Geramnya AS Mendengar Kunjungan Assad ke Rusia

Kunjungan Presiden Suriah Bashar al Assad ke Rusia disambut Vladimir Putin (Reuters)

Washington – Gedung Putih mengecam keras kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Moskwa pada Rabu (21/10/2015). Seorang juru bicara AS mengecam Rusia karena menyambut Assad dengan “karpet merah”.

Kunjungan pemimpin Suriah pada hari Selasa itu dilakukan tiga minggu setelah Rusia memulai serangan udara di Suriah melawan kelompok militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS serta pasukan lainnya. [Baca juga:

Ini merupakan kunjungan pertama Assad ke luar negeri sejak perang saudara pecah pada tahun 2011. Konflik ini menelan korban lebih dari seperempat juta jiwa.

Hari ini, satu tim anggota parlemen Rusia akan bertemu dengan Presiden Assad dan ketua parlemen Suriah di Damaskus.

Saat berada di Moskow, Assad mengucapkan terima kasih atas intervensi militer Rusia dalam konflik di negaranya.

Ia mengatakan keterlibatan Rusia telah membantu menghentikan “terorisme” menjadi “lebih tersebar dan berbahaya” di Suriah.

Dari pihak Rusia, Presiden Putin mengatakan harapan Moskwa adalah “resolusi jangka panjang dapat tercapai dengan dasar adanya proses politik dengan partisipasi dari semua kekuatan politik, etnis dan kelompok agama”.

Wartawan BBC Steve Rosenberg di Moskwa mengatakan bahwa dengan menerima kunjungan pemimpin Suriah itu, Presiden Putin mengirimkan pesan yang jelas ke Barat bahwa Moskow merupakan pemain utama di Timur Tengah dan tidak akan ada jalan keluar bagi konflik Suriah tanpa keterlibatan Rusia.

Assad Ucapkan Terima Kasih

Kedatangannya disambut hangat oleh Presiden Vladimir Putin. Ini adalah kunjungan Assad ke luar negeri pertama kali semenjak perang pecah pada tahun 2011. Maksud tujuan Assad ke Rusia tak lain adalah mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan pihak Moskow yang telah melakukan serangan udara ke Suriah.

Rusia melakukan serangan udara tiga minggu lalu, mengklaim demi melibas ISIS yang nyaris menguasai sebagian besar Suriah. Namun, koalisi yang dipimpin AS berpikir lain. Dukungan militer Rusia, selain memang ingin membasmi ISIS, diduga juga untuk menekan lawan-lawan politik Assad.

“Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari kepemimpinan Federasi Rusia yang telah diberikan kepada kami di Suriah,” tulis pernyataan kantor kepresidenan Rusia, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (21/10/2015).

“Kalau bukan karena aksi dan keputusan Rusia, teroris yang telah menguasai negeri akan lebih menyebar lagi,” tulis pernyataan itu lagi.

ISIS diketahui menguasai hampir 40 persen wilayah Suriah.

Putin berharap bahwa kemajuan aksi militer dapat membawa iklim positif solusi politik Suriah. Dalam sebuah siaran TV pemerintah Moskow, terlihat Assad berbalut jas gelap berbicara dengan Putin yang didampingi menlu serta menteri pertahanan.

Intervensi Rusia ke Suriah kali ini adalah misi yang terbesar di Timur Tengah semenjak 1991.

Sumber : BBC Indonesia dan Liputan6.com