Tanggapan atas Artikel – Pertanyaan Akuisisi Alutsista

Tanggapan atas artikel Faqih Ari Wibowo

Tanggapan atas artikel – Pertanyaan Akuisisi Alutsista

F-16CJ TNI AU (TS-1641), 21 Des 2014 di Lanud Soewondo Medan (Foto: Andang Tri Prabowo / http://jetphotos.net)

Saya berterima kasih kepada bung Faqih atas umpan diskusi sehat beliau… kecermatan bung Faqih merangkum dan mempelajari data-data yang tersaji lalu kemudian dengan bahasa yang mudah disajikan kepada para pembaca Jakarta Greater membuktikan kemampuan olah pikir beliau… Salam tabik dari saya untuk bung Faqih…

Mari kita mulai diskusinya…

KFX – IFX, Elang salah asuh

Riset merupakan skala prioritas nomor 100 di negara kita tercinta ini… Riset baru masuk pada kategori ‘Penting’… belum masuk pada kategori ‘urgen/mendesak’…

Pendanaan untuk riset… tentunya akan mengikuti premis di atas…

Kita belum… jika tidak bisa dikatakan tidak memiliki semua ilmu yang dibutuhkan untuk mendesain maupun memproduksi pesawat tempur, baik itu pesawat tempur sayap tetap maupun sayap putar

Saya lebih melihat bahwa para ilmuwan kita melihat peluang untuk mendapatan ilmu terapan yang dibutuhkan dalam desain pesawat tempur sayap tetap lewat proyek KFX – IFX. Terlepas dari berhasil atau tidaknya para ilmuwan kita mempelajari lmu-ilmu yang belum mereka kuasai maupun mendalami ilmu-ilmu yang sudah mereka kuasai, kerjasama dengan Korea merupakan sarana yang tepat untuk melengkapi pengetahuan mereka.

Nah… mumpung pemerintah setuju untuk menggelontorkan dana besar bagi riset pesawat tempur sayap tetap, maka peluang belajar-pun dimaksimalkan

Jika kita tidak memulainya dengan proyek KFX – IFX, maka otomatis kita harus memulainya sendirian, mengkaji sendiri, merumuskan sendiri, ujicoba ‘trial and error’ sendiri… tentunya akan jauh lebih lambat ketimbang hasil yang dicapai dalam proyek IFX…

Belum lagi kemungkinan ‘katak dalam tempurung’… ketika kita belajar sendiri, tanpa membandingkan hasil pembelajaran kita pada bangsa lain, maka kita bisa saja merasa puas akan hasil yang biasa-biasa saja sementara bangsa lain sudah mencapai taraf luar biasa. Dengan interaksi aktif terhadap bangsa lain, kita bisa melihat kekurangan kita dan memperbaikinya.

Apa yang bung Faqih utarakan… bahwa desain KFX – IFX tidak lah sesuai dengan kebutuhan real kita merupakan pendapat yang dapat dibenarkan… jika memang realita yang dipaparkan begitu adanya, maka sayapun menyetujui pendapat bung Faqih…

Namun, sebaiknya kita juga mengingat, bahwa di Indonesia, sudah dibentuk lembaga desain serupa seperti yang dibentuk di Korea dalam proyek KFX – IFX. Tugas lembaga desain ini adalah meng-Indonesia-kan kembali desain awal yang sudah disepakati agar lebih sesuai dengan kebutuhan real kita.

Korea lebih memilih mesin tunggal, sementara kita lebih membutuhkan mesin ganda… dan kita berhasil memaksakan pilihan desain jumlah mesin kita pada Korea… walaupun kita terpaksa harus menyetujui pilihan kemampuan mesin yang dalam perspektif para ilmuwan kita, kesannya ‘nanggung’…

Semangatnya adalah… yang penting pesawatnya jadi dulu, bro… ntar baru kita perbaiki pelan-pelan… kita sempurnakan nanti dalam rancangan IFX tahap 2.

