Berlanjut ke Cirebon, Rencana Kereta Cepat Indonesia-Cina

Setelah Presiden Indonesia, Joko Widodo memutuskan untuk menolak proposal pengajuan Jepang dan menerima proposal Cina mengenai proses pembuatan kereta cepat di Indonesia dengan rutenya Jakarta-Bandung maka dilanjutkan tahapan lanjutan antara konsorsium BUMN Indonesia dan Cina. Menteri BUMN, Rini Soemarno menyatakan pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung akan dimulai November 2015 nantinya akan menjadi kereta tercepat di tingkat regional ASEAN.

Masih menurutnya, Rini Soemarno, 17 Oktober 2015 mengatakan “Penduduk kita ini terbesar di ASEAN. Kita harus memimpin di ASEAN. Oleh karena itu kereta cepat Jakarta-Bandung harusnya ada pertama kali di Indonesia, dan Alhamdullilah kita akan wujudkan”. Pada hari sebelumnya Chairman PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, pihak yang terlibat dalam pembangunan tersebut sangat optimistis dapat menyelesaikan pembangunan itu dalam jangka waktu tiga tahun.

Hal tersebut dikarenakan permasalahan mengenai pembebasan tanah sudah diselesaikan dengan pihak PT Jasa Marga Tbk sebagai pemilik lahan jalan tol serta PT Perkebunan Nusantara VIII, pemilik tanah di daerah Walingi. “Launching akan dimulai 9 November 2015. Ini harus saya katakan rencana. Sedangkan target selesai proyek akhir 2018 dan masuk tahapan komersial di kuartal I 2019” ujar Sahala Lumban Gaol. Adapun tiket dikenakan untuk tiap penumpang sebesar 200 ribu rupiah.

Menteri BUMN Indonesia memiliki rencana ingin membangun rute keretanya disambung ke Cirebon juga bukan hanya sampai Bandung. Tentu Rini sebagai Menteri BUMN memiliki alasan tertentu mengenai pilihannya kepada Cina dibandingkan dengan Jepang. Proses pembangunan jalur keretanya lebih bersifat business to business (b to b) nantinya tidak menggunakan anggaran negara. Nilai lebihnya melalui kerjasama itu Cina berjanji akan transfer tekonologi serta penggunaan komponen lokal sebanyak 60 persen.

Pembangunan itu mampu menyerap tenaga kerja kisaran 39 ribu sampai 60 ribu orang sesuai dengan 60 persen dimana masyarakat Jawa Barat bisa berpartisipasi untuk pembangunannya. Jangka panjang adanya transfer teknologi diikuti dengan memperkerjakan masyarakat Jawa Barat berharap dapat membuat kereta cepat melalui komponen Indonesia sendiri.(668)