Pemuda, Pengalaman dan Masa Depan

“Berikan aku 1000 orang tua, maka akan ku cabut semeru dari akarnya. Dan berikan aku 10 pemuda, maka akan ku guncang dunia”
Ir. Sukarno

Betapa tidak kutipan sang proklamator kita di atas melukiskan kekuatan pemuda untuk menjalankan hakikat kelahirannya sebagai khalifah di muka bumi ini. Bahkan kekuatannya jauh melebihi orang tua walau dibandingkan 1:100. Presiden pertama bangsa Indonesia ini adalah seorang yang sangat menghargai pemuda sebagai pelaku kegiatan kenegaraan, dikarenakan kejadian penculikan yang dilakukan pemuda kepada dirinya dan bung Hatta lah yang memberikan ia kesempatan untuk memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pine II dan Gilmore (1999: p.12) menyebutkan bahwa “Experience are event that engage individuals in a personal ways”, atau kita artikan pengalaman adalah kejadian yang terjadi dan mengikat setiap individu secara personal. Yang kemudian dapat kita ilhami dari kutipan diatas, bahwa setiap individu berjalan mengarungi waktu berdasarkan hal-hal yang pernah ia alami. Tindak-tanduk setiap individu akan selalu berdasarkan pengalamannya, baik itu berupa keputusan, pencarian jati diri hingga kepada pemilihan diksi dalam berucap dan menulis.

Oleh karena itu, Indonesia dapat merdeka pun dapat kita katakan disebabkan oleh pengalaman pahit dan getir selama bangsa ini dijajah. Atas dasar pengalaman itulah para founding father Indonesia mencari cara untuk memerdekakan dirinya, karena sesuai dengan kutipan Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa, tak terkecuali bangsa Indonesia yang dulu sedang dimiskinkan fisik dan nalurinya oleh penjajah nan keji.

Dari pemaparan diatas dapat kita singgung bahwa kegelisahan “70 tahun kemerdekaan” mengenai bangsa ini dapat terjadi karena mulai terjadinya disorientasi pengalaman untuk kemerdekaan individu secara khusus dan bangsa secara umum. Disorientasi yang bagaimana? Yaitu ketika daya kritis kita mulai dilemahkan oleh penjajahan ala ghouzul fikr, kita mulai dijajah pola pikirnya, nalar berfikirnya hingga penghilangan kesadaran bahwa keadaan bangsa ini kian sekarat oleh pendegradasian moral.

Sebagai pemuda-pemudi Indonesia yang tersadarkan, mari kita mulai melakukan langkah-langkah untuk mewujudkan pancasila kepada koridor yang diharapkan para pendiri bangsa ini. Seperti pemeo yang sering kita dengar, bahwa pemuda adalah pewaris masa depan bangsa, dan ditangan pemudalah masa depan bangsa ditentukan.

Jayalah Pemuda-Pemudi Indonesia!

Fathurrahman “Poci” – Mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Leave a Comment