Jika bung Faqih menyatakan bahwa dana yang dihabiskan akan terbuang sia-sia karena hasil yang didapatkan tidaklah sesuai dengan kebutuhan TNI AU… maka sayapun dapat memaklumi kegundahan hati beliau…

Tapi, berangkat dari kenyataan semangat ‘pelitnya’ pemimpin negara ini dalam alokasi anggaran untuk riset… maka saya hanya bisa bilang… biarin… biarkan saja dana itu terbuang sia-sia dan hasilnya tidak sesuai dengan kebutuhan TNI AU… yang penting kita mendapatkan ilmu yang bisa dipelajari, ada ilmu yang bisa diserap untuk nantinya disesuaikan dengan kebutuhan kita

Berdasarkan argumen bung Faqih, kemungkinan kemampuan IFX hanyalah setara F -16… tidak akan mampu menjawab tantangan kecanggihan pesawat tempur negara-negara lain yang berpeluang menjadi agressor… saya pun meyakininya, bung Faqih akurat akan hal ini.

Semuanya terkait dengan ‘time frame’ – bingkai waktu… ketika elang botak produksi Amerika sudah menua dan tidak lagi mampu terbang, maka kondisi ini dapat ditutupi dengan kehadiran IFX… seingat saya, IFX memang direncanakan untuk mengisi kekosongan slot pesawat tempur akibat ‘pensiun’-nya F – 16 yang akan terjadi dalam kisaran tahun 2020 – 2025.

F – 16, si elang botak merupakan kuda beban yang dapat diandalkan dalam aktifitas patroli udara. Biaya operasional yang tidak terlalu besar serta kemampuan yang memadai merupakan nilai jualnya… nah… jika sekarang kita berbangga diri dengan memakai F – 16, menggantungkan diri dalam aktifitas patroli udara pada pesawat yang 100% produksi Amerika, maka pada 2020 atau setidaknya 2025 kita bisa berbangga diri dengan menggantungkan harapan kita pada IFX yang bisa kita produksi sendiri.

KFX – IFX tidak akan mampu menyaingi kehandalan F – 35, Super Hornet maupun Raptor… untuk kebutuhan ini, kita menggantungkan asa kita pada Su 35… hehehe… syukur-syukur PAKFA… mudah-mudahan informasi ‘hoax’ bahwa kita sudah mengakuisisi sebagian saham Mikoyan benar adanya… maka ke depan kita bisa berharap dapat memproduksi sendiri ‘heavy fighter’ dengan cita rasa Indonesia…

Hahaha… stop bicara yang ghoib-ghoib… nanti diskusi kita dibilang nggak berdasar dan tidak bisa dipertanggung jawabkan…

Jika bung Faqih lebih berkenan kita menghabiskan anggaran yang disediakan pada tawaran pabrikan Rafale, Typhoon maupun Gripen… ada hal yang harus kita ingat… bahwa kerjasama dengan Korea di-inisiasi jauh sebelum tawaran-tawaran itu diutarakan… agak kurang enak jika kita mundur dari kesepakatan tanpa alasan yang jelas… mungkin pemerintah mempertimbangkan hubungan baik dengan Korea…

Saya sependirian dengan bung Faqih, saya berpendapat… toh Korea sudah berkali-kali menunda keberlanjutan proyek KFX – IFX… jika memang semua ilmu yang bersedia diberikan oleh Korea sudah kita dapatkan dan tidak ada lagi peluang untuk transfer teknologi yang dibutuhkan… ya sudah… mundur saja… jadikan keenganan Lockheed Martin sebagai alasan ‘exit strategy’ kita… jika uang kita tidak kembali penuh… biarkan saja… yang penting udah dapat ilmu… namanya juga resiko belajar…

Jadi… akhir kata… jika bung Faqih menyatakan bahwa pilihan Indonesia bergabung dengan pembangunan KFX – IFX adalah pilihan yang salah dan diambil tanpa pertimbangan matang… saya tidak dapat menyalahkan beliau… pijakan berfikir bung Faqih diambil berdasarkan sudut pandang tertentu… dan benar adanya

