Ketika Presiden Jokowi Bertemu Obama

USS Taylor (FFG 50) Frigate Oliver Hazard Perry-class. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 1st Class Edward Kessler/Released)

Sedikit wacana yang berkembang, entah hoax ataupun bukan, Presiden AS Barack Obama akan menjadikan event kunjungan Presiden Indonesia, Joko Widodo, sebagai upaya besarnya untuk meminang negeri cantik ini, agar lebih merapat ke pelukanya.

Pesan “Lupakan Russia, Lupakan China” nampaknya akan benar-benar disampaikan ke rombongan Jokowi nanti. Amerika benar-benar ingin menghapus semua peluang Russia dan China untuk bernapas dengan menutup semua lubang lubang yang masih tersisa pasca Embargo.

Sasaranya adalah negara-negara kiri ok kanan ok yang ‘nanggung keberpihakanya’, tetapi berusaha mendapatkan peluang dan keuntungan atau kesempatan dalam kesempitan yang ada seperti Indonesia.

Konsekuensinya adalah kedudukan yang setara dengan sekutu Amerika ditawarkan, layaknya Singapore dan Australia. Dimana ini berarti kita tidak lagi hanya bisa mendapatkan arsenal kelas dua seperti yang selama ini berlaku.

Di matra Udara akuisisi pesawat F16 blok 60 bahkan F-35 menjadi terbuka jika memang kita mampu membeli. Pembatasan rudal-rudal dan kelengkapan/upgrade piranti pesawat terbaru tidak lagi dibatasi.

Pesawat sistem peringatan dini, Transportasi Udara kelas berat dan kebutuhan Arhanud untuk jarak sedang dan jauh akan mereka penuhi.

Selain itu ‘job’ PT.DI untuk perakitan chinook untuk kebutuhan dalam negeri dan kawasan akan diberikan.

Selain tawaran tadi, satu lagi sebagai iming-iming adalah dukungan sepenuhnya untuk kemandirian alutsista terutama pada proyek pesawat IFX yang selama ini terganjal karena keengganan USA untuk mengiklaskan ToT untuk Indonesia melalui Korea Selatan.

Di matra laut opsi hibah/beli murah untuk ‘si Tua Bandel’ Oliver Hazzard Perry class, beserta kelengkapanya, Pesawat maritim Poseidon / Orion, peluang dukungan pengembangan industri radar dalam negeri, serta satu lagi hal baru yang mungkin akan membuat kita tergiur adalah dukungan mereka terhadap PT. PAL untuk mengembangkan LPD menjadi LHD.

Di matra darat, nampaknya tidak banyak yang ditawarkan selain kemudahan kita untuk membeli alutsista mereka yang selama ini tidak mudah. Mulai dari pengadaan tambahan Helikopter serang dan serbu seperti Longbow dan Blackhawk dengan harga ‘Sekutu’, sampai arsenal terupdate seperti HIMARS, Paladin, dan kendaraan taktis serbaguna sebagai platform aneka kebutuhan semua matra.

Dukungan untuk Industri Strategis, seperti PT.PAL, PT.DI, PT.LEN, PINDAD, LAPAN, dan lain lain tetmasuk pengembangan Tenaga Nuklir untuk tujuan damai juga akan meningkat.

Dari semua ‘kebaikan’ yang ditawarkan Paman Sam tentu kita sadar bahwa tidak ada yang namanya Makan Siang Gratis. Point-point yang Obama ajukan juga terbilang mahal, kalau tidak mau dibilang ‘menguras’, seperti :

Kerelaan Indonesia melepas statusnya sebagai negara Non Blok, atau paham semacam Seribu Kawan terlalu Sedikit, Satu Musuh terlalu Banyak harus diubah.

Penghentian program pengadaan senjata dari blok timur Russia dan China. Tidak ada lagi, bahkan untuk sekedar rencana, S300/400, jet Su 35 apalagi PAK FA dan tank Armata dikemudian hari, lupakan itu Saudara.

