia akan mengakhiri masa pemerintahan Vladimir Putin. Itulah yang diyakini oleh Washington pada saat itu, dan dengan gembira memuji senjata perang baru dari Departemen Keuangan Amerika.

PERISTIWA KEDUA:

GAGALNYA SEBUAH AGENDA BRILIAN

Pada bulan Juli 2014, harga patokan minyak dalam negeri di West Texas Intermediate (WTI) masih diperdagangkan pada harga US$ 101 per barel. Industri minyak serpih Amerika sedang booming, menjadikan Amerika  sebagai salah satu pemain utama minyak mentah dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 1970-an.

Tetapi pada bulan Januari 2015, ketika harga minyak diperdagangkan di WTI pada angka US$ 46, tiba-tiba segala sesuatunya tampak berbeda. Harga minyak dunia ternyata jatuh di bawah harga yang telah direncanakan oleh Amerika. Washington telah menembak kakinya sendiri.

Washington tersadar bahwa ada sesuatu yang keliru atau di luar kontrol Washington dengan agenda penurunan harga minyak dunia, sehingga harga minyak dunia jatuh di bawah harga yang telah direncanakan Amerika, dan industri minyak serpih Amerika sedang berada dalam bayang-bayang kebangkrutan.

Di belakang layar, Washington dan Wall Street kemudian berkolusi menstabilkan harga minyak dunia secara artifisial untuk mencegah reaksi berantai runtuhnya industri minyak serpih Amerika. Hasilnya harga minyak dunia mulai merangkak naik pada level US$ 53 di Februari 2015. Washington dan Wall Street kemudian membuat propaganda dan berbicara tentang akhir dari penurunan harga minyak dunia. Pada bulan Mei 2015, harga minyak telah merayap hingga US$ 62 dan hampir semua orang meyakini proses tersebut. Tetapi, betapa salahnya mereka.

PERISTIWA KETIGA:

SAUDI TIDAK BAHAGIA

Sejak pertemuan 11 September 2014 tersebut, pada tanggal 23 Januari 2015, Arab Saudi telah mempunyai pemimpin baru yaitu Raja Salman yang menggantikan Raja Abdullah yang menua. Namun Menteri Minyak Arab Saudi tetap tidak berubah yaitu Ali al-Naimi. Ali al-Naimi melihat kesempatan emas dalam proposal yang diajukan John Kerry yaitu peluang untuk membunuh pesaing pasar minyak konvensionalnya yang terus berkembang dan mengganggu dominasi Arab Saudi yaitu industri minyak serpih Amerika.

Arab Saudi tidak bahagia dengan perkembangan industri minyak serpih Amerika. Dan Saudi lebih marah lagi dengan kesepakatan yang baru-baru ini dibuat antara pihak administrasi Amerika dengan Iran, dimana dalam beberapa bulan ke depan Amerika akan mengangkat sanksi ekonominya atas Iran. Hal tersebut menambah tekad Arab Saudi, dibantu oleh sekutu-sekutu dekatnya di Teluk Arab, untuk lebih mencelakakan harga minyak dunia sampai pada batas yang diharapkan yaitu bangkrutnya industri minyak serpih Amerika.

Pada bulan Januari 2015, walaupun Washington dan Wall Street dapat menahan laju jatuhnya harga minyak dunia, hal yang tidak diharapkan kemudian terjadi. Pada bulan Februari 2015, OPEC mulai menaikkan produksi minyak mentahnya. Dan pada bulan Mei 2015, pasar minyak mentah dunia mendapat tambahan pasokan dari OPEC sebesar 1,5 juta barel per hari tanpa ada tanda-tanda akan menurunkannya. Padahal sebelumnya, pasar minyak mentah dunia telah kelebihan pasokan sebesar 0,8 juta barel per hari.

Singkatnya, Washington telah kehilangan pengaruh strategisnya atas Arab Saudi, Kerajaan yang dianggapnya sebagai bawahan Washington sejak kesepakatan FDR (Franklin D. Roosevelt) pada tahun 1945.

