Jan 212019
 

PENULIS : PRASTA KUSUMA, S.IP

ALUMNI ILMU PEMERINTAHAN UNPAD

Bila anda bertanya pesawat tempur paling laris  di dunia saat ini? Jawabannya adalah F-16 Fighting Falcon. Yups, ditanggal 20 Januari ini, sang Elang Tempur legendaris ini tepat berusia 45 tahun. 20 Januari 1974, F-16 Fighting Falcon melakukan take off pertamanya di  Air Force Flight Test Center (AFFTC), Edwards AFB, California, Amerika Serikat. Sebenarnya, Penerbangan pertama F-16 ini terjadi secara tidak sengaja saat melakukan tes melaju dengan kecepatan tinggi di taxi way. Saat mengumpulkan kecepatan, terjadi masalah teknis sehingga pilot uji coba, Phil Oestricher, memutuskan untuk tinggal landas untuk menghindari kecelakaan. Pesawat YF-16 pertama ini mengudara selama 6 menit dan mendarat kembali dengan selamat. Kerusakan ringan ketika uji coba ini dengan cepat diperbaiki dan penerbangan resmi pertama terjadi tepat waktu sesuai dengan rencana yaitu pada tanggal 2 Febuari 1974, yang berlangsung selama 90 menit.

F-16 Fighting Falcon sendiri merupakan pesawat tempur yang sudah sangat teruji di medan pertempuran. Pesawat tempur rancangan  Kolonel John Boyd iniJuga merupakan pesawat tempur yang sangat laris di pasar Internasional. Hingga kini tercatat ada kurang lebih ada 25 negara pengguna dengan total populasi mencapai 4500 unit di seluruh dunia.  F-16 sendiri merupakan pesawat tempur multiperan yang bisa beroperasi di segala cuaca. Pesawat ini pertama kali di design untuk memenuhi kebutuhan pesawat tempur ringan yang canggih namun berharga murah. Harga yang relatif lebih murah dibanding saudara seangkatannya (F-14 dan F-15) namun bisa menangani berbagai misi seperti  Combat Air Patrol, interceptor, SEAD, hingga CAS menjadikan pesawat ini laris manis di pasaran.

Saat ini memang perang skala besar kemungkinan besarnya kecil terjadi di Indonesia, namun kemampuan untuk menangkalnya harus tetap ada. Akan tetapi  yang namanya potensi konflik tetap ada, walau mugnkin skala konfliknya tidak sebesar perang total seperti insurjensi. Membeli pesawat serang darat murah seperti EMB-314 Super Tucano memang dapat menjadi alternatif dalam masalah penumpasan insurjensi, namun pesawat COIN seperti EMB-314 Super Tucano saja tidak bisa menjalankan banyak misi, apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar. Karena itu, F-16 bisa menjadi solusi bagi pemerintah suatu negara yang ingin berinvestasi dalam sebuah pesawat tempur yang dapat menjalankan berbagai misi namun dengan anggaran yang tidak terlalu besar jika kita tidak ingin menyebutnya murah. F-16 sendiri pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1989 dimana pemerintah Indonesia saat itu melakukan modernisasi alutsista udara dengan nama proyek Peace Bima Sena I. F-16A/B  block 15 OCU pada saat itu memenangi tender setelah bersaing dengan Dassault Mirage-2000 dari Perancis.

Memang, F-16 bukanlah fighter superioritas udara macam Sukhoi Su-27 / 30 yang merupakan petempur kelas berat, namun kemampuannya di medan pertempuran tidak usah diragukan lagi. Israel lah yang pertama kali memberikan cap battle proven terhadap F-16 Fighting Falcon. Israel membeli pesawat F-16 A/B pertama mereka tahun 1980, dan setahun kemudian mereka menjadikan pesawat – pesawat F-16 A/B Netz mereka sebagai ujung tombak dalam jajaran AU mereka. Bahkan F-16 Israel-ah yang pertama kali membukukan kemenangan dalam pertempuran  udara ke udara  dimana pada tanggal 28 April 1981 berhasil menembak jatuh helicopter Mi-8 Syria diatas lembah Beeka. Tidak lama setelah peristiwa itu, F-16 Israel unjuk kebolehan lagi dalam operasi Babylon ketika menyerang reaktor nuklr Irak di Osirak pada tanggal 7 Juni 1981. 8 pesawat F-16 Netz Israel sukses menjatuhkan sekitar 8 dari 16 bom Mark-84 ke dalam reactor nuklir Osirak yang mengakibatkan reactor nuklir kebanggaan Irak tersebut hancur berantakan. Setelahnya, AU Israel semakin mengoptimalkan penggunaan F-16 mereka. Tercatat selama melakukan operasi  udara di atas Libanon 1982, F-16 Netz IAF mengkalim sukses merontokan 44 pesawat tempur Syria, dimana kebanyakan korban nya adalah pesawat tempur MiG-21 dan MiG-23, dimana Israel mengklaimtidak ada satupun pesawat F-16 mereka yang rontok ketika itu.

