Ketika MEA Mengancam “Jodoh”

“Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu”
Afgan – Jodoh Pasti Bertemu

Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang biasa disebut MEA kini kian menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Beberapa pihak menganggapnya sebagai momok, pun begitu sebaliknya di pihak lain melihat ini sebagai kesempatan. Pada sisi ekonomi dan politik banyak yang meragukan kesiapan Indonesia untuk MEA ini, kurangnya sosialisasi juga menjadi faktor terciptanya pemikiran skeptis akan kesiapan Indonesia.

Balai Latihan Kerja dan Industri (BLKI) Provinsi Banten pada tahun 2015 ini meningkatkan kuota peserta yang cukup besar yaitu sekitar 23%. Ini menandakan bahwa skill adalah faktor penting yang akan menjadi tolok ukur dalam mendapatkan pekerjaan di era MEA mendatang, mulai banyak para pekerja lokal yang memantapkan skillnya demi mempertahankan pekerjaan dari persaingan serangan pekerja asing ke Indonesia.

Posisi-posisi penting di berbagai bidang pun akan mulai terisi pelan-pelan oleh para pekerja asing yang notabene memiliki kemampuan lebih dibanding pekerja lokal yang kurang terberdayakan.
Kemudian, akan muncul pahlawan-pahlawan baru yang menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia yang ikut mensejahterakan Indonesia. Mensejahterakan dalam artian menghidupi beberapa partisi masyarakat Indonesia. Para pekerja asing sebagai pendatang mau tidak mau, bahkan bisa jadi salah satu tujuannya adalah menurunkan gen bangsanya ke Indonesia. Akan terjadi akulturasi dari berbagai segi yang notabene akan merubah keadaan bangsa ini, penyesuaian terhadap budaya dan sistem kerja ala pekerja asing misalnya.

Dapat kita tarik hipotesa bahwa sesaat lagi akan semakin banyak penikahan antar gen sesama warga ASEAN yang ber-MEA di Indonesia. Bukan lagi keturunan arab, tionghoa dan eropa yang selama ini terjadi dan terlihat cukup jauh perbedaan secara geografis, tapi keturunan Thailand, Vietnam dan Filipina misalnya, yang memang tidak jauh berbeda baik secara geografis maupun fisiologis.

Ranah perjodohan pun akan semakin meluas persebaran dan pencariannya, akan mulai hilang idealisme bangsa ini untuk mempertahankan keturunan yang sifatnya kesukuan yang memang sudah mulai memudar. Buktinya, dalam dua dekade terakhir kita dapat melihat bagaimana peran pemeo “memperbaiki keturunan” merombak habis sistem pernikahan yang menganut idealisme etnosentris.

Dampak selanjutnya, mulai ramai jomblowan dan jomblowati yang mencari celah mendapatkan jodohnya pada ranah pekerjaan yang sudah di-MEA-kan. Dengan dalih memiliki pasangan yang bukan keturunan Indonesia dan memiliki daya saing kerja yang tinggi akan meningkatkan taraf hidupnya. Begitupula pada tataran pekerja yang kurang terbedayakan, akan ada kemungkinan mereka terbuang dari ranah perjodohan bertaraf hidup tinggi, karena pekerja asing dengan jabatan tinggi di perusahan Indonesia bukan tidak mungkin akan menjadi pasangan idaman pekerja lokal yang mengidamkan kehidupan yang lebih baik.

Apa yang akan teradi pada mereka yang kurang terberdayakan? Akankah mereka kehilangan sebagian besar waktunya untuk berdandan memperbaiki diri sebelum tampil di pentas MEA? Apakah ketika mereka sudah selesai memantaskan diri kemudian akan datang kesempatan untuk menjadi pekerja yang idamkan itu? Kalau tidak dan memang sudah terlambat, apakah mereka akan kehilangan jodoh mereka yang seharusnya sudah mereka dapatkan bila MEA itu tidak hadir? Berarti akan nampak masyarakat-masyarakat Indonesia yang terbuang oleh sistem karena tidak bisa bertahan dalam dunia perjodohan regional ASEAN. Merekalah kelompok yang berkemungkinan merasa gagal dalam perebutan kursi MEA di negaranya sendiri.

Pertanyaan yang cukup menggelitik memang, namun itulah kegelisahan yang harusnya kita hadirkan bila bertanya mengenai masa depan bangsa Indonesia. Apakah nanti lebih berkuasa mereka yang keturunan campuran dibandingan para penduduk asli?

Langkah taktis apa yang perlu kita lakukan sebelum kehilangan jodoh karena terpaan badai MEA ini? Perlukah kita menguatkan rasa nasionalisme, rasa cinta ini kepada bangsa Indonesia sebagai seorang Indonesia yang lahir, besar dan hidup berkat tanah dan air dari bumi Indonesia?

Indonesia butuh kita, sebagai bagian dari masyarakatnya untuk menggaungkan lagi rasa bangga ber-Indonesia yang kini ter-inferioris oleh supremasi dari bangsa luar Indonesia.
Jangan biarkan tanah surga kita ini dikuasai oleh mereka yang menyentuh bumi pertiwi dengan niatan menguasai, kekhawatiran akan tamaknya pekerja asing karena tidak memiliki “sense of belonging” kepada tanah ini pun harus kita perhatikan. Pantaskan diri kita untuk menghadapi MEA, tidak boleh satupun pekerja asing yang merebut jodoh kita karena kita sebagai tuan tanah lah yang seharusnya menguasai kehidupan dunia pendidikan, pekerjaan dan perjodohan Indonesia.

Fathurrahman “Poci” – Mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Leave a Comment