PERISTIWA KEEMPAT:

MUNCULNYA ALIANSI BARU

Aliansi AS-Saudi kemudian menuju dimensi baru ketika pada tanggal 18 Juni 2015, Muhammad bin Salman, putra dari Raja Salman, menjabat sebagai Deputi Putra Mahkota dan Menteri Pertahanan Arab Saudi, melakukan pertemuan tingkat tinggi di St. Petersburg dengan Presiden Vladimir Putin. Pertemuan itu secara hati-hati telah disiapkan oleh kedua belah pihak dengan menyepakati transaksi perdagangan senilai US$ 10 Miliar meliputi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan suplai peralatan militer canggih Rusia kepada Arab Saudi.  Arab Saudi saat ini adalah produsen minyak terbesar di dunia dan Rusia adalah terdekat kedua. Sebuah aliansi Saudi-Rusia pada tingkat apa pun hampir tidak ada dalam buku strategi think-tank-nya Departemen Luar Negeri Amerika.

PERISTIWA KELIMA:

JALAN TERJAL

Upaya Amerika untuk mendorong harga minyak dunia agar kembali naik sepertinya akan menemui jalan terjal dan mulai goyah. Harga minyak mentah dunia diprediksi akan kian jatuh didorong oleh kekhawatiran bahwa Iran akan menambah surplusnya pasokan minyak mentah dunia. Dan China, sebagai importir minyak terbesar kedua di dunia, mungkin akan mengurangi impor minyak mentahnya atau setidaknya tidak akan meningkatkan impornya karena ekonomi China sedang melambat. Dan bom waktu di pasar minyak mentah dunia akhirnya meledak di minggu terakhir Bulan Juni 2015. Harga minyak mentah di WTI telah jatuh dari US$ 60 per barel, tingkat di mana produsen minyak serpih Amerika dapat bertahan sedikit lebih lama, menuju US$ 49 per barel pada 29 Juli 2015, dengan kecenderungan terus turun.

Morgan Stanley, sebagai pemain utama di pasar minyak dunia, membunyikan alarm keras dan  menyatakan bahwa jika tren penurunan harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir terus berlanjut, maka penurunan harga minyak mentah dunia saat ini akan lebih parah dari pada tahun 1986.


PERISTIWA KEENAM: 

MENUJU AKHIR

Bulan Oktober 2015 adalah titik kunci berikutnya ketika Perbankan Amerika harus memutuskan untuk me-roll-over pinjaman para produsen minyak serpih Amerika atau terus memperluas pinjaman dengan harapan harga minyak mentah dunia perlahan akan pulih. Dari isyarat yang bisa disimpulkan dimana Federal Reserve menaikkan suku bunga pada Bulan September 2015 untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir sejak krisis keuangan global meletus di pasar real estate Amerika pada tahun 2007, maka besarnya utang para produsen minyak serpih Amerika tampaknya sedang menuju bencana dalam skala baru.

Apapun keputusan yang akan diambil oleh Amerika untuk menyelamatkan industri minyak serpihnya, tampaknya Amerika harus bersiap-siap kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu aliansi strategisnya dengan Arab Saudi. Arah angin berubah kian kencang..

Catatan Akhir:

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi kebaikan bagi semua orang. Amin.

Oleh: Pustikencana

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Soviet_Union

https://en.wikipedia.org/wiki/OPEC

https://en.wikipedia.org/wiki/Federal_Reserve_System

https://en.wikipedia.org/wiki/International_sanctions_during_the_Ukrainian_crisis

https://en.wikipedia.org/wiki/King_of_Saudi_Arabia

https://en.wikipedia.org/wiki/Saudi_Arabia%E2%80%93United_States_relations

https://en.wikipedia.org/wiki/Shale_oil

http://bisnis.liputan6.com/read/2135247/bbm-naik-premium-rp-8500-solar-rp-7500

http://www.dailymirror.lk/55515/oil-politics-the-secret-us-saudi-deal

http://www.rt.com/business/187184-eu-new-sanctions-published/

http://indonesia.rbth.com/economics/2013/11/05/revolusi_minyak_usa_vs_russia_22711.html

http://indonesia.rbth.com/economics/2014/10/08/penurunan_terbesar_harga_minyak_ancam_anggaran_rusia_25437.html

http://www.nasdaq.com/markets/crude-oil.aspx

http://www.ft.com/intl/cms/s/2/69350a3e-f970-11e4-be7b-00144feab7de.html

http://www.ibtimes.com/russian-saudi-arabian-officials-meet-st-petersburg-raising-questions-about-possible-1973456

http://www.businessinsider.co.id/morgan-stanley-on-oil-crash-potential-2015-7/

http://uk.reuters.com/article/2015/08/05/uk-oil-majors-idUKKCN0QA1NW20150805