Setelah itu, F-16 di seluruh dunia juga ikut beraksi diberbagai palagan pertempuran di seluruh dunia.  Mulai dari operasi Dessert Storm di Atas langit Kuwait dan Irak 1991, Konflik di semenanjung Balkan dari tahun 1994 – 1999 yang mengakibatkan 1 pesawat F-16 USAF rontok diterjang SAM SA-3 Serbia,  Konflik di Venezuela tahun 1992, Konflik Pakistan – India 1999, Operasi Enduring Freedom Afganistan 2001, Operasi Iraqi Freedom,Konflik Libya, Konflik Suriah, hingga konflik di Yaman hingga saat ini.

F-16 Indonesia sendiri tidak ketinggalan aksi. Dari mulai diterjunkan di  Timor Leste, Aceh, Patroli udara di Ambalat dan Laut Tiongkok Selatan, Hingga latihan bersama dengan negara lain. Dan yang paling disorot adalah insiden Bawean dimana aksi 2 F-16 TNI AU berani mengintercept penerbangan ilegal pesawat-pesawat tempur F-18 Super Hornet yang berasal dari kapal induk Amerika USS Carl Vinson yang ketika itu sedang berlayar di laut Jawa.

Dalam operasionalnya di Indonesia, F-16  Fighting Falcon sendiri disertai dukungan persenjataan modern dari Amerika. DIkabarkan pemerintah Amerika sendiri sudah menyetujui penjualan rudal jarak menengah AIM-120 AMRAAM, selain rudal jarak pendek, AIM-9 Sidewinder yang sudah dimiliki, sehingga F-16 TNI AU bisa memiliki kemampuan Beyond Visual Range (BVR) atau kemampuan serang jarak jauh. F-16 TNI AU juga bisa membawa rudal udara ke darat AGM-65 Maverik.

Namun, selama berbakti kepada ibu pertiwi, F-16 tidak terhindarkan dari yang namanya musibah. Musibah pertama terjadi pada tahun 1992, dimana ketika itu Pesawat  F-16 B Block 15 OCU nomor registrasi TS-1604 jatuh di Tulungagung, 5 tahun kemudian pesawat serupa dengan nomor ekor TS-1607 jatuh disekitar Lanud Halim yang mengakibatkan pilotnya meninggal dunia, hingga 2 kejadian terakhir yang melibatkan F-16 Block 52ID, TS-1643 yang tergelincir di Halim 2015 silam, dan F-16 Block 15 OCU TS-1603 yang tergelincir di Pekanbaru.

Dalam scope global, F-16 sendiri sebenarnya sudah akan masuk dalam usia pensiun. Israel sudah mengumumkan bahwa F-16 generasi awal mereka (F-16 Netz) pensiun, Amerika berencana menggunakan F-16 hingga sekitar tahun 2025 atau sampai F-35 Lightning II siap beroperasi penuh,  Italia menghakhiri tugas dan mengembalikan F-16 mereka ke Amerika pasca operasi di Libya berakhir, Belanda mengurangi F-16 mereka dengan menjual nya ke pemerintah Chile, dan Norwegia akan mempensiunkan armada F-16 mereka pada tahun 2022 nanti.Pihak pengembangan utamanya saat ini  Lockheed Martin sendiri sudah menurunkan kapasitas produksi F-16 di tahun 2017 ini dan mungkin akan berakhir di tahun 2020 apabila pasar dari F-16 block 70 Viper yang merupakan versi F-16 tercanggih tidak dapat terjual sesuai harapan. Di tahun 2020, Lockheed  Martin berencana akan lebih fokus memproduksi dan menjual pesawat generasi baru, F-35 Lightning II.

Di pasar internasional memang F-16 Block 70 Viper ini sedang bertempur habis-habisan untuk bisa mendapatkan tender dari negara-negara Asia dan Eropa Timur yang ingin memoderniasi armada tempur udaranya. Indonesia sendiri masih menjadi negara yang mungkin mengoperasikan pesawat F-16 generasi terbaru ini. Dikabarkan pemerintah bersama TNI sedang mencari pesawat pengganti Hawk series TNI AU yang akan memasuki masa pensiun. F-16 Block 70 diprediksi akan kembali bersaing dengan SAAB JAS-39 Gripen, Mig-35 Fulcrum-F  dan KAI F-50 Golden Eagle untuk mengisi slot pesawat-pesawat dari Skadron 1 dan 12 yang memang nantinya akan diganti oleh pesawat tempur generasi 4,5.  Saat F-16 generasi awal Indonesia sendiri pensiun sekitar 15-20 tahun mendatang, saya berharap pemerintah sudah dapat merampungkan proyek IFX, sehingga pesawat  pengganti  F-16 nanti merupakan salah satu karya anak bangsa yang menjadi kebangaan sendiri dalam menjaga kedaulatan NKRI .

Bagikan:
 Posted by on Januari 21, 2019