Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Pada 2015 sekarnag tepatnya pada Desember 2015 nanti kita akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN / MEA (ASEAN Economic Communities). Dimana MEA 2015 merupan hasil konsensus dari negara anggotas ASEAN untuk mengintegrasikan ekonomi Asia Tenggara. MEA juga dapat dikatakan sebagai suatu masa dimana negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi “satu”. Dimana akan terjadi perpindahan produk secara bebas tanpa hambatan, seperti investasi, jasa, tenaga kerja, serta lainnya. Proses integrasi tersebut berfokus pada penciptaan pasar tunggal yang ditopang dengan penghapusan hambatan non-tarrif.

Pembentukan MEA 2015 tentu dipicu oleh beberapa faktor baik faktor internal maupun eksternal. Secara eksternal dinamika yang ada bahwa anggota ASEAN menginginkan membentuk suatu kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara dengan memanfaatkan negara-negara ekonomi terbesar, seperti Cina, Korea Selata, serta India. Dimana gagasan tersebut akan berdampak pada peningkatan ekonomi di negara-negara ASEAN. Berdasarkan Laporan Bank Dunia (2014), dengan menggunakan paritas daya beli (PPP) dolar internasional, ekonomi ASEAN menyumbang 6 persen terhadap PDB global.

Berdasarkan data tersebut membuat ASEAN sebagai organisasi kawasan regional dengan nilai ekonomi terbesar kelima di dunia setelah NAFTA (20 persen), EU (17 persen), China (16 persen), dan India (7 persen). Berbeda dengan faktor internal di kawasan tersebut bahwa trauma berkepanjangan serta ketakutan terhadap krisis keuangan yang menjalar di negara-negara Asia pada 1998 atau dikenal dengan Krisis Asia membuat ASEAN untuk membentuk suatu sistem dalam menciptakan suatu bangunan ekonomi yang kokoh jika terjadi ketidakstabilan baik ekonomi mikro maupun makro di kawasan tersebut.

Dalam menyambut proses integrasi ekonomo tersebut (MEA 2015) pemerintah Indonesia didesak untuk mempersiapkan berbagai hal, seperti UKM, sektor jasa, investasi, peningkatan kualitas penduduknya serta lainnya. Para ekonom Indonesia pun berdalih mengenai masalah ini ada yang pro maupun kontra terhadap pembangunan MEA 2015 ini. Di satu sisi MEA 2015 merupakan suatu peluang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia akan tetapi di sisi lain justru ini merupakan hambatan dalam kesejahteraan Indonesia karena Indonesia belum siap baik ekonomi, sosial, maupun politik.

Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, secara idealisnya MEA menjadi sangat dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggota-anggota didalamnya. Jika kita lihat dari Indonesia itu sendiri, MEA merupakan kesempatan besar karena hambatan non-tarif akan diminimalisir bahkan dihilangkan. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia.

Di sisi lain, kehadiran MEA tentu pasti iikuti dengan tantangan didalamnya yakni permasalahan keseragaman jenis produk yang diperdagangkan, seperti pertanian, karet, tekstil, dan barang elektronik. Sehingga dengan adanya keseragaman jenis produk justru ketergantungan diantara negara-negara ASEAN tidak akan tercipta. Hal tersebut dikarenakan setiap negara anggota ASEAN memiliki produk sama. Keseragaman produk tersebut yagn diimport dari negara-negara ASEAN dengan jumlah yang tidak dibatasi oleh suatu hambatan membuat ancaman tersendiri untuk industri dalam negeri Indonesia. Dengan catatan bahwa produk luar negeri lebih baik dibandingakn produk dalam negeri Indonesia seperti kualitas, harga, dan kuantitasnya.

 

Aprilian Cena,

Penulisan merupakan Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidyatullah Jakarta serta Menjabat sebagai Wakil Bendahara PC PMII Ciputat.

Leave a Comment