Diplomat Adukan Dubes Indonesia di Argentina

Para diplomat Indonesia di Kedutaan Besar RI Argentina mengaku sudah tidak tahan dengan gaya kepemimpinan yang buruk dan perlakuan sewenang-wenang Duta Besar RI untuk Argentina, Jonny Sinaga, sehingga meminta kinerjanya dievaluasi.

Hal ini disampaikan oleh para diplomat di KBRI Buenos Aires melalui surat resmi kepada inspektur wilayah IV, Inspektorat Jenderal Kementerian Luar Negeri Indonesia. Surat ini diperoleh CNN Indonesia dari sumber yang tidak ingin disebut namanya.

Sumber CNN Indonesia mengatakan surat tertanggal 28 Agustus 2015 itu ditembuskan secara informal ke Komisi I DPR RI pada Kamis (17/9).

Surat berisi 22 butir permasalahan dalam laporan tujuh halaman ini merinci keluhan para diplomat. Intinya, mereka merasa tertekan secara psikologi atas perlakuan yang diterima dari Dubes Jonny. Bahkan, tulis surat itu, tidak sedikit dari staf yang menderita sakit fisik akibat tekanan batin.

“Kondisi untuk bekerja sudah tidak kondusif bagi seluruh staf dan membuat kinerja serta kegiatan operasional tidak dapat dilaksanakan dengan maksimal. Selain itu, kondisi ini membuat tingkat kesehatan fisik dan psikologis staf menurun sehingga menjadi keprihatinan bagi kami semua,” tulis surat yang ditandangani oleh empat pejabat KBRI tersebut.

Dubes juga dianggap kurang bersosialisasi dengan para staf dan masyarakat Indonesia di Buenos Aires. Selain itu, dia juga dianggap tidak bisa dipegang kata-katanya dalam pelaksanaan tugas. “Hari ini bilang iya, besok bilang tidak,” tulis surat pengaduan itu.

Keputusan yang berubah-ubah ini dianggap “menganggu rencana kerja dan koordinasi staf di lapangan.”

Perkataan dengan perbuatannya juga dianggap bertolak belakang. Dubes, tulis surat itu, menganjurkan untuk hidup sederhana, namun dia marah saat dibelikan tiket feri kelas bisnis dan ingin yang eksekutif. Duta besar juga kerap marah-marah kepada para stafnya, padahal menurut mereka perintahnya tidak jelas. Akibatnya, staf menghindari untuk bertemu dengan dubes.

“Semakin sering pula homestaf mengalami sakit perut, sakit kepala dan penyakit lainnya yang sebetulnya adalah sakit stress secara psikologis, karena itu adalah efek dari perlakuan dubes,” tulis surat.

Perlakuannya yang kasar juga membuat para homestaf menderita. Dia kerap mempermalukan para junior di rapat atau di muka umum, suka melemparkan barang, dan berteriak. Surat itu menyebutkan bahwa yang paling menderita adalah sekretaris pribadinya.

“Setiap hari Sekpri dimaki-maki dengan kata kasar seperti tolol, goblok dan monyet, sering juga gebrak meja dan kami di kantor bisa mendengarnya. Sangat memprihatinkan seorang dubes memperlakukan sekprinya seperti itu,” lanjut surat tersebut.

Perlakuan terhadap para staf wanita juga dianggap memprihatinkan. Para diplomat mengatakan, para staf wanita sering didekati dan ditelepon setiap hari sehingga sangat mengganggu atau difoto diam-diam sehingga memicu kemarahan.

“Ketika yang bersangkutan (staf wanita) diminta datang ke wisma dengan alasan untuk membahas pekerjaan, Dubes hanya mengenakan celana boxer sehingga staf tersebut merasa risih,” ujar surat.

Dubes juga tidak rasional dalam meminta stafnya untuk bekerja cepat, kadang meremehkan dengan mengatakan “yang bisa menyelesaikan pekerjaan di perwakilan hanya dirinya dan Tuhan.”

Namun perlakuan buruk serupa tidak dilakukan terhadap para lokal staf yang berkewarganegaraan Argentina.

“Kami para homestaff ini ingin bekerja secara profesional, karena ini adalah komitmen kami untuk Indonesia khususnya perwakilan. Tetapi dengan pimpinan seperti ini, kami sudah lelah fisik dan mental untuk bekerja,” lanjut surat itu.

Di akhir keluhan itu, para diplomat menginginkan pimpinan KBRI dievaluasi ulang dan meminta perwakilan Indonesia datang dan menyaksikan sendiri kinerja dubes yang melorot.

“Dengan kondisi seperti ini, kami mohon kebijakan dari pusat untuk mempertimbangkan kembali, apakah seseorang seperti ini layak untuk jadi pemimpin kami?” tulis surat itu.

Tidak tahu-menahu

Dikonfirmasi mengenai surat tersebut, Dubes Jonny mengaku tidak tahu-menahu.

“Saya tidak tahu aduan apa maksudnya. Tapi saya berupaya untuk melakukan yang terbaik untuk negeri karena presiden dan menterinya berupaya melakukan yang terbaik dengan semangat ‘kerja, kerja, kerja’,” kata Jonny saat dihubungi CNN Indonesia, Jumat (18/9).

Kendati demikian, Jonny mengakui memimpin dengan tegas di KBRI Argentina dengan tujuan memperbaiki staf KBRI yang menurutnya tidak disiplin sebelum dia datang. Selain itu dia juga menekankan perlunya transparansi penggunaan anggaran.

“Saya berharap unit KBRI Buenos Aires menjadi salah satu contoh unit kerja yang disiplin dan bersih dalam menggunakan anggaran negara karena uang itu semua adalah uang rakyat,” ujar Jonny lagi.

Sementara itu, kementerian Luar Negeri menolak mengonfirmasi keberadaan surat tersebut. “Karena surat itu rahasia kepada irjen, saya tidak bisa mengiyakan atau menidakkan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Natsir.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan akan menindaklanjuti jika pihaknya menerima surat seperti itu. “Semua laporan akan ditindaklanjuti dengan mekanisme internal,” kata Retno yang juga tidak mengonfirmasi kebenaran surat tersebut.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq, mengaku belum menerima surat tersebut. Namun dia tidak menampik bahwa aduan serupa juga pernah berdatangan ke DPR RI.

“Ada pengaduan seperti itu sebelumnya, ada yang terhadap duta besar, konsulat jenderal atau atase. Biasanya tidak langsung kita respon, tapi kita salurkan ke Kemlu,” kata Mahfudz kepada CNN Indonesia, Jumat (18/9).

Setelah masuk ke Kemlu, lanjut Mahfudz, pejabat berwenang akan melakukan verifikasi laporan dan melakukan pengecekan fakta lapangan.

“Semua tergantung hasil verifikasi, biasanya jika memang ada aduan yang terbukti, Kemlu melakukan tindakan sesuai prosedur, mulai dari teguran lisan, tertulis, jika perkaranya serius, bisa dipindahtugaskan,” ujar Mahfudz.

CNN Indonesia