Konflik Suriah, Dilema ICRC: Netral atau Kepentingan Amerika

Mungkin kebanyakan belum mengetahuiapa itu ICRC, fungsinya apa, dan tujuannya. Jika kita bercerita mengenai konflik Suriah di kawasan Timur Tengah pasti sebagian besar atau hampir semua hanya mengetahui aktor-aktor yang terlibat di dalamnya adalah negara-negara besar, seperti Amerika, Rusia, Cina, Iran dan lainnya, benar bukan ?. Padahal ada aktor lainnya secara langsung terlibat di dalamnya sebut saja International Committe Red Cross (ICRC) atau Palang Merah Internasional sebagai organisasi internasional. Nah, hal seperti inilah sering luput dari pandangan kita.

Lebih jauh mengenai ICRC bahwa sebenarnya tidak ada masalah jika ICRC ikut serta dalam konflik tersebut karena merupakan tugasnya untuk meneggakan hukum humaniter saat keadaan perang. Akan tetapi permasalahannya atau rasa skeptis kita menanyakan apa benar ICRC sebagai organisasi kemanusiaan bersifat netral atau bentuk representasi dari kepentingan suatu aktor negara. Perlu diketahui juga ICRC adalah International Non-Governmental Organization atau LSM Internasional dimana aktivitasnya mengandalkan donatur dari negara-negara, organisasi, atau individu.

Tentunya pernyataan di atas mengenai ICRC itu bersifat netral atau representasi kepentingan dari suatu negara bukan merupakan suatu “pembualan” atau rasa sentimen tinggi terhadap ICRC itu sendiri. Melainkan pernyataan tersebut muncul karena berdasarkan teori, impelementasi, serta bukti-bukti. ICRC merupakan INGO yang memiliki pengaruh cukup signifikan dan sangat dipercaya karena prinsip netralitasnya atau tidak mewakili kepentingan negara tertentu. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa INGO yang bersifat netral dan sukarela membuat INGO masih sangat membutuhkan donatur untuk menjalankan misinya sehingga terkadang INGO tersebut harus mengikuti perintah dari donatur terbesar dalam aktivitasnya.

Semakin kompleks permasalahan prinsip netralitas ICRC dalam konflik Suriah karena bantuan donatur terbesar ICRC adalah Amerika. Amerika melalui ICRC yang bersifat netral dapat melakukan intervensi soft power dengan mendukung bantuan kemanusiaan dari ICRC itu sendiri. Sehingga Amerika melalui ICRC dapat membantu pasukan Free Syrian Suriah (FSA) dalam bantuan kemanusiaan, merupakan kelompok yang didukung oleh Amerika untuk menurunkan Presiden Bashar Al-assad di Suriah.

Di satu sisi ICRC harus menjaga prinsip netralitasnya untuk tidak berpihak pada satu kelompok dan di sisi lain ada indikasi ICRC harus mengakomodir kepentingan-kepentingan donatur terbesar yang membiayai aktivitasnya, sehingga misi kemanusiaan yang akan dijalankan oleh ICRC rentan terhadap pengaruh dan intervensi donator terbesarnya, dalam hal ini Amerika Serikat.

Aprilian Cena,
Penulis merupakan Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah dan Menjabat sebagai Wakil Bendahara PC PMII Ciputat