The New Hope From Sukhoi

Pemerintah telah memutuskan pilihan penganti F5-Tiger adalah pesawat buatan Rusia SU-35BM, dan rencananya akan segera ditindak lanjuti oleh kedua belah pihak dengan skema G To G, dimana pihak pemerintah diwakilkan oleh KeMenterian Pertahanan.

Jika kita teliti lebih dalam kenapa pilhan jatuh kepada SU-35BM, bukan Gripen, Typhoon, atau Rafaele dalam konsep “Mengganti si F5-Tiger”, yang artinya adanya kebutuhan mendesak dan perlu segera cepat dipilih, maka banyak faktor yang mungkin telah dipelajari oleh KeMenhan sebagai yang berwenang melakukan pembelian alusista, di luar nanti jika ada wacana penganti Hawk 100/200 atau pelengkap skuadron F16 yang sebagaian akan juga pensiun antara 2020-2023 nanti, ataupun kebutuhan TOT agar  negara menjadi mandiri dalam pemenuhan Alusista ke depannya.

1. Faktor Ukuran/mobilitas dan daya jelajah/biaya operasional

“Biaya terbang satu pesawat Sukoi dari Makassar ke Jakarta mencapai Rp 105 juta,” kata pengamat penerbangan, Alvin Lie, ketika di wawancara  Tempo.co.id

Besaran ini, kata Alvin, muncul dari hitungan 4.500 kilogram atau setara dengan 7.000 liter bahan bakar dikalikan harga avtur Rp 15 ribu per liter. Bahan bakar sebanyak ini diperlukan Sukhoi untuk terbang selama satu jam, jika  hanya untuk satu jam terbang sukoi  hanya menghabiskan biaya Rp.105.000.000 juta.

Berdasarkan data teknis Sukhoi tipe SU-27 dan SU-30, kapasitas tangki bahan bakar pesawat tempur ini mencapai 9.400 kilogram atau 14.000 liter avtur. arti nya Rp.210..000.000 juta biaya sukhoi terbang selama dua jam. dan jika pesawat tempur sukhoi dimaksimalkan dapat diisi bahan  bakar 11.000 kilogram bahan bakar atau 17.000 liter dan jika tetap di pakai harga avtur termahal maka dengan 17.000 liter biaya nya hanya Rp.255.000.000  juta  / pesawat untuk dua jam lebih dapat terbang.

Harga avtur di atas adalah tahun 2012-2013, sedangkan tahun 2014-2105 menurut  direktur pusat studi kebijakan publik Sofyano Zakaria  berkisar Rp.7500 sampai Rp.12.000. Jadi kesimpulannya  wacana biaya operasi sukoi  per jam Rp.400.000.000 juta adalah tidak benar dan sangat menyesatkan, terutama pihak pihak  yang tidak ingin terjadinya pembelian  pesawat tempur sukhoi SU-35.

Hukum Alam berlaku, semakin besar sebuah benda maka semakin kuat tenaga dari objek tersebut. Hubungan dengan sukhoi apa? Sebagai contoh jika Sukhoi ibarat dengan sebuah bus kota AKAP dengan daya angkut 55 orang penumpang, dapat  menempuh jarak sangat jauh dan menguntungkan, maka sebagai pembandingnya Gripen dapat diibaratkan seperti kopaja / metro mini yang sama sama bisa mengangkut penumpang namun “terbatas’ dan kurang cocok digunakan untuk perjalanan jarak jauh, karena jelas merugikan dan juga sedikit dalam hal daya angkut.

Lalu  jika disangkutpautkan dengan pesawat tempur, maka di mana mana  sebuah pesawat tempur yang secara fisik lebih besar maka diperlukan mesin yang juga besar dan juga tentu bahan bakar yang banyak, karena hal tersebut memang hukum alamnya. Ukuran pesawat sukhoi  lebih besar dari gripen atau typhoon, sudah pasti akan mengunakan  bahan bakar  yang sangat besar, apalagi  dengan dua mesinnya, karena memang itulah tujuan dibuatnya pesawat sukhoi dengan bentuk yang lebih besar ukurannya.

