Mari Mentertawakan SU-35 (Bagian Kaduo)

WILUJENG SUMPING!!!

Pada bagian pertama kemarin kitorang ngobrol ngalor-ngidul sesama formiler dan forngiler militer. Sekarang kita undang suhu-suhu kangow dari negeri kangguru yaitu Peter Goon dan Carlo Kopp dari LSM independen Australia.

credit ausairpower.net

Karena yang diajak ngobrol orang-orang berbobot, dan harus pakai bahasa baku, terpaksa ana cuci muka dulu dah, sambil bersihin belek dan sisa-sisa lem aibon oleh-olehnya bung TT. Sebaiknya ente-ente juga cuci muka cuci kaki dulu sebelum membaca, dari pada bahlul nantinya. Panjang nian artikelnya Lae.

Siapa sebenarnya Peter Goon dan Carlo Kopp itu, nanti kita kenalan lebih intim di bagian akhir, sekarang kita baca-baca dulu tinjauan ringkasnya yang gampang dicerna:

Bottom of Form

Bagaimana F-35 JSF memastikan dominasi udara untuk Amerika Serikat dan Sekutunya?
Banyak ulasan mengenai kehebatan pesawat F-35 JSF dan perbandingannya dengan pespur modern generasi ke-4 yang ada sekarang. Namun bagaimana jika F-35 JSF tidak melawan pesawat warisan perang dingin seperti Su-27SK dan MiG-29, sebaliknya melawan pespur modern seperti Su-35S? Kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan analisis head-to-head dari dua pesawat tersebut.

Pertempuran udara adalah kombinasi yang rumit antara seni, sains dan teknik. Kinerja pesawat, senjata, sensor jaringan dan keterampilan semuanya berkontribusi ke nilai Lost Exchange Ratio (LER) atau biasa dikenal sebagai Kill-Ratio di kalangan pilot. Aktivitas ini mencakup urutan ‘rantai-membunuh’ sebagai berikut: ‘Mendeteksi-Identifikasi-Mengunci-Meloloskan Diri-Hancurkan’ (Detect-Identify-Engage-Disengage-Destroy atau DIED2).

Berbeda dengan tabel perbandingan seperti biasanya yang berisi angka-angka yang mungkin cuma bisa dipahami bung PHD, yuuk kite bahas secara sederhana dengan warna! Yang hijau berarti dia lebih unggul, warna kuning setara dan lampu merah berarti tancap gas…eh salah, maksudnya warna merah berarti kalah dari lawannya (maapin ye, gaya medan ana keluar).

Berikut tabel perbandingan diantara keduanya:

Berikut adalah skenarionya di atas ring. Pada sudut biru, kita punya 4 pesawat JSF F-35A, masing-masing dipersenjatai dengan empat rudal AIM-120D (BVR) dan senapan mesin GD ATP GAU-22 / A kaliber 25 mm. Tidak ada senjata atau tangki bahan bakar tambahan, karena akan membahayakan JSF dari sisi ‘”low observability” atau dengan kata lain, fitur silumannya bisa berkurang drastis.

Pada sudut merah, kita punya empat Su-35S, masing-masing dipersenjatai dengan empat Rudal Seeker Radar Aktif RVV-SD (BVR), empat rudal RVV-SD Infra-Red (IR Seeker BVR), dua rudal RVV-MD (WVR), senapan mesin 30mm GSH-301, jammers KNIRTI SAP-518 s pada ujung sayap dan tangki konformal 6.000 liter yang posisinya diantara kedua mesin. Setiap pesawat memiliki berbagai sensor dan sistem pernika.

Sedangkan pada gambar di bawah ini menunjukkan jenis-jenis rudal yang bisa dibawa. Kotak merah berisi banyak jenis rudal yang mampu digotong sukhoi, belum termasuk varian turunannya. Sedangkan kotak biru adalah satu-satunya rudal BVR untuk F-35. (Sampai tulisan ini dibuat, rudal MBDA Meteor belum dicoba pada F-35 begitu pula rudal BVR lain)!

credit ausairpower.net

Seorang pilot JSF harus mahir dalam taktik penghindaran terhadap minimal enam jenis rudal BVR yang berbeda, plus empat jenis rudal heat seeker yang berbeda. Sistem pertahanan berbasis frekuensi radio dan optik pada pesawat Barat harus mampu mengatasi tujuh jenis rudal pencari yang berbeda termasuk varian turunannya.

Sementara itu seorang pilot Su-35 hanya membutuhkan taktik dan teknologi untuk mengalahkan AMRAAM AIM-120B / C / D. Gambar ini masih belum termasuk rudal R-27AE Alamo dengan varian digital dari radar aktif terminal seeker RVV-SD yang baru. Artinya, semakin banyak varian rudal yang harus dipelajari cara menangkalnya oleh pilot-pilot pespur barat.

Masalah utama untuk F-35 adalah bahwa kemampuan menghilang dari radar X/S-band yang dimilikinya hanya dapat dicapai melalui sudut sempit di sekitar hidung pesawat (artinya, radar X/S-Band pun kemungkinan masih bisa melacak pesawat ini asalkan bukan dari arah depan). Hal ini memaksa pesawat untuk mengarahkan hidungnya terus-menerus menuju ke titik ancaman terbesar, menyulitkan kemampuannya dalam penembakan rudal secara fleksibel, atau menghindari berbagai ancaman dari berbagai sudut serang. F-35 juga tidak punya radar samping dan radar belakang yang memperburuk masalah, karena penambahan sistem tersebut akan menambah panjang daftar masalah selain perkara bobot, daya dan pendinginan yang hingga kini belum terselesaikan secara utuh.