Saya sendiri mengambil sudut pandang… bahwa kita tidak punya ilmu yang dibutuhkan… duitnya ada untuk ‘bayar uang sekolah’… ya udah… sekolah saja… ambil ilmunya… ‘mumpung ada yang buka sekolah baru’…

Maaf lho ya… kalo bahasan diskusinya jadi ‘agak cetek’… sekolah saya nggak tinggi sih… hehehe

Nah… beda saya dengan bung Faqih adalah… bung Faqih lebih mendukung ‘lebih baik cerai ketimbang aborsi’…

Kalo saya sih… jika memang masih dapat dilanjutkan, mendingan dilanjutkan hingga tahap produksi… jika kita paripurna belajar dengan Korea, paripurna hingga tahap produksi.. nanti kita bisa membandingkan desain KFX – IFX dan proses manufaktur KFX – IFX dengan desain pesawat tempur lain (Rafale, Gripen maupun Typhoon) serta proses manufaktur dari pabrikan lain… mudah-mudahan dengan adanya perbandingan, kita bisa mengambil yang baik dan mereduksi proses yang kurang efisien.

Super Tucano TNI AU (photo:viva.co.id)

EMB 314, Elang Jadul Impor

Pertama-tama, yang harus kita pahami adalah bahwa para karbol (pilot lulusan AAU) tidak serta merta memiliki ilmu dan keahlian yang memadai untuk langsung menerbangkan pesawat tempur bermesin jet. Mereka harus dilatih dulu dengan pesawat propeler kemudian pesawat jet sederhana – light jet, baru setelah itu menerbangkan pesawat tempur canggih ‘state of the art’.

Kenapa TNI AU harus memiliki banyak varian pesawat latih, tentunya menyesuaikan dengan kebutuhan ini.

Bung Faqih menggugat banyaknya varian pesawat tempur dalam inventori TNI AU… beliau memiliki pendapat cerdas akan pentingnya penyederhanaan tipe pesawat agar terjadi penyederhanaan sistim logistik… yang akan berujung lebih tepat guna anggaran dan lebih cepat guna ketika kita berada dalam kondisi darurat… saya suka kematangan berfikir bung Faqih…

Mungkin lebih tepat jika kita menggugat… kenapa pesawat latih TNI AU dan pesawat latih TNI AL dan TNI AD berbeda variannya… kenapa tidak disamakan saja… baik itu untuk varian pesawat latih sayap tetap maupun varian pesawat latih sayap putar… ingat… saya hanya menggugat varian pesawat latih… karena pada realitanya pesawat tempur tiap angkatan berbeda peruntukan, karenanya otomatis akan terjadi banyak varian pesawat tempur.

Peruntukan pesawat tempur pada Angkatan Darat berbeda dengan peruntukan pesawat tempur pada Angkatan Udara, hal yang sama juga terjadi pada Angkatan Laut… Penerapan doktrin yang berbeda pada tiap angkatan mengakibatkan terjadinya perbedaan fungsi asasi tiap pesawat tempur…

Saya tidak tahu apakah sudah ada inisiatif untuk duduk satu meja antara ketiga angkatan dalam rangka tukar menukar doktrin tempur agar terjadi kesepahaman… ketika kesepahaman terjadi diantara ketiga angkatan, boleh jadi nanti akan tercipta doktrin gabungan… setidaknya ada doktrin-doktrin yang bisa saling melengkapi… dan saling menyesuaikan

Kita juga harus membedakan, antara pesawat latih dengan pesawat tempur… walaupun pada realitanya pesawat latih bisa dimaksimalkan dalam kondisi kepepet sebagai pesawat tempur… tapi pada masa damai, kita lebih melihat fungsi asasi pesawat itu sendiri… karena pesawat latih walaupun dapat dipaksakan beralih fungsi sebagai pesawat tempur, tidak akan dapat berfungsi semaksimal pesawat tempur.

Pesawat latih tidak mengusung kecanggihan teknologi pesawat tempur… pesawat latih hanya diperuntukkan untuk memberikan ‘feel’ dasar kepada para karbol sebelum mereka dipercaya menerbangkan pesawat tempur…

Karena itulah, Bronco digantikan dengan Tucano… pesawat tempur propeler lawas digantikan dengan pesawat tempur propeler modern…

Kita tidak bisa menggantikan Bronco dengan Grob… karena beda fungsi asasinya…

Perlukah kita membeli Tucano ???

