Konflik Suriah: Kontestasi Amerika-Rusia

Arab Spring atau Musim Semi Arab sering diasosiasikan dengan pembaharuan dimana rakyat di Timur Tengah melakukan revolusi. Arab Spring dimulai ketika turunnya Presiden Tunisia, yaitu Ben Ali. Kemudian itu berlanjut ke negara-negara timur tengah lainnya, seperti Mesir, Libya, Yaman, dan terakhir yaitu Suriah. Pergolakan yang terjadi di Suriah sampai sekarang masih berlanjut yang dipimpin oleh Presiden Bashar Al-Assad. Konflik di Suriah tersebut tentu berdampak pada negara-negara dunia yang memiliki kepentingan di Suriah khususnya Amerika Serikat dan Rusia.

Kepentingan di bidang politik merupakan kepentingan utama Amerika di negara-negara Timur Tengah khususnya Suriah. Suriah merupakan satu-satunya penghambat untuk Amerika setelah Irak ditundukkan untuk menguasai negara-negara Timur Tengah. Sebagian besar negara-negara di Timur Tengah sudah mulai menjadi pengikut atau sudah menjadi teman dekat dengan Amerika Serikat. Akan tetapi berbeda dengan Suriah yang cenderung lebih condong ke Rusia dan Cina ketimbang dengan Amerika Serikat.

Suriah juga dianggap oleh Amerika sebagai ancaman besar bagi Israel selain Iran. Suriah memiliki kedekatan yang erat dengan gerakan Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Palestina yang menjadi musuh besar Israel. Amerika sangat melindungi Israel dari ancaman Suriah disebabkan karena Israel merupakan sekutu terdekatnya Amerika di Timur Tengah dan sebagian besar orang yang berada di pemerintahan Amerika adalah orang-orang Yahudi yang sangat memperjuangkan Israel dalam dunia internasional

Berdasarkan sejarah, Suriah merupakan salah satu sekutu terdekatnya Rusia di kawasan Timur Tengah. Kedekatan itu disebabkan secara ideologis, rezim Ba’athis (sebuah partai politik yang berkuasa atau dominan di Suriah) yang berkuasa di Suriah lebih berorientasi kepada sosialis ketimbang sebagian besar rezim-rezim yang berkuasa di Arab. Selain itu, rezim Ba’athis juga lebih cocok diidentifikasikan dengan Blok Timur ketimbang Gerakan Non-Blok.

Rusia memiliki kepentingan dalam bidang politik dan ekonomi dalam konflik internal Suriah. Kepentingan politik Rusia di Suriah berkaitan dengan adanya usaha Rusia dalam mempertahankan pengaruhnya di Timur Tengah dalam menghadapi dominasi Amerika yang ingin menguasai Timur Tengah. Suriah juga dipandang oleh Rusia sebagai aset geostrategis penting dalam mencapai kepentingan nasionalnya. Kepentingan Rusia dalam bidang politik di Suriah terlihat dengan adanya pangkalan angkatan laut milik Rusia di Pelabuhan Tartus. Pangkalan laut tersebut merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh Rusia di Timur Tengah.Adapun kepentingan ekonomi Rusia dalam konflik internal Suriah yakni adanya keinginan Rusia menjadikan Suriah sebagai pasar potensial untuk perdagangan senjata. Semua produk senjata dan kendaraan militer Suriah merupakan buatan Rusia

Oleh: Thomas Hobbes

Leave a Comment