Kohanudnas (Sebuah Opini)

latihan2

Singkatan yang digunakan

ALCM – Air Launched Cruise Missile
C2 – Command & Control
C4ISR – Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance
CEP – Circular Error Probable
DRFM – Digital Radio Frequency Memory
DSMAC – Digital Scene-Mapping Area Correlator
GCI – Ground Controlled Interception
IADS – Integrated Air Defense System
IFF – Identification, Friend or Foe
LACM – Land Attack Cruise Missile
MANPADS – Man Portable Air Defence System
PGM  – Precision Guided Munition
SBM/K3I Stasiun Bumi Mini / Komando Kendali Komunikasi dan Informasi
SEADS – Suppression of Enemy Air Defense System
ShLCM – Ship Launched Cruise Missile
TDAS – Transmission Data Air Situation
TERCOM – Terrain Control Matching
TTP – Tactics, Techniques and Procedures
VPNIP – Virtual Private Network IP

Pendahuluan

Sejarah Kohanudnas telah dimulai sejak ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor : 256 / PLT / 1962 tentang Prosedur Komando Pertahanan Udara Nasional, pada tanggal tanggal 9 Februari 1962. Pada waktu itu, Kohanudnas pernah mempunyai komponen buru sergap canggih seperti MiG-17 dan 21, serta rudal SAM SA-2 Guideline.
Namun dalam kurun waktu 53 tahun sampai sekarang perkembangan teknologi dan perang udara telah jauh maju, tetapi prinsip operasi Kohanudnas praktis sama tidak berubah yaitu GCI ? Ground Controlled Interception, yang hanya mengandalkan radar primer dan pesawat buru sergap. Padahal zaman sekarang SEADS sudah mengandalkan PGM (bom pintar), rudal ASM dan rudal jelajah ALCM, ShLCM dan LACM yang diluncurkan dari pesawat pembom dan tempur serang siluman atau bukan, kapal laut, kapal selam, dan dari darat. Apakah Kohanudnas dapat menghadapi tantangan tersebut?

GCI – Ground Controlled Interception

GCI merupakan taktik pertahanan udara dimana satu atau lebih stasiun radar atau stasiun pengamatan lainnya terkait dengan pusat komando komunikasi yang memandu pesawat buru sergap untuk sasaran udara. Taktik ini dirintis selama Perang Dunia II oleh Royal Air Force untuk menghadapi Luftwaffe. Sekarang, GCI masih penting bagi sebagian besar negara, meskipun sistem AEWC, dengan atau tanpa dukungan dari GCI, umumnya menawarkan jangkauan yang lebih besar karena cakrawala yang lebih jauh.

Pada prinsipnya, GCI Indonesia adalah mengandalkan deteksi pesawat tidak dikenal / musuh oleh radar primer, kemudian data ini dikirim ke Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional), dimana disini ditetapkan apakah merupakan ancaman atau tidak, kalau ya Popunas meneruskan data ini ke Posek (Pusat Operasi Sektor) dan memerintahkan untuk dicegat. Perintah diteruskan oleh Posek ke Pangkalan Udara terdekat yang lalu menerbangkan dengan cepat (scramble) pesawat buru sergap, yang dengan dipandu oleh Popunas dan / atau Posek, berusaha untuk mencegat pesawat tidak dikenal / musuh tersebut. Kata kuncinya adalah pengetahuan informasi sebelumnya yang terdokumentasi, informasi dan data itu sendiri (baik suara / data), dan sistem informasi (manual / otomatik).

Saat ini Kohanudnas memiliki 20 radar pertahanan udara yang tersebar di seluruh Indonesia, campuran radar generasi tahun 80-an ke atas yang terdiri atas jenis/merek Plessey buatan Inggris, Thomson buatan Prancis dan Master-T buatan Prancis.  Dalam renstra saat ini pembelian radar fambahan akan ditempatkan di  Jayapura (Papua), Tambolaka (Sumba,NTT), Singkawang (Kalbar), dan Ploso (Jatim).Yang disebutkan terakhir adalah radar pengganti unit yang lama. Sedangkan pada renstra yang akan datang direncanakan untuk ditempatkan di  Morotai (Maluku Utara), Ambon (Maluku), Kendari (Sultra), Tanjung Pandan (Belitung), Bengkulu dan Ngliyep (Malang-Jatim).