Penghentian kerjasama rudal C 705 dan variannya, juga RCWS dari Norinco China, atau HQ series untuk Arhanud ? hahaha.

Bahkan untuk rencana China dengan kereta cepatnya yang ‘tendernya’ telah mengalahkan Japan, serta rencana jaringan kereta api di Kalimantan oleh Russia harus direvisi.

GMLRS rocket firing from HIMARS (photo: Roxel)

Kesempatan lebih besar untuk perusahaan perusahaan USA untuk bisa mengexplor dan mengelolah SDA Indonesia yang baru seperti cerukan minyak baru di selatan Aceh (+-320bn kaki kubik melebihi cadangan Venezuela atau KSA saat ini) walaupun belum menjadi cadangan minyak terbukti.

Kesediaan Indonesia untuk aktif memberikan dukungan sepenuhnya untuk ‘kegiatan militer’ Amerika terutama di kawasan LCS di masa datang.

Untuk mengantisipasi wacana di atas, apakah rencana permainan Indonesia di kancah Internasional dimasa mendatang ? adalah jawaban yang sulit ditebak.

Meskipun Jokowi tidak datang dengan tangan kosong, isu-isu maupun fakta yang diharapkan bisa jadi daya tawar sudah dibungkus, seperti :

Masih terbukanya kemungkinan kita untuk berpihak ke barat atau timur khususnya untuk kasus LCS, tergantung pihak mana yang paling membawa manfaat untuk Indonesia.

Makin condongnya pengadaan alutsista ke blok Russia dan China di dekade terakhir ini, beserta segala bentuk ToT dan kerjasamanya.

Gertakan pinjaman supersoft USD 3 billion dari Russia, siap ditandatangani sepulang Presiden Jokowi dari paman Sam, artinya cukup untuk mendatangkan momok pesawat Su 35 untuk menangkal pesawat F-35 mereka yang masih belum sempurna, serta beberapa battery S300/400 di tempat strategis, plus deretan kapal selam Kilo atau Amur yang cukup membuat berantakan tatanan pertahanan laut Australia dan LCS (pasifik).

Ini baru dana pinjaman non APBN, sedangkan untuk Anggaran kita sendiri akan terus meningkat sampai 2025 nanti hingga jauh mengungguli Australia dan Singapore, apalagi selama ini anggaran militer kita hanya 0,8% dari GDP, belum 2% layaknya anggaran pertahanan dalam masa damai! ya.. masa damai, belum masa perang!

Kerjasama Militer dan non Militer yang makin marak dengan blok timur, seperti PLTN dan sumber enegi konvensional lain (36rb-70rb MWatt sampai 2020), Jaringan Kereta Api, MRT, Smelter-smelter baru di Sulawesi dan Kalimantan baik G to G ataupun B to B.

Kelanggengan masa depan Freeport, dan Perusahaan-perusahaan Amerika lain yang telah dan sedang berlangsung, serta peluang explorasi Sumber daya alam baru lain di negeri ini yang masih akan diperebutkan.

Dan terakhir adalah yg mungkin paling bernilai buat mereka, yakni HATI kita.. rakyat Indonesia, sebagai satu-satunya Pasar yang luar biasa Besar dan Empuk di posisi NETRAL yang masih tersisa dan mungkin untuk bisa direngkuh, di mana pasar-pasar gemuk yang lain seperti Russia, China, India sudah jelas keberpihakanya.

Tanpa bermaksud membuka luka lama, dulu kita pernah mesra dengan Timur, tapi godaan dan janji-jani Barat begitu indah, membuat kita berpaling. Butuh hampir 40 tahun untuk membuat kita tersadar bahwa kita telah disia-siakan dan dikhianati barat, dan kita berusaha mencoba membina rujuk lagi dengan Timur sampai sekarang.

Kita tunggu kepulangan pemimpin kita saat ini.. Pilihan apa yang akan diambil, oleh-oleh apa yang akan dibawa.. Semoga bijak dan tidak salah pilih.
Jayalah Negeriku!

sumber : obrolan di warung sinom

oleh: Tukang Sinom