Tucano tidak diperuntukkan dalam menghadapi invasi agressor… Tucano lebih didedikasikan guna mendukung TNI AD dalam menghadapi perlawanan separatis/insurgens…

F – 16 sudah pasti dapat diperbantukan dalam proses mengeliminasi gerakan separatis… Elang botak Amerika ini sudah pasti dapat membantu menjatuhkan bom pada posisi pasukan pemberontak… namun laju pesawat F – 16 kemungkinan akan terlalu cepat untuk dapat mengoptimalkan bantuan tembakan senapan mesin pada posisi para pemberontak…

Jika kita tetap membeli lebih banyak F – 16 untuk fungsi menghadapi separatis, maka otomatis akan menciptakan kesederhanaan dalam varian pesawat tempur yang kita miliki… namun itu juga berarti kita menggantungkan diri kita pada sikap baik Amerika guna menghindari embargo…

Nggak seru kan… belinya pake duit kita… tapi nggak boleh dipake untuk ngebelain kepentingan negara…

Boleh jadi gerakan separatis di papua merupakan gerakan yang dibiayai Amerika dan kemudian mereka akan mempergunakan kartu embargo mereka guna mengebiri kemampuan tempur kita… berpaling ke Brazil, dengan membeli Tucano untuk memenuhi kebutuhan itu tidak ada salahnya… Brazil tidak memiliki kepentingan langsung terhadap negara kita selain perdagangan… tidak seperti Amerika… memecah belah negara kita boleh jadi dan saya yakin merupakan salah satu agenda mereka… walaupun Brazil sempat menarik duta besarnya dari Indonesia karena kasus hukuman mati bagi pengedar narkoba… namun nilai uang yang kita belanjakan jauh lebih besar nilainya bagi pemerintah Brazil ketimbang kepentingan mereka menyelamatkan hidup seorang pengedar narkoba… kita memegang kartu as dalam posisi kita terhadap Brazil

Selain F – 16, pesawat dengan kemampuan dan karakteristik serupa dengan elang botak dan memiliki kemampuan untuk memerangi separatis dan yang sudah kita miliki adalah F – 5, Hawk, Wong Bee dan T 50…

F – 5 merupakan pesawat buatan amerika… Hawk merupakan pesawat buatan Inggris… potensi embargo makin besar ketika dipergunakan menghadapi separatis…

Jadi… saya berpendapat… ultra light fighter, dalam hal ini Tucano, bukanlah teknologi jadul ketika pesawat itu diperuntukkan dalam operasi penumpasan separatis… kita emang sudah sepatutnya membeli pesawat itu… karena pertimbangannya bukan lagi sekedar teknis tempur, melainkan lebih bermuatan politis

Nah… ketika musuh kita bukan lagi separatis… tapi infantri dari negara agressor… perlukah Ultra Light Fighter ??

Hmmm… untuk pendapat bung Faqih yang menyatakan bahwa ultra light fighter sudah kehilangan momennya… agak panjang bahasannya…

Ultra light fighter mulai secara optimal dipergunakan pada perang dunia kedua oleh Jerman dengan pesawat tukik Stuka mereka… fungsi pesawat stuka adalah menghabisi infantri musuh baik dengan tembakan senapan mesinnya maupun bom tukiknya (stuka akan menukik menuju sasaran, melepaskan bom lalu kemudian menjauh, baik untuk mengulangi proses serangan maupun meninggalkan arena pertempuran, bunyi luncuran bom tukik ini yang membuat stuka begitu terkenal, karena terbukti, bunyi itu menjatuhkan moral pasukan infantri)…

Konsep pesawat tempur membantu gerak maju pasukan darat dikenal dengan doktrin CAS – close air support, bantuan serangan udara…

Nah… pesawat stuka murni diproduksi guna mendukung serangan pasukan darat… untuk superioritas udara, Jerman memiliki Messerschmitt

Seperti yang sudah saya nyatakan sebelumnya, banyaknya varian pesawat tempur yang dimiliki TNI disebabkan implementasi doktrin tiap angkatan… namun memang sudah seharusnya TNI mulai merampingkan jumlah varian yang dipergunakan..