image002

Gambar 1 Organisasi Kohanudnas dan Satuan Radar-nya

Dengan adanya teknologi komputer dalam sistem radar, maka hampir seluruh radar generasi tahun 80-an ke atas sudah dapat diintegrasikan ke Pusat Operasi Pertahanan Udara baik di Posek maupun Popunas dengan menggunakan jaringan SBM/K3I dan VPNIP. Bahkan sejak tahun 1995 dimulai riset antara ITS Surabaya dan personel radar Kohanudnas untuk mengetahui protokol radar guna mengintegrasikan radar-radar sipil dan Militer dan pada tahun 2001 telah berhasil membuat / dibangun sistem TDAS (Transmission Data Air Situation), sehingga radar sipil maupun militer dapat diintegrasikan secara real time, seluruh tangkapan radar dapat dimonitor dengan menggunakan sistem ini.

image003

Gambar 2 Kapopunas beserta stafnya saat memantau pergerakan lasa x melalui Radar Thales dan TDAS di ruang Yudha Popunas Halim Perdanakusuma, Jakarta 03 November 2014.

Namun komunikasi tersebut sangat rentan terhadap cuaca (pagi dan malam hari), dan tentu saja Pernika (perang elektronika). Pernika dapat mengganggu dan mengacaukan frekwensi radio komunikasi yang digunakan Kohanudnas. Solusinya dapat dengan memakai komunikasi fibre optic, tapi ini membutuhkan biaya sangat besar.

Dengan konstruksi seperti ini, hanya mengandalkan radar GCI dan pesawat buru sergap, mampukah Kohanudnas melaksanakan pertahanan udara abad 21 yang efektif?

Selain itu, apakah real time benar-benar real? Selama ini yang sudah didemonstrasikan berhasil oleh Kohanudnas adalah interception pesawat sipil, yang terbang solo dengan kecepatan rendah, itupun memakan waktu bilangan jam. Bagaimana kalau pesawat tempur militer supersonic? Ada kabar burung mengatakan bahwa dalam percobaan interception menggunakan T-50 sebagai pesawat lawan, Flanker kita gagal dalam buru sergap, dan hanya setelah berkali-kali mencoba baru berhasil.

Network Centric Warfare

Ada komentar di artikel JKGR sebelumnya bahwa pesawat tempur Typhoon / Gripen lebih unggul dari Su-35 dalam  Network Centric Warfare. Ini adalah pendapat yang salah kaprah menandakan ketidaktahuannya.

Pada dasarnya, Network Centric adalah keunggulan informasi. Untuk memahami bagaimana informasi mempengaruhi kemampuan kita untuk melaksanakan operasi militer, adalah perlu untuk berpikir tentang tiga wilayah / domain, domain fisik, domain informasi dan domain kognitif.

image005

Gambar 3 Domain Network Centric (kredit gambar ref. 2)

Domain fisik adalah tempat di mana militer berusaha untuk mempengaruhi situasi. Ini adalah domain di mana serangan, proteksi, dan manuver berlangsung di lingkungan tanah, laut, udara, dan ruang angkasa. Ini domain di mana platform fisik dan jaringan komunikasi yang menghubungkan mereka berada. Secara relatif, unsur domain ini adalah termudah untuk diukur, dan secara tradisional kekuatan tempur (pesawat terbang, kapal perang, tank, radar, pasukan dan lain-lain) telah diukur terutama dalam domain ini. Domain fisik ditandai sebagai realitas, atau kebenaran. Metrik yang penting untuk mengukur kekuatan tempur di domain ini termasuk hal-hal yang mematikan dan bertahan selamat.

Domain informasi adalah di mana informasi hidup. Ini adalah domain di mana informasi dibuat, dimanipulasi, dan berbagi. Ini adalah domain yang memfasilitasi komunikasi informasi antara pejuang. Ini adalah domain di mana perintah dan kendali pasukan militer modern dikomunikasikan, di mana niat komandan disampaikan. Informasi yang ada dalam domain informasi dapat atau mungkin tidak benar-benar mencerminkan kebenaran / realitas. Sebagai contoh, sebuah sensor mengamati dunia nyata dan menghasilkan output (data) yang ada di domain informasi. Dengan pengecualian observasi sensorik langsung, semua informasi kita tentang dunia datang melalui dan dipengaruhi oleh interaksi kita

dengan domain informasi. Dan adalah melalui domain informasi kita berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu, domain informasi adalah yang harus semakin dilindungi dan dipertahankan untuk memungkinkan kekuatan untuk menghasilkan kekuatan tempur dalam menghadapi tindakan ofensif yang diambil oleh musuh. Dan, dalam semua pertempuran penting untuk Keunggulan Informasi, domain informasi adalah harga mutlak.

