Tindakan Australia Membuat Rusia Marah

F/A-18 Hornet RAAF

Moskow – Duta Besar Rusia untuk Australia Vladimir Morozov menegur Pemerintahan Tony Abbott karena mendukung serangan bom di Suriah. Dia memperingatkan kelompok teroris ISIS akan semakin kuat jika rezim Suriah jatuh.

Dalam pernyataannya, juru bicara Morozov mengatakan, serangan udara pimpinan AS terhadap kelompok ISIS di negara yang dilanda perang itu, belum mencapai banyak kemajuan.

“Dari perspektif Rusia, kami tak yakin membombardir Suriah adalah solusi untuk krisis regional dan cara untuk menghancurkan ISIS. Kami menyarankan adanya koalisi internasional yang luas untuk memerangi terorisme. Ini telah disuarakan oleh Presiden Rusia,” ujarnya.

Australia sebelumnya menegaskan Angkatan Udara (RAAF)-nya menarget kelompok ISIS, bukan rezim Assad yang tak diakui secara resmi oleh Pemerintah Australia. Tapi pernyataan Rusia yang menyuarakan retorika terbaru dari Rusia tentang serangan bom yang dipimpin AS mengklaim teroris justru akan mendapat lebih banyak wilayah di Suriah jika rezim Assad runtuh.

“Jelas sekali, kini saya pikir semua orang mengerti menghapus rezim Bashar al-Assad bukanlah solusi,” ujar juru bicara itu.

Ia menyebut, “Bekerja sama dengan Pemerintah Suriah dan pasukan oposisi melalui operasi militer melawan teroris ISIS berdasarkan konsensus internasional yang luas, merupakan pilihan terbaik.”

Rusia memiliki hubungan dekat dengan rezim Suriah dan telah memberikan dukungan. Rezim Assad telah terlibat dalam perang saudara dengan beberapa kelompok selama empat tahun dan setidaknya 240 ribu orang tewas.

AS dan NATO prihatin tentang adanya laporan yang menyebut Russia meningkatkan kehadiran militernya di negara yang sedang dilanda perang tersebut, tapi Rusia mengatakan, pihaknya hanya memasok Suriah dengan “Peralatan militer yang sesuai dengan kontrak saat ini, dan bantuan kemanusiaan.”

Pada Rabu (9/9/2015), Pemerintah Australia menegaskan negaranya memperluas operasi RAAF dari Irak ke Suriah sebagai bagian dari serangan udara yang dipimpin AS, dengan bom pertama diperkirakan meluncur dalam beberapa hari.

Menteri Pertahanan Australia Kevin Andrews tampak mengesampingkan kemungkinan Australia mengerahkan pasukan darat untuk mendukung komitmen serangan udara.

Kevin juga mengatakan sulit untuk mengatakan berapa lama Australia akan tetap bercokol dalam konflik Timur Tengah.

“Dua, tiga tahun. Saya tak bisa mengatakan tepatnya, jangka waktu yang tepat,” ujarnya.

Pemerintah Australia telah menerima dukungan bersyarat dari Oposisi untuk memulai pengeboman di Suriah, sebuah langkah yang disebut pemimpin Partai Hijau Greens, Richard di Natale, akan membuat situasi semakin buruk.

Republika.co.id