Jadi jangan membandingkan pengunaan bahan bakar sukhoi dengan gripen atau pun typhoon, karena dari  fisik nya saja sudah berbeda, seperti orang gendut tentu saja makan dan minum nya  di atas rata rata  orang kurus, sehingga body  yang  besar dan mesin yang juga besar memang menunjang tugas sukhoi sebagai pesawat tempur tercepat dengan kecepatan 2,25 mach dengan  maximal daya jelajah 5400km.

2. Faktor ketersediaan  suku cadang  dari penjual/maintenence/embargo sepihakGripen adalah pesawat single mesin yang bagus, namun sudah bukan rahasia umum, komponen komponen utamanya berasal dari  beberapa  negara, sebut saja amerika, inggris, perancis, jerman, kanada. Tentu saja hal  ini menurut  para ahli  pabrikan  gripen belumlah independent dalam kemampuan membuat suku cadang untuk perawatan pesawat  gripen, sehingga  jika negara pembeli gripen atau negara pembuat suku cadang kebetulan tidak suka dengan negara yang kebetulan juga membeli gripen maka  boleh dibilang pesawat gripen hanya menjadi besi tua pesakitan.

>Lalu hubungan dengan TOT..?  silahkan  jawab sendiri.Lalu bahaya laten utama dengan banyaknya negara pemilik suku cadang gripen maka faktor  embargo menjadi hantu yang mengintai di kemudian hari, kok bisa? Tentu saja bisa. Walaupun secara tidak langsung. Contoh : Perancis membatalkan penjualan mistralnya kepada rusia karena tekanan  amerika, lalu Inggris mengajukan protes atas rencana swedia menjual gripen kepada argentina. Inggris ikut ikutan mengembargo  pesawat Hawk TNI AU dalam kasus pelanggaran HAM di timor leste, dan Jerman sempat menunda penjualan pesawat latihnya kepada TNI karena solider dengan amerika.

Belum lagi kasus KFX/IFX  di mana  Amerika karena takut teknologi kunci pesawatnya dikuasai  korea selatan, maka  amerika enggan berbagi  4 kunci teknologi  intinya  dalam pembuatan pesawat tempur, mungkin karena takut korea selatan akan lebih pintar, (ingat samsung).

3.  Faktor daya  tempur

Ingat pitch black Angkatan Udara India dan Inggris…pesawat  tempur kebanggan  Inggris Typhoon dicukur habis oleh pesawat tempur Sukhoi S-30MKi  India  dengan  skor telak 12-0, tanpa  balas. Lalu pitch black TNI AU dengan Australia air force  juga memperkuat keunggulan  Sukhoi Family dalam bertempur di udara. Bahkan  menuurut info  dari forum militer negeri  jiran, pesawat F22 raptor pun dalam dog fight  dapat dipukul KO oleh Hawk angkatan udara Malaysia.

Berita kemenangan latihan sukhoi su30mki  dengan Typhoon:

India’s top guns have claimed they humiliated the cream of the RAF during a two-week exercise which offered British pilots a rare chance to go up against some of the latest Russian-designed fighter jets.

Operation Indradhanush saw the Indian Air Force (IAF) bring four of its fleet of Russian-designed SU-30MKI Flanker fighter aircraft to RAF Coningsby in Lincolnshire to face off against the RAF’s Typhoon FGR4 fighter.

The exercise was relished by British pilots as an opportunity to train alongside Russian-designed aircraft, amid increasing tensions in the Baltic – where the RAF has deployed fighters following the conflict in Ukraine – and more frequent interceptions of Russian bombers off the British coastline.< However, to the dismay of RAF officers, their Indian counterparts have reportedly taken the unusual step of publicly claiming to have come away from the exercise with a resounding 12-0 victory against their UK opponents.