Tapi jangan kita bahas dulu masalah ‘merampingkan’ ini… kita kembali ke pokok masalah… ultra light fighter vs infantri negara agressor

Bung Faqih benar, pesawat propeler akan terbang jauh lebih lambat ketimbang pesawat jet… peluang ditembak jatuh oleh rudal panggul jauh lebih besar ketimbang pesawat jet…

Jika memang yang kita lawan adalah pasukan infantri dari negara agressor… maka saya setuju dengan bung Faqih… jangan pake Tucano…

Akan lebih menyenangkan jika ada pilot TNI AU atau teman-teman yang memang profesinya di TNI yang ikutan memberikan tanggapan atas hal ini… latar belakang saya yang notabene rakyat sipil membuat cakrawala berfikir saya terbatas… maaf…

Konversi N 219 atau N 235 sebagai gunship ??

Pada operasi seroja/pertempuran melawan fretilin… pesawat Dakota telah diubah menjadi gunship… saya mendukung penuh usulan bung Faqih agar N 235 dapat dimodifikasi hingga memiliki kemampuan sebagai ‘gunship aircraft’ plus ‘bomb truck’… cool idea…

Kenapa PT DI tidak dioptimalkan untuk membuat pesawat tempur turboprop ??

Pertama dan paling utama… teknologi turbo propeller bukanlah teknologi abal-abal…

Kedua… PT DI belum memiliki pengalaman membuat pesawat tempur walaupun itu pesawat tempur turbo propeller…

Ketiga… ada faktor waktu yang harus diperhatikan… menyerahkan bulat-bulat kepada PT DI untuk merancang pesawat tempur turbo propeller akan memakan waktu lama… boleh jadi ancaman separatis diprediksi akan pecah lebih awal sebelum pesawat rancangan PT DI berhasil mengudara…

Akan lebih mudah bagi PT DI jika ada teknologi yang berhasil ditransfer dalam pembelian pesawat-pesawat Tucano ini… akan lebih mudah bagi PT DI untuk kemudian melakukan rekayasa balik – reverse engineering jika ada pesawat Tucano yang bisa dibongkar untuk dipelajari… saya betul-betul berharap ada 1 atau 2 Tucano yang sudah dan sedang dibongkar untuk dipelajari saat ini…

Pembuatan pelat-pelat dinding, struktur tuas, maupun struktur tulang pesawat dapat dengan mudah ditiru dengan memakai printer 3 dimensi… yang susah adalah meniru sistim teknologi yang dicangkokkan pada pesawat itu… butuh waktu lama… tapi bukanlah hal yang mustahil

Saya berharap, dengan berhasilnya PT DI merancang dan memproduksi N 219, dapat dijadikan pijakan awal dalam pembuatan pesawat tempur turbo propeller…

Yang jadi masalah sekarang… apakah semangat kemandirian kita semua, para pembaca Jakarta Greater sama dengan semangat kemandirian para pemikir dan pembuat keputusan di negara kita… seperti kata bung Faqih… Wallahu ‘alam…

Tapi setidaknya saya tahu satu hal dengan pasti… jika saya yang sekolahnya tidak tinggi bisa berfikir dan bermimpi tentang kemandirian, maka saya yakin para pemikir dan pembuat keputusan-pun pasti mampu memikirkan dan memimpikan hal yang sama karena mereka sekolahnya sudah pasti lebih tinggi dari saya… makanya mereka dipilih dan terpilih menjadi pemikir dan pemimpin

 

Permasalahan 24 F – 16 usang andalan TNI AU 2015

Saya setuju banget dengan paparan bung Faqih

Pokok bahasan 4, 5, 6 dan 7… saya nunggu artikel dari bung Faqih aja… ntar baru saya ikutan nimbrung… hehehe…

Oleh : Afiq 0110