Domain kognitif adalah di benak para peserta. Ini adalah tempat di mana persepsi, kesadaran, pemahaman, keyakinan, dan nilai-nilai berada dan di mana, sebagai akibat dari pembuatan pikiran sehat, keputusan dibuat. Ini adalah domain di mana banyak pertempuran dan perang sebenarnya dimenangkan dan kalah. Domain ini berwujud: kepemimpinan, moral, kohesi unit, tingkat pelatihan dan pengalaman, kesadaran situasional, dan opini publik. Ini adalah domain di mana pemahaman dari Komandan, doktrin, taktik, teknik, dan prosedur berada. Banyak yang telah ditulis tentang domain ini, dan atribut kunci dari domain ini memiliki sifat relatif konstan sejak Sun Tzu menulis The Art of War. Atribut domain ini sangat sulit untuk diukur, dan masing-masing sub-domain (masing-masing pikiran individu) adalah unik.

Secara garis besarnya, Network Centric Warfare dimulai dari domain fisik di mana peristiwa terjadi dan dirasakan oleh sensor dan individu. Data yang muncul dari domain fisik ditularkan melalui komunikasi, ini adalah domain informasi. Data kemudian diterima dan diproses oleh komandan dan stafnya di mana ia dinilai dan ditindaklanjuti. Ini adalah domain kognitif. Proses penilaian ini disebut proses “observe, orient, decide, act” (OODA).

Posisi Indonesia / Kohanudnas

Untuk domain fisik :

  • Radar GCI kita masih kurang dan yang ada masih gado-gado.
  • Dan jumlah pesawat buru sergap kita Su-27/30 dan F-16 masih sangat kurang (tipe Hawk bukan tipe buru sergap, dan T-50A adalah pesawat latih yang belum punya radar dan rudal).
  • Su-27/30 punya data link TKS-2, F-16 punya Link 16, satu sama lain tidak kompatibel. Seandainya kita beli Typhoon / Gripen-pun, posisinya tetap sama, tidak membawa peningkatan kualitas. Artinya apa, TIDAK ada pesawat buru sergap yang bisa klaim lebih unggul dalam network centric terkait Kohanudnas.
  • Seandainya kita beli pesawat AEWC, apakah ini cost effective? Zaman sekarang, pesawat ini rentan terhadap rudal AAM anti-radar jarak jauh, dan untuk efektif paling tidak kita harus punya 3 atau 4 pesawat, belum biaya operasionalnya. Pesawat AEWC merupakan ekstensi dari jangkauan radar darat. Selama ini, dengan memasang radar darat di pinggir perbatasan, jangkauannya sudah cukup besar, untuk keperluan defensif sudah memadai. Lain soal kalau kita mau ofensif pre-emptive ke wilayah lawan. Tapi apakah ini adalah tugas utama Kohanudnas? Apakah sebaiknya kita melengkapi dulu radar GCI, dan juga beli sistem SAM canggih semacam S300 / 400?

Untuk domain informasi :

  • Kita menggunakan jaringan SBM/K3I dan VPNIP serta TDAS berdasarkan gelombang radio dan telepon melalui civilian networking yang semuanya rentan terhadap Pernika dan cyber attack. Bagaimana bila terjadi breakdown misalnya karena cyber attack? Apakah TTP kita sudah dipersiapkan untuk itu?
  • Isu-isu kuncinya adalah : sekuriti, kuatnya (robustness), dan kapasitas dari transmisi, pemilihan rute dari pesan dan sinyal dalam topologi jaringan, serta kompatibilitas dari protokol format sinyal dan komunikasi. Misalnya, bagaimana kompatibilitas data link 16 atau TKS-2 Flanker dengan jaringan yang ada? Seandainya kita beli pesawat AEWC, bagaimana kompatibilitasnya dengan jaringan yang ada? Namun dengan terbuktinya para ahli kita telah berhasil membuat / membangun sistem TDAS, rasanya bukan sesuatu yang impossible.

Untuk domain kognitif :

  • Selama ini yang sudah didemonstrasikan berhasil oleh Kohanudnas adalah interception pesawat sipil, yang terbang solo dengan kecepatan rendah. Bagaimana kalau interception pesawat tempur militer supersonic dan / atau rudal jelajah? Apakah sistem C2, C4ISR dan TTP kita sudah memadai untuk itu?
  • TTP untuk masa damai tentunya beda dengan masa darurat / perang. Kepemimpinan, moral, kohesi unit, tingkat pelatihan dan pengalaman, dan kesadaran situasional perlu lebih ditingkatkan lagi untuk menghadapi masa darurat / perang.