4.Faktor Pengentar/efect detergen jika menurut warjager

Jet tempur Sukhoi SU27  dirancang memiliki kemampuan sergap superioritas udara dengan jelajah jarak jauh. Selain keunggulan udara jet tempur ini dengan kemampuan multi peran mampu melakukan serangan terhadap sasaran di darat dengan peluru kendali atau bom pintar. Teknologi tempur Sukhoi 27 SKM dari pabriknya Knaapo di Rusia sangat menggentarkan karena mampu membawa rudal udara ke udara RVV-AE active radar homing, rudal udara ke permukaan KH- 29T(TE), KH-29L, KH-31P, KH-31A dan bom pintar jenis KAB 500Kr dan KAB-1500Kr. Sukhoi SU 27SKM dan SU30 MK2 telah dilengkapi dengan instrumen isi ulang BBM di udara sehingga kemampuan jelajah tempurnya semakin jauh.

Dengan sekali isi ulang avtur Sukhoi SU27 SKM dan SU30 MK2 mampu mencapai jelajah 5400 km, sebuah jelajah tempur yang menakjubkan. Instrumen avionik di kokpit berupa layar kaca MLD (Multifunction Liquid-crystal Display) dan HUD  Head Up Display  Sistem navigasi terintegrasi dengan sistem satelit Glonass dan Navstar demikian juga dengan RWR (Radar Warning Receiver) yang berfungsi mengendalikan tembakan rudal anti radiasi KH-31P. Penggunaan IRST (Infrared Search and Track Device) yang mampu menembakkan rudal laser beam riding sudah tersedia di Sukhoi SU27 SKM.

Jadi Teknologi tempur yang dikandung pada Jet tempur Sukhoi SU27 SKM dan SU30 MK2 mampu mendeteksi, mengunci dan menyerang sasaran 360 derajat dengan segala cuaca. Cantelan beragam persenjataan Sukhoi mampu menggotong sampai 14 jenis senjata mulai dari rudal udara ke udara, rudal udara ke darat, roket dan bom. Selain kemampuan serang darat yang dimiliki Sukhoi SU30 MK2.

5 .Faktor  traumatik

Mungkin masih ingat berita peristiwa Bawean, peristiwa pulau roti, peristiwa eltari kupang dan jika dimundur ke belakang peristiwa sipadan ligitan, ambalat dan timor leste menjadi dasar utama kebangkitan TNI dalam menata ulang kekuatan militernya di tiga matra.

Peristiwa Bawean membuka mata pemerintah dan TNI  tentang rapuhnya  kekuatan tempur dari angkatan udara, sehingga seharusnya pesawat TNI sebagai pelindung negara  tidak berkutik di “lock” oleh pesawat tempur amerika di atas perairan sekitar pulau bawean, ditambah masuknya pesawat Australia di pulau roti yang hanya bisa dikejar oleh sekelas hawk dan F5 tiger.

Momen lain peristiwa sipadan dan ligitan serta ambalat yang kembali membuka mata negara bahwa tiada kawan abadi dalam  kehidupan bernegara. pepatah ” jika ingin damai siap lah berperang” memang bener adanya. indonesia dikelilingi negara negara kecil yang terkadang harus diberi pelajaran, seperti singapura dengan FIR yang dikuasainya, dan australia dengan berhasilnya memisahkan timur leste dari NKRI. Jadi dengan adanya rencana pembelian sukoi SU-35 tidak lah salah. karena posisi  indonesia sebagai  negara kepulaun mewajibkan adanya alusista yang mampu  menjangkau cepat dan tepat seluruh wilayah penjuru negara RI.

6 .Persiapan merebut   FIR  dari singapura

Perintah Presiden untuk merebut/mengambil alih kembali pengelolan FIR dari singapura merupakan tantangan besar yang ada di depan mata oleh TNI.kenapa demikian, karena pada  tahun 2019  ditargetkan FIR sudah dapat dikelola kembali oleh putra putri bangsa Indonesia, sesuai cita cita proklamasi bahwa kemerdekaan itu ialah hak semua  bangsa, yang meliputi  tanah, air dan udaranya.

Bagaimana mungkin sejak  bangsa indonesia merdeka sampai  sekarang kita tidak dapat mengelola FIR  diatas  wilayah negara nya sendiri. kenapa demikian?  logika nya bikin nuklir dan bom atom saja jika niat bangsa ini sudah bisa, apalagi jika hanya cuma mengelola  FIR.