Pada gambar dibawah, menunjukkan kesempatan bagi F-35 untuk menembak lebih pendek rentang waktunya (karena harus mengarahkan hidung pesawat ke arah Sukhoi supaya tetap siluman), sebaliknya Su-35 yang punya radar depan, samping dan belakang bisa menembakan rudalnya kapan saja, dimana saja, ke arah mana saja (kok jadi mirip iklan minuman soda?) kecuali mungkin saat berhadapan pada jarak jauh.

Wow! Semua parameter F-35A ditandai Merah dan Kuning – Inferior atau Setara?
Sekarang, mari kita lihat masing-masing elemen dari ‘ rantai-membunuh’ tersebut.

DETECT:

Electronic Support Measures/ESM: pesawat tempur memancarkan radiasi dari mesin jet, radar, terminal JTIS / MIDS, dan transmisi radio. Peralatan khusus pada pesawat tempur bisa mengetahui frekuensi transmisi ini dan memiliki sensor untuk mendeteksinya. Upaya yang dilakukan untuk meminimalkan emisi melalui proses yang disebut ‘Pengendalian Emisi atau Emission Control’ (EMCON) tetapi ini hanya bisa berhasil sebagian. Baik JSF dan Su-35S memiliki berbagai macam sensor tersebut, dan dianggap sama efektifnya dalam kemampuan ESM.

ESA Radar X-Band: ini adalah sensor utama untuk jet tempur. Radar cross section/RCS dari F-35A lebih unggul dari Su-35S terutama di sektor depan, tapi Sukhoi memiliki kekuatan yang cukup untuk mengendus dan antena yang lebih besar untuk mengatasi sebagian kelemahan itu. Keduanya punya kemampuan ‘networking’ dalam operasi multi-pesawat, penyebaran posisi beberapa pesawat Su-35S akan mampu mengatasi level siluman pesawat JSF melalui sudut-sudut dimana RCS pesawat JSF mempunyai kelemahan. F-35A diharapkan akan sering mendapatkan “First Look”, tapi Su-35S mampu mendeteksi JSF di luar jangkauan rudal BVR F-35. Jadi, kemampuan siluman JSF dengan rcs-nya yang kecil bukan merupakan keuntungan yang besar (yang bisa memenangkan duel BVR).

ESA Radar L-Band: Su-35S akan memiliki radar Low Frequency ini di ujung depan sayapnya. Perhatikan: JSF adalah ‘siluman’ bagi radar X-Band, bukan untuk L-Band. Sedangkan ukuran dan kemampuan antena radar Su-35S L-Band mampu membatasi kinerja siluman F-35, akan ada saat-saat ketika radar L-Band mendeteksi JSF sebelum radar X-Band F-35 mengendus Sukhoi. JSF sendiri tidak memiliki Radar L-Band (mungkin tidak diperlukan karena RCS Sukhoi dianggap cukup besar untuk ditangkap “radar biasa”).

Infra-Red Search & Track: Ada pendekatan yang berbeda untuk sensor infra-merah. JSF memiliki Electro-Optical Distributed Aperture System (DAS) luar biasa yang dirancang untuk meng-cover area sekitar pesawat, optimal untuk operasi udara-ke-darat.

Su-35S memiliki IRST OLS-35 aperture besar yang optimal untuk memindai pesawat lain dari jarak jauh. Cara kerja DAS adalah seperti menatap/melotot sementara OLS-35 adalah memindai/membaca.

Perbedaan dalam rentang deteksi ini bisa dianalogikan seperti perbedaan antara orang yang mencari dengan mata telanjang dibandingkan dengan teleskop. Jika teleskop menunjuk ke arah yang benar, dia yang pertama kali bisa menjejak, tapi kita tahu bahwa teleskop itu ada batas lingkaran sesuai ukuran lensa, geser dikit joss, eh maaf, maksudnya bila geser sedikit, maka obyek yang mau diliat langsung hilang ketutup bodi teleskop. Dari analogi tersebut dapat dibayangkan, bahwa pilot F-35 harus terbang dengan mengubah-ubah arahnya (bahasa gaulna ngegal-ngegol atuh) agar sensor DAS bisa melacak semua arah. Selain itu JSF memiliki mesin dengan emisi paling panas diantara pespur lainnya, yang berarti IRST dari Su-35S akan sangat mudah melacaknya.

IDENTIFICATION:
Identifikasi Teman atau Musuh: Tidak banyak perlu dikatakan di sini. Potensi kesalahan menembak teman dalam pertempuran udara BVR menyebabkan pengembangan sistem identifikasi yang lebih handal untuk membedakannya dari musuh. Kesalahan tembak mungkin masih terjadi terutama dalam pertempuran dogfight multi-pesawat.

Mohon maaf, berhubung jemari tangan dah jadi jempol semua, ana mau tarik napas dulu …(Bersambung)

by: MJ