Produsen Satelit Dunia Kaget Ada Bank Bisa Beli Satelit

Jakarta – Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berbagi cerita perihal pembelian satelit dari produsen asal California Amerika Serikat (AS), Space System/Loral, LCC (SSL). Saat melakukan pembelian, sang produsen sempat bertanya-tanya.

Alasannya, belum ada pembeli satelit di dunia yang berlatar belakang perusahaan jasa keuangan seperti perbankan.

“Tempat pesan satelit, SSL di Amerika pun juga menanyakan. Kita (SSL) biasanya membuat satelit dan belum pernah jual untuk pihak perbankan,” kata Corporate Secretary BRI, Hari Siaga di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Kamis (22/10/2015).

Meski muncul pertanyaan sebagai bank pertama di dunia yang membeli dan memiliki satelit, BRI tetap memiliki alasan kuat. BRI yang memiliki kantor layanan sampai pelosok negeri, ingin memperkuat jaringan perbankan online.

Bila menggunakan kabel optik, biayanya relatif mahal untuk menjangkau belasan ribu pulau-pulau di Indonesia.

“Kenapa BRI harus pesan satelit dan bank pertama di dunia punya satelit? Indonesia negara kepulauan. Kantor kita tersebar sampai pelosok negari. Enggak mungkin fiber optik. Bisa tapi biaya mahal. Paling memungkinkan adalah teknologi satelit karena bisa menjangkau perbatasan dan pulau terpencil. Kita layak? Customer kita 50 juta dan jaringan kerja luas sehingga perlu itu,” jelasnya.

Rencananya, satelit BRI akan diluncurkan pada bulan Juli 2016. Tiga bulan berikutnya, satelit bisa beroperasi. Untuk mendukung pengoperasian, BRI telah mengirimkan 15 orang pegawai untuk belajar pengelolaan satelit ke Amerika Serikat.

“Itu beberapa bagian, ada operate satelit, ada monitor satelit. Nanti pusat operasi ada di Ragunan Jakarta dan Tabanan Bali,” jelasnya.

Terkait pemakaian kapasitas satelit, BRI tidak akan menyewakan space atau slot pada satelit yang dibeli. Bila ada kelebihan ruang maka BRI akan menyerahkannya kepada pemerintah, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

“Namanya BRI, perbankan nggak boleh menjual slot-nya yang ke pihak lain. Kalau lebih, kita beri slot ke negara. Nanti negara yang bagi apakah untuk pendidikan sampai pertahanan,” jelasnya.

Finance.Detik.com