Yang jadi pertanyaan adalah  ”

A) Bagaimana  jika pada tahun  2019  nanti  singapura tidak mau  melepas kendali FIR nya dengan sejuta alasan dan tetap  mempertahankan FIR di bawah kendalinya ?

B) Lalu apa tindakan Pemerintah dan TNI untuk menghadapi  peristiwa  di tahun 2019 dalam rangka pengambilan alihan  FIR ?

Jika A+B  =   C  ( Chaos+Conflict)  maka kemungkinan terburuk akan ada  konflik, yang ujung ujungnya hanya dua, diselesaikan secara diplomatik bilateral atau lewat mahkamah internasional. Jika belajar dari sejarah, maka pemerintah tidak boleh membawa permasalahn FIR kepada Mahkamah Internasional, karena belajar dari sejarah sipadan/ligitan maka akan kalah.

Maka “jika ingin damai siap lah berperang”  harus di persiapkan dari sekarang  untuk menyambut  2019 nanti,maka jalan pertama yang dilakukan adalah peningkatan MEF = MAXIMUM ESSENSIAL FORCE.. bukan  minimum lagi, karena tantangan ke depannya sudah jelas, lawan yang akan dihadapi sudah  ada di depan mata.

Jadi  tidak salah jika Sukhoi SU-35 menjadi  pilihan utama dalam memperkuat daya tawar dan pengentar terhadap negara tetangga, karena Singapura sudah pasti akan membeli pesawat F35 stealth dari amerika  dengan jumlah yang lumayan banyak,  maka  sedia payung sebulan hujan  wajib dilakukan oleh pemerintah. Lebih baik terlambat  daripada tidak dibeli sama sekali.

TNI dan KeMenhan pasti  mempunyai visi ke depan,  pertempuran udara dan laut adalah pertempuran utama bagi negara berbentuk kepulaun, di mana senjata utama yang digunakan dalam suatu metode peperangan adalah dengan memaksimal kan kemampuan udara baik itu pesawat, tempur, helicopter tempur dan rudal peluru kendali jelajah, dan armada kapal perang serta tentu saja sang primadona kapal selam. Contoh,   operasi badai gurun terhadap  irak menjadi contoh nyata efektifnya pengunaan pesawat tempur canggih dan rudal jelajah serta satelit militer untuk menghancurkan kemampuan bertahan pasukan Irak, dan menjatuhkan moral  tempur tersebut  dengan melancarkan serangan rudal terlebih dahulu  baik dari pesawat tempur, kapal angkatan laut.

Suatu pasukan yang akan pergi berperang akan sangat percaya diri apabila dibekali oleh peralatan tempur yang canggih dan mempunyai efect menakutkan. Ibarat pendapat warjager, seorang satpam akan ciut nyalinya bila berhadapan dengan perampok yang bersenjata tajam atau bersenjata api, sementara si satpam  hanya pentungan.

SU-35BM adalah Obat penawar racun yang efektip untuk mengobati “gigitan ular” tetangga yang suka mengangu.  Jangan  berfikir mahalnya biaya operasional pesawat sukhoi  yang sekitar Rp. 400 juta  katanya  loh per jam dijadikan alasan  untuk tidak mempunyai pesawat tempur canggih. Sungguh naif jika keamanan suatu negara dinilai dari  Rp.400.000.000 juta, dibanding biaya studi banding anggota DPR ke Amerika sebesar Rp.14 milyar rupiah tanpa hasil jelas apa yang didapat.

Sebagai bukti pentingnya keamanan suatu negara, maka kita lihat Amerika  serikat  sampai menghabiskan dana milyaran juta dolar hanya untuk pengembangan pesawat siluman F35 dan F22. Belum lagi pengembangan alusista jenis lain yang sangat menguras uang negara, karena semua itu tak lain demi “keamanan negara” dan mereka  tidak berfikir mahalnya biaya suatu  riset, atau beratnya biaya operasional militernya karena yang penting bagi mereka Negara  Amerika selalu terjaga dan aman serta selalu terdepan sebagai polisi dunia tanpa tanding.

Oleh: Telik Sandi