Putin Angkat Bicara Soal Serangan di Suriah

Pasukan Rusia di Suriah
Pasukan Rusia di Suriah

Moskow – Presiden Rusia Vladimir Putin membela operasi militer negaranya di Suriah dengan mengatakan serangan itu ditujukan untuk “menstabilkan otoritas sah” Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Kepada TV nasional, Putin juga mengatakan ingin “menciptakan kompromi politik” di Suriah.

Dia membantah serangan udara Rusia telah memukul kelompok oposisi moderat, alih-alih kelompok militan Negara Islam atau ISIS.

Sementara itu, pasukan Suriah yang didukung oleh militan Hisbullah dari Lebanon dilaporkan mencapai kemajuan penting dalam memukul pasukan pemberontak setelah serangan udara Rusia.

Kemenangan itu dilaporkan dicapai di Provinsi Idlib, Hama, dan Latakia.

Rusia menyatakan pesawat tempurnya melancarkan lebih dari 60 serangan atas Suriah dalam waktu 24 jam dengan sasaran kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam.

Pertarungan antara ketiga kekuatan saat ini dilaporkan berlangsung di jalan bebas hambatan yang menghubungkan ibukota Damaskus dengan kota-kota besar lainnya, termasuk Aleppo.

Pasukan pemerintah tampaknya sedang berupaya merebut kembali Idlib, yang sebagian wilayahnya -sebelum serangan udara Rusia- dikuasai oleh kelompok pemberontak, seperti dilaporkan Editor urusan Arab BBC, Sebastian Usher.

putin-tentara

Di bawah kepungan

Dalam wawancara, Presiden Putin mengatakan tujuan operasi militer Rusia di Suriah untuk “menstabilkan” pemerintahan di Damaskus.

Dia menekankan bahwa tanpa dukungan Moskwa kepada Presiden Assad, “kelompok teroris” dapat menguasai Suriah.

Menurutnya, pemerintah Assad saat ini dalam kondisi “dikepung”. Dia menambahkan, kelompok militan berada “di tepi Damaskus”.

Pemimpin Rusia itu juga mendesak agar negara-negara lain “bersatu dalam upaya melawan kejahatan ini (terorisme)”.

Koalisi pimpinan AS, yang telah melancarkan serangan udara mereka sendiri di Suriah, sebelumnya mengatakan tidak akan bekerja sama dengan Rusia.

Beberapa negara -termasuk Inggris dan Turki- menyatakan dukungan Rusia bagi Presiden Assad merupakan “kesalahan”.

Kompas.com

Sharing

Tinggalkan komentar