Dengan segala keterbatasan dalam semua domain, Kohanudnas masih bisa perintahkan Flanker berhasil cegat black flight, untuk itu patut kita beri apresiasi, inilah hebatnya orang Indonesia. Cara yang sama tidak ada bedanya digunakan bila misalnya perintahkan Typhoon / Gripen.

Ancaman Serangan Udara

Serangan untuk melumpuhkan pertahanan udara lawan atau SEADS pada abad 21 ini sudah sedemikian canggih. Serangan udara pesawat pembom dan tempur serang siluman atau bukan, dibantu oleh pesawat AEWC, dilakukan dalam beberapa sortie atau terus menerus, yang membawa PGM dan ALCM, dari 2 arah, atau ke 2 sasaran yang berbeda, kemungkinan besar akan membuat sistem GCI Kohanudnas ter-saturasi, apalagi jumlah pesawat tempur pencegat TNI AU hanya paling 2 skuadron (Su-27/30 dan F-16). Apalagi kalau serangan dilakukan pada malam hari dan didahului oleh Pernika.

Sebagian pesawat musuh mungkin dapat ditangkal, tetapi pasti ada yang lolos / leakers yang dapat meneruskan misinya menghancurkan sasaran.

Cara penangkalan yang lebih efektif adalah penggunaan jammer untuk mengacaukan data link (domain fisik dan informasi) lawan seperti ditunjukkan dalam Gambar 4. SU-35/34 dapat membawa perlengkapan ECM sebagai berikut : Jammer kelas berat berdaya tinggi KNIRTI SAP -14 Support Jammer ECM pod yang adalah analog kepada ALQ-99E pod yang dibawa oleh EA-6B Prowler dan EA -18G Growler. Dikembangkan untuk pesawat famili Flanker dan diangkut pada centreline pylon. Serta KNIRTI SAP-518 ECM pod yang adalah teknologi baru DRFM pengganti seri L005 Sorbstiya wingtip ECM pod.

image007
Gambar 4 Jammer (kredit gambar ref. 3)

Ancaman Serangan Rudal Jelajah

Alternatif lain yang lebih menarik dan mematikan dari SEADS adalah serangan rudal jelajah ALCM, ShLCM dan LACM kecepatan high subsonic, apalagi kalau dikombinasikan dengan serangan udara dan Pernika.

Sasarannya bisa lebih luas, yaitu bangunan gedung Kohanudnas dan Kosekhanudnas dimana terdapat Popunas dan Posek, Mabes TNI, semua Pangkalan Udara Tipe A, semua Pangkalan Laut Utama, serta semua sasaran strategis lainnya seperti KemenHan, KemenHub, KemenESDM, Kantor Pusat Pertamina, Bandar Udara Utama, Pelabuhan Laut Utama, kilang minyak, tanki timbun, Pindad, PT DI dan lain-lain. Rudal jelajah akan terbang pada ketinggian sangat rendah dari permukaan laut / daratan, dipandu oleh sistem GPS / Glonass / Beidou, dan / atau TERCOM dan DSMAC dengan akurasi CEP 5 – 10 m. Rudal jelajah yang terbang pada ketinggian sangat rendah tidak bisa dideteksi oleh sebagian besar satuan radar Kohanudnas. Selain itu, setiap sasaran dapat diprogram untuk diserang dari berbagai arah mata angin dalam waktu yang sama.

Kalau sasaran dijumlahkan kira-kira ada 30, bila setiap sasaran dijatah 5 rudal, maka hanya perlu 150 rudal jelajah untuk memporakperandakan pertahanan kita. Bila setiap rudal dihargai 1 juta USD, maka untuk menaklukkan Indonesia cukup biaya 150 juta USD, suatu harga yang sangat murah!!!

Quo Vadis Kohanudnas?

Pertanyaan ini sebaiknya ditujukan kepada Pemerintah cq Kementerian Pertahanan. Dari uraian tersebut di atas, kelihatan betapa jadul-nya sistem Kohanudnas selama ini. Pada masa normal / damai, tampaknya memadai, tetapi pada masa darurat / perang kelihatan segala kelemahannya. Seharusnya kita mulai berpikir meningkatkan sistem Kohanudnas dari berlandaskan hanya GCI menjadi sebuah IADS, yang akan mengintegrasikan pesawat buru sergap, SAM jarak jauh-menengah-pendek, MANPADS dan meriam PSU, baik di darat maupun di kapal.

