Jul 072017
 

Presiden Joko Widodo dalam KTT G-20 Hamburg, Jerman, 7/7/2017 (Sekretariat Kabinet)

Jakarta – Presiden Joko Widodo menyampaikan 5 pandangan serta usaha pemerintah Indonesia dalam menangani dan memberangus tindak kriminal terorisme, saat pidato di depan para pimpinan negara-negara anggota G20, di Hamburg, Jerman.

Hal pertama yang diungkap Presiden Jokowi adalah himbauan kepada negara anggota G20 untuk meningkatkan pengawasan terhadap aliran dana kepada jaringan kelompok radikal dan Teroris. Indonesia, kata Presiden, juga menghargai dukungan negara G20 terhadap proses keanggotaan Indonesia dalam FATF (the Financial Action Task Force).

“Yang kedua adalah berkat kemampuan teknologi informasi, G20 harus menjadi kekuatan penyokong dalam penyebaran kontra cerita dengan penekanan pada gerakan moderasi dan penyebaran nilai-nilai damai dan toleran,” tambah Presiden, dilansir ANTARA, Jumat 7-7-2017 di Jakarta, dari siaran pers Kepala Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Presiden Joko Widodo berbincang dengan PM Kanada, Justin Trudeau, di KTT G20 Hamburg, 7/7/2017 (Sekretariat Kabinet)

Presiden juga mengajak Negara G20 untuk menjadi kekuatan penyokong dalam usaha mencarikan solusi penyebab masalah terorisme yang timbul akibat adanya kesenjangan  dan ketidakadilan dengan memperkuat pemberdayaan ekonomi yang inklusif.

Hal keempat yang disampaikan Presiden Jokowi adalah ajakan kepada negara-negara G20 untuk mengembangkan kerja sama dalam bidang pertukaran intelijen, penanganan “foreign terrorist fighters” atau FTF dan pengembangan “capacity building”.

Kepala Negara juga menjelaskan bagaimana Indonesia menangani terorisme melalui program deradikalisasi.

Presiden mengungkap hasil melalui usaha tersebut, hanya 3 dari 560 eks aktor Teroris, atau 0,53 persen yang ingin melaksanakan tindakan terorisme kembali.

“Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama juga ikut berperan penting dalam menyebarkan perdamaian dan ajaran Islam yang toleran,” jelas Jokowi. Untuk menyampaikan pesan perdamaian, pemerintah juga bekerja sama dengan para pengguna Media Sosial.

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di KTT G20 Hamburg, 7/7/2017 (Sekretariat Kabinet)

Selain itu, Presiden juga mengenalkan kepada para pemimpin negara-negara anggota G20 bahwa Indonesia merupakan negara majemuk dan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

“Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia. Indonesia juga merupakan Negara demokrasi terbesar ketiga di dunia,” ujar Presiden Jokowi.

Dengan posisi yang unik dan strategis itu, Presiden mengatakan Indonesia berjanji untuk menjadi bagian dari usaha global untuk memberangus terorisme serta memasyarakatkan perdamaian dan toleransi.

Sejumlah pejabat yang mendampingi Presiden pada sesi I KTT-G-20 adalah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala BKPM Thomas Lembong.

Bagikan:

  4 Responses to “5 Poin Pidato Presiden Jokowi Soal Terorisme di G-20”

  1. Wah klu saddam gak dilengserkan dan mati digantung, mengkali dunia gak kenal apa itu yg namanya teroris keji seperti sekarang ini auhhh…. :berduka :berduka :berduka

  2. Garuda Militer
    ? Dokumentasi Militer ?
    Jumat, 07 Juli 2017
    KSAU Rahasiakan Penganti Jet Tempur F-5
    https://static.gatra.com/images/gatracom/2017/rizki/07-Jul/HadiTjahjanto_KSAU_GATRA_ArdiWidiYansah.jpgKepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahyanto [GATRA/Ardi Widi Yansah/HR02] ?

    TNI Angkatan Udara tengah melakukan peremajaan pesawat tempur untuk memperkuat alat utama sistem pertahanan atau alutsista.

    Kepala Staf TNI AU Marsekal Hadi Tjahyanto menyatakan telah mengganti pesawat tempur F-5 dan pesawat baru tersebut segera datang. Terkait spesifikasinya, KSAU merahasiakan.

    KSAU mengatakan setahun ini skuadron F-5 memang tidak lagi menjadi kekuatan tempur utama TNI AU. Hal ini karena suku cadang pesawat tersebut tidak diproduksi lagi.

    Namun semua personelnya tetap menjaga kemampuan dengan mengoperasikan pesawat SU-27, SU-30, maupun T-50 Golden Eagle.

    “Kami pastikan pengganti F-5 akan segera datang. Target kami sampai akhir tahun ini. Jika terealisasi, maka TNI AU akan memiliki alutsista baru yang lebih maju,” jelas KSAU Marsekal Hadi.

    Melihat kebutuhan dan perkembangan kedirgantaraan, KSAU menjamin pesawat yang akan datang ini berasal dari generasi 4,5 yang memiliki kemampuan dan peforma lebih canggih dibandingkan generasi 5. Demikian juga dengan sistem pertahanannya, generasi 4,5 lebih unggul.

    Soal negara mana yang menjadi produsennya, KSAU enggan menyebutkan.

    “Tapi yang pasti, sebagai persiapan personel. Kami membuka kesempatan kepada seluruh lulusan AAU untuk ikut serta seleksi penerbangan baik untuk pesawat tempur maupun helikopter. TNI AU memerlukan prajurit yang memiliki kemampuan tinggi dalam pengoperasian alutsista baru yang lebih canggih nanti,” pungkasnya.

    KSAU menjelaskan hal itu usai upacara wisuda 117 sarjana lulusan Akademi Angkatan Udara (AAU) 2017, Kamis (6/7) di Gedung Sabang Merauke Kompleks AAU DI Yogyakarta.

    Kepala Penerangan AAU Mayor Sus Ambar Rejiyanti menjelaskan taruna yang dinyatakan lulus selanjutnya bergelar Sarjana Terapan Pertahanan S.Tr (Han). Mereka berasal dari tiga program studi yaitu Aeronautika Pertahanan, Elektronika Pertahanan, dan Teknik Manajemen Industri Pertahanan.

    “Lulusan terbaik tahun ini diraih Sersan Mayor Satu Taruna Bernadinus Yogya Kristian dari program Elektronika Pertahanan. Selanjutnya semua taruna akan dilantik menjadi perwira remaja bersama taruna dari kesatuan lainnya oleh Presiden Joko Widodo,” jelas Mayor Ambar.

    Selain 117 taruna, AAU juga meluluskan 12 taruni tahun Werfing atau tahun pendidikan 2013 dengan lima di antaranya mencapai indeks prestasi kumulatif di atas 3,5.

    ? Gatra

  3. Dan Penggantiiii F limaaaa adaaaaaaaaalaaaaaaahh

    Es Uuuuuuu

    Suuuuuuuu

    Per Tucanooooooo

    :hammer

  4. ha.. ha.. ha….

 Leave a Reply