Sebab-Musabab Silsilah Gelar Haji di Indonesia

Melihat tragedi Wina dan runtuhnya salah satu bangunan mesjid di Arab Saudi ditambah dengan korban meninggal berasal dari kewarganegaraan Indonesia. Naik haji merupakan salah satu rukun Islam dalam agama Islam bahkan ada juga menyebutkan bahwa jika belum naik haji maka Islamnya baru 99 persen bukan 100 persen. Akan tetapi pada perkembangannya naik haji dilakukan bukan hanya untuk ibadah semata melainkan ibadah haji sebagai “prestise” diidentikan dengan gelar haji atau hajah di depan namanya.

Sehingga mengalami degradasi makna dari esensi naik haji itu sendiri. Mungkin penjelasan di atas bukan fenomena baru melainkan sudah menjadi realitas di masyarakat Indonesia. Pernahkah kita sejenak untuk memikirkan dari mana asal gelar haji atau membaca buku, artikel, serta tulisan mengenai darimana gelar haji itu berasal. Bahkan ada beberapa orang mencantumkan gelar hajinya di KTP, Kartu Keluarga, dan surat-surat lainnya.

Kemudian jika dilihat dari Islam itu sendiri tidak memberikan penjelasan khusus apalagi hukum tertentu mengenai penggunaan gelar haji di depan nama seseorang. Ditambah katanya gelar haji hanya dipakai oleh masyarakat Indonesia. Sejarah dahulu menjelaskan orang Indonesia naik haji tidak dipanggil haji seperti biasanya saat ini, “pak haji” atau “bu haji”. Pahlawan besar pun yagn berjuang untuk Indonesia tidak dipanggil haji, seperti Pangeran Diponegoro, Kiyai Mojo, dan lainnya tidak dipanggil misal Haji Diponegoro atau Kiyai Haji Mojo.

Bersumber dari nu.or.id pemakaian gelar haji berawal dari perlawanan umat Islam di Indonesia terhadap para penjajah. Perlawanan biasanya dipicu oleh seorang guru, ulama, dan haji. Karena pemerintah kolonialis mulai kesulitan untuk mengidentifikasikan pemberontakan tersebut. Setiap orang pribumi pulang dari tanah suci Mekkah pasti terjadi pemberontakan.Akhirnya para kolonialis mengeluarkan suatu kebijakan dikenal dengan Ordonasi Haji yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar “haji” di depan namanya.

Kebijakan itu akan mempermudah pemerintah kolonialis untuk mengidentifikasi pelaku pemberontak. Berawal dari itulah membuat gelar haji sering digunakan di bagian depan nama orang. Parodi penggunaan gelar haji pun bermunculan, seandainya kita berpakaian serba putih ala habis naik haji walaupun kita belum naik haji pasti ada saja orang memanggilnya “pak haji” atau “bu haji”. Ada juga orang yang sudah naik haji jika tidak dipanggil haji pasti akan marah dan selalu ingin dipanggil haji.

Sebenarnya ada gelar haji atau tidaknya bukanlah sesuatu penting melainkan kita seharunya bisa memaknai secara mendalam apa tujuan naik haji, apa yang harrus berubah setelah naik haji, dan sebagainya sesuai dengan ajaran Islam. Bukan berarti kita naik haji hanya untuk mendapatkan gelar tersebut.