Karena itu diusulkan sebagai berikut :

  1. Mengingat kondisi geopolitik sekarang, sebaiknya Kosekhanudnas I dipecah menjadi 2 dengan Kosekhanudnas Baru (Kosekhanudnas V?) membawahi SatRad 213 Tanjung Pinang (p. Bintan) dan SatRad 212 Ranai (p. Natuna). Atau SatRad 213 dipindahkan ke Singkawang, dan Posek ada di Pangkalan Udara Utama Supadio, Pontianak.
  2. Popunas dan setiap Posek harus mempunyai instalasi kembar (mirror image) yang rahasia dan jauh dari lokasi pertama. Bila ada kerusakan / kehancuran di lokasi pertama, sistem masih bisa berjalan di lokasi kedua.
  3. Komunikasi terlalu mengandalkan komunikasi gelombang radio SBM/K3I yang mudah diganggu oleh Pernika. Seperti telah disebut di atas, alternatifnya adalah memakai komunikasi fibre optic meskipun biaya instalasinya sangat mahal, tetapi lebih aman, punya bandwidth luas, dan dapat digunakan bersama dengan instansi lain.
  4. Di setiap Kosekhanudnas ditempatkan minimal 1 skuadron pesawat buru sergap. Dengan demikian kebutuhan minimal adalah 4 – 5 skuadron. Untuk pesawat buru sergap, pilihan yang paling logis adalah Su-35, karena kompatibel dengan Su-27/30 yang sudah kita punyai, dan punya daya jelajah dan daya tempur yang besar, serta dapat dilengkapi dengan rudal anti radar jarak jauh dan jammer yang kuat.

Catatan :

Bagi mereka yang alergi terhadap disebutnya kemungkinan embargo, ini adalah realitas, bahwa kita pernah diembargo oleh AS dan sekutunya Eropa.

Bagi mereka yang mendambakan ToT, dengan kondisi Indonesia sekarang, untuk pesawat tempur modern kandungan lokal dan/atau ofset paling rendah 35% adalah suatu yang tidak mungkin. Ini juga adalah realitas.

  1. Beli SAM semacam S400, yang menggunakan 3 macam rudal berbeda jarak pendek s.d. jauh, sehingga menghindari kerepotan tambahan untuk membeli senjata “point defence” seperti seri Tor M1/M2, dan Pantsir S/S1. Minimal beli 3 sistem/ resimen/ batalyon untuk ditempatkan di Jakarta dan p. Natuna / Singkawang, dan 1 sebagai cadangan bisa ditempatkan di Pangkalan Udara Iswahyudi atau Hasanudin. Lihat juga catatan di No. 4.

S400 Triumf :

  • Variasi exportnya dimaksudkan untuk menghancurkan musuh punya pesawat tempur siluman atau bukan, ECM, jammer, AWACS, rudal jelajah, rudal balistik taktis dan IRBM, dan ancaman udara lainnya, semuanya dalam lingkungan Pernika.
  • Desainnya mempunyai arsitektur terbuka dengan modularitas tinggi, dimaksudkan untuk pengembangan kemampuannya.
  • Kapabilitas multirole dan kapasitas integrasi dengan teknologi dan rudal lawas.
  • Sesuai untuk pertahanan udara infrastruktur yang tidak bergerak / tetap, atau pasukan yang bermanuver.
  • Cocok untuk integrasi dengan kapal perang.
  • Mobilitas operasional dan pergelaran yang tinggi.
  • Daya hancur dan resistansi Pernika yang tinggi

Dengan hanya punya S400 Triumf, Kohanudnas yang tadinya jadul langsung menjadi sistem IADS termodern.

image008

Gambar 5 Pandangan Australia tentang pengaruh strategis yang kuat dari Flanker dan S300/400 (kredit gambar ref. 3)

Baru mendengar berita bahwa Indonesia BERMINAT / AKAN membeli Su-35 dan S300 saja, Australia sudah ancang-ancang bereaksi, karena (Gambar 5) fakta bahwa pengaruh strategis yang kuat berwujud kepada peningkatan diplomasi Indonesia yang lebih tinggi / lebih kuat. Begitu juga diharapkan implikasi yang sama kepada China di LCS.

Akhir Kata

Semoga mencerahkan dan terima kasih telah membaca.

Referensi :

  1. Website Kohanudnas
  2. David S. Alberts, John J. Garstka Richard E. Hayes, David A. Signori, Understanding Information Age Warfare
  3. Air Power Australia, Understanding Network Centric Warfare

 

Oleh : Antonov

Sharing

Tinggalkan komentar