Satu Tahun Jokowi, Ekonomi Indonesia.

Satu tahun pemerintahan Indonesia dijalankan oleh Joko Widodo-Jusuf Kalla langsugn berhadapan dengan terganggunya ekonomi global berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Adapun dampak dirasakan oleh masyarakat luas khususnya kalangan bawah, mulai dari melonjaknya harga kebutuhan pokok, lemahnya kurs rupiah terhadap dollar, serta fluktualisasi harga BBM.

Berbagai kebijakan sudah dilakukan oleh pemerintahan Jokowi akan tetapi belum menuai hasil positif. Kepuasan publik akan kinerja Jokowi selama tiga triwulan sebelumnya pasti terendah jika dibandingkan dengan bidang politik, hukum, dan bdiang lainnya. Ini merupakan tugas berat untuk pemerintahan Jokowi karena selama satu tahun ini bisa dijadikan salah satu barometer untuk mengukur tingkat keberhasilan atau tidaknya dari seorang presiden.

Sebesar 41,7 persen publik mnyatakan puas terhadap kinerja pemerintah Jokowi di bidang ekonomi. Sedangkan pada triwulan kedua mencapai 37,5 persen tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi serta dikatakan sebagai persentasi terendah dalam setahun terkahir ini.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika merupakan puncak ketidakpuasan publik. Kurs rupiah melemah hingga mencapai 14.000 rupiah per dollar Amerika pada minggu ketiga Agustus-awal Oktober 2015. Berdasarkan laporan bersumber dari arsip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah sudah mengalami titik rendahnya pada 29 September, yaitu 14.728 rupiah per dollah Amerika.

Kemudian, naiknya harga kebutuhan pokok sebagai dampak dari fluktualisasi harga BBM juga disesali oleh sebagian besar masyarakat. Harga barang impor pun mengalami kenaikan harga bersamaan dengan kenaikan harga daging sapi, ayam, dan lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bahan makanan, makanan jadi, minuman, dan tembakau pada Agustus 2015 lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi Agustus 2014.

Sementara itu masih dengan sumber yang sama pada September 2015, Inflasi karena pengeluaran untuk kebutuhan sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan olahraga lebih tinggi dibandingkan dari September 2014. (668)