Duel Strategi Obama vs Putin di Suriah. Siapa Pecundang ?

AP Photo/Evan Vucci

Sudah dua pekan terakhir dunia disuguhi serangan dahsyat pesawat-pesawat jet tempur Rusia di Suriah dengan dalih memerangi ISIS dan kelompok teror lain yang membuat Amerika Serikat (AS) dan koalisinya marah. Suriah kini benar-benar jadi medan tempur dan medan duel strategi Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Barack Obama yang telah berseberangan.

Siapa pemenang dan pecundang dalam duel strategi perang di Suriah memang belum dipastikan sampai terlihat siapa yang bisa mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kelompok teror lain di Suriah.

AS dan koalisinya, terus menyudutkan dan meremehkan Rusia dalam agresi militernya di Suriah. Presiden Obama misalnya, menjelang agresi Rusia di Suriah sudah meremehkan Kremlin dengan alasan tujuan Rusia salah, yakni mendukung rezim Presiden Assad. Obama bahkan yakin strategi Putin ditakdirkan gagal.

”Strategi yang mereka kejar sekarang, dua kali lipat pada (Presiden Bashar al-) Assad, saya pikir adalah kesalahan besar,” kata Obama. ”Moskow harus mulai lebih cerdas sedikit,” lanjut Obama. Suara Obama ini digemakan para sekutu-sekutu AS, termasuk di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Turki yang terang-terangan menentang agresi Rusia karena menghendaki rezim Assad tumbang.

Namun, anehnya banyak suara di AS justru condong pada strategi Putin. Calon presiden Donald Trump misalnya, sudah beberapa kali berpihak pada Putin ketimbang pada Obama soal perang di Suriah. Para mantan pejabat Pentagon pun demikian. Yang mengejutkan, kalangan sipil seperti hasil jajak pendapat yang dilakukan Fox News, baru-baru ini menilai strategi Putin lebih unggul ketimbang Obama.

Namun, kubu Obama tak mau ambil pusing dengan suara-suara miring yang meremehkannya. Sejak Rusia meluncurkan agresi di Suriah, koalisi AS setidaknya telah melakukan “serangan propaganda” untuk menguatkan citra bahwa pihak mereka yang seolah-olah benar dan menang dalam perang di Suriah.

Propaganda Kotor 
Berbagai “serangan propaganda” itu antara lain, pertama serangan awal jet-jet tempur Rusia yang dituduh menewaskan banyak warga sipil Suriah. Presiden Putin heran, karena data korban warga sipil yang tewas itu sudah muncul lebih dulu sebelum pesawat-pesawat jet tempur Kremlin lepas landas dan meluncurkan serangan.

“Serangan propaganda” kedua, berupa tuduhan empat rudal jelajah Rusia yang ditembakkan kapal-kapal perang Rusia dari Laut Kaspia jatuh di Iran. Kremlin pun menertawakan tuduhan yang awalnya dari sumber pejabat AS dalam kondisi anonim. Kremlin menegaskan 26 rudal jelajah Rusia mengenai targetnya yakni basis-basis ISIS di Suriah.

“Serangan propaganda” ketiga berupa tuduhan drone Rusia ditembak jatuh pesawat jet tempur Turki. Tuduhan kali ini dibantah Rusia dan menunjukkan data bahwa semua peralatan penerbangan Kremlin yang beroperasi di Suriah kembali ke pangkalan dalam kondisi utuh. Kementerian Pertahanan Rusia menilai, rentetan tuduhan dari koalisi AS itu merupakan informasi “kotor” dan sudah termasuk kategori provokasi.

Analis terkemuka Profesor Clive Williams dari Pusat Studi Kebijakan Intelijen dan Terorisme Universitas Macquarie, mengatakan kepada news.com.au, Selasa (20/10/2015), bahwa diakui atau tidak dukungan militer Rusia telah membantu tentara rezim Suriah memperoleh kemajuan di beberapa daerah yang diperebutkan. ”Jelas, itu telah membuat perbedaan bagi mereka,” katanya.

Pengakuan Obama  

Dia menilai dukungan serangan udara Rusia berhasil membuat Suriah memukul mundur kelompok ISIS di wilayah tengah dan barat daya. Williams mengatakan itu, secara logika lebih baik bagi rezim Assad tetap berada di kekuasaan, ketimbang alternatif yang ada seperti kelompok ISIS atau al-Nusra yang menang.

”Kami tahu apa kemampuan ISIS, mereka jelas kejam dan jelas mereka memiliki agenda untuk mendominasi kelompok oposisi Suriah lainnya,” katanya. Pendapat Williams ini sinkron dengan pengakuan Obama bahwa pasukan oposisi moderat Suriah yang didukung AS tidak mau melawan ISIS dan hanya fokus melawan tentara Assad. Padahal, klaim AS dan Rusia berperang di Suriah adalah memerangi ISIS.

”Amerika benar-benar tidak memiliki strategi, tetapi Rusia jelas,” katanya, mengacu pada strategi Kremlin yang bertujuan mendukung rezm Assad dan kepentingan strategis Rusia di negara itu.

Williams juga menganalisis serangan AS terhadap ISIS di Irak selama setahun yang dia anggap tidak banyak perbedaan. Menurutnya, pasukan Irak yang didukung AS memiliki pemimpin yang korup dan motivasi buruk. Militer Irak, kata dia, tidak mampu membuat kemajuan dalam melawan ISIS.  “Mereka mengandalkan Kurdi untuk melakukan pertempuran darat dan mereka benar-benar hanya tertarik dalam membangun negara mereka sendiri,” kritik Williams